Wartain.com – Suasana malam dengan aroma arabika dan robusta mengalir hangat di C’Kopi Gaud Sukabumi. Di bawah pendar lampu yang temaram, sebuah obrolan mengalir tanpa sekat.
Duduk melingkar beberapa tokoh pemikir dan penggerak media Sukabumi: Kang Aves (Penasehat PWI Kabupaten Sukabumi sekaligus pemilik C’Kopi Gaud), H. Rahmat (Tokoh pers senior dan Penasehat PWI), Aam Abdul Salam (Presidium MD KAHMI Sukabumi serta Penasehat SMSI & PWI Kabupaten Sukabumi), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), dan Siti Ratna Maymunah CEO Wartain.com juga Bendahara SMSI Sukabumi Raya.

Pertemuan diakusi ini bukan sekadar kongko biasa, melainkan sebuah ruang kontemplasi budaya, ekonomi, filosofi, hingga spiritualitas untuk membedah masa depan daerah.
Secara filosofis, kopi mengajarkan kita bahwa rasa pahit dan manis bisa berpadu menjadi kenikmatan jika diracik dengan tepat. Begitu pula dengan realitas kemasyarakatan.
Diskusi malam sepakat bahwa kemajuan Kabupaten Sukabumi harus dimulai dari gerakan penyadaran pola pikir (mindset). Potensi alam yang melimpah tidak akan berdampak tanpa adanya kesadaran kolektif.
Narasi bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah percikan spiritual yang menghidupkan jiwa, mengubah cara pandang, dan menggerakkan manusia untuk berbuat lebih baik bagi tanah kelahirannya.
Narasi Kebudayaan untuk Menggerakkan Ekonomi lokal
Dari kacamata budaya dan ekonomi, Sukabumi memiliki modal sosial yang sangat besar. Gerakan narasi yang positif dan konstruktif menjadi kunci utama untuk membuka gerbang kemajuan pada tiga sektor krusial:
Investasi : Membangun citra wilayah yang ramah, aman, dan potensial bagi para investor.
Pariwisata : Menarasikan keindahan alam Sukabumi dengan potensi Gurilaps (Gunung, Rimba, Laut, Pantai, Sungai/Seni-budaya) bukan sekadar singkatan. Ini adalah sebuah manifesto ruang hidup. Secara filosofis dan spiritual, Gurilaps adalah bukti keharmonisan alam semesta yang dianugerahkan Tuhan kepada Sukabumi. Tugas gerakan narasi saat ini adalah mengubah keindahan visual ini menjadi sebuah “panggilan jiwa” bagi para pelancong, sekaligus motor penggerak ekonomi kerakyatan, sebagai ruang rekreasi yang menyembuhkan jiwa (spiritual tourism).
UMKM : Mengangkat produk lokal lewat cerita (storytelling) yang kuat agar memiliki nilai jual tinggi di pasar digital.
Para tokoh pers dan penggiat literasi yang hadir menegaskan bahwa membangun narasi pencerahan adalah tugas suci para jurnalis. Melalui tulisan jurnalistik yang tajam, kritis, namun tetap mencerahkan, media berkewajiban mengawal dan mensukseskan visi Mubarakah yang diusung oleh Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi.
Pers tidak boleh sekadar menjadi pengamat, melainkan harus menjadi mitra strategis yang menjembatani program pemerintah agar dipahami dan didukung sepenuhnya oleh masyarakat luas.
Tantangan Menghadapi Geopolitik Global
Obrolan bergeser ke arah yang lebih makro dan strategis. Di tengah situasi dunia yang didera konflik global, ketahanan masyarakat ekonomi lokal harus diperkuat agar selaras dengan program pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Negara saat ini menghadapi tantangan nyata dari gempuran mafia oligarki hitam serta segelintir elit politik yang sakit hati dan tidak ingin pemerintahan saat ini berhasil.
Di sinilah narasi nasionalisme dari daerah seperti Sukabumi harus menjadi benteng pertahanan informasi. Tulisan yang waras dan mencerdaskan adalah senjata utama untuk melawan hoaks, adu domba, dan upaya sistematis yang ingin membuat Indonesia terpuruk.
Malam semakin larut di C’Kopi Gaud, namun semangat yang menyala dari diskusi tersebut justru baru dimulai. Dari meja kopi kecil di Sukabumi, sebuah gerakan narasi besar siap digulirkan demi menjaga kedaulatan bangsa dan memajukan tanah daerah. (Rd.Ratu Dinar Nusantara)***
Editor : AS
