Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com – Ma’rifatullah merupakan pilar epistemologis dan ontologis paling mendasar dalam bangunan keimanan Islam. Diskursus mengenai hakikat Ketuhanan kerap berbenturan dengan keterbatasan bahasa dan rasio manusia ketika mengartikulasikan “Siapa” yang berada di balik nama Allah. Penulisan ilmiah ini bertujuan untuk mengupas secara mendalam hakikat Wujud Pemilik Nama Allah, alasan teologis di balik pemilihan nama tersebut sebagai nama teragung (Ism al-A’dzam), serta rahasia dan keistimewaan struktural maupun metafisik nama Allah dibandingkan dengan Asmaul Husna lainnya. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-sintetis terhadap teks-teks Al-Qur’an, Hadis Nabawi, Hadis Qudsi, serta intuisional-analitis dari doktrin para ‘Arif Billah (tokoh tasawuf dan metafisika Islam).
Hasil kajian menunjukkan bahwa nama Allah bukanlah sekadar sebutan linguistik, melainkan Ism adz-Dzat yang merangkum seluruh Sifat, Af’al, dan Kamal-Nya, yang dipilih langsung oleh Zat Yang Maha Wujud sebagai media pengenalan Diri (Ta’aruf) yang paling mutlak kepada makhluk-Nya.
Pendahuluan
Dalam metafisika Islam, pertanyaan mengenai “Siapa Allah” bukan sekadar pertanyaan teologis normatif, melainkan pencarian ontologis terhadap Sumber Wujud yang Mutlak. Ketika seseorang menyebut nama “Allah”, timbul pertanyaan mendasar secara epistemologis: Apakah Allah itu adalah Zat itu sendiri, ataukah sekadar nama (ism) yang menunjuk pada Pemilik Nama (al-Musamma)?
Sering kali manusia terjebak pada simbol linguistik tanpa memahami Wujud yang diisyaratkan oleh simbol tersebut. Padahal, berjalannya Ad-Din dan penegakan Syariat sangat bergantung pada sejauh mana seorang hamba mengenal Sang Pembuat Hukum (al-Hakim).
Tulisan ini mengurai secara mendalam rahasia nama Allah, kedudukan ontologis Wujud Pemilik Nama tersebut, serta keistimewaan unik yang melingkupi nama teragung ini berdasarkan perpaduan wahyu (dalil naqli) dan kearifan spiritual para saintis batin (‘Arif Billah).
1. Hakikat Wujud Pemilik Nama Allah: Antara Ism dan Musamma.
Untuk memahami siapa Wujud di balik nama Allah, para ulama mutakallimin dan ‘Arif Billah membedakan antara tiga entitas konseptual: al-Ism (Nama), al-Ismiyyah (Penamaan), dan al-Musamma (Yang Dinamai).
Secara etimologis, kata Allah (الله) menurut pendapat mayoritas ulama seperti Imam Sibawaih dan Al-Khasy-syab, berakar dari kata Al-Ilah (الإله). Imbuhan Al- (alif-lam ma’rifah) yang melekat padanya bersifat Lāzim (pasti/permanen) untuk menunjukkan pengkhususan mutlak (al-Iktishas), sehingga maknanya mengecil dari “tuhan yang disembah” secara umum menjadi “Satu-satunya Wujud Yang Berhak Disembah”.
Namun, pada tataran hakikat (haqiqah), para ‘Arif Billah—seperti Sheikh Ibn ‘Arabi dan Imam Al-Ghazali—menjelaskan bahwa kata Allah adalah Ism adz-Dzat (Nama bagi Dzat Mutlak). Wujud Pemilik Nama Allah adalah Wajib al-Wujud bi Dzatihi (Wujud yang Keberadaan-Nya Mutlak dan Wajib dari Diri-Nya Sendiri, tidak membutuhkan selain-Nya, sementara selain-Nya butuh kepada-Nya).
Al-Qur’an menegaskan identitas Wujud ini dalam Surat Thaha:
”Sungguh, Aku inilah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14).
Dalam ayat ini, Allah SWT menggunakan frasa Innanī Anāllāh (“Sungguh, Aku inilah Allah”). Kata “Aku” (Ana) adalah Dzat Yang Maha Wujud, sedangkan “Allah” adalah Nama yang Dia sematkan pada Diri-Nya sendiri untuk dikenali oleh makhluk. Pemilik nama Allah adalah Dzat yang Tidak Terbatas (La Mahdud), Tidak Terjangkau oleh Prasangka Rasional (La Tundrikuhul Absar), namun Menyatakan Diri-Nya melalui Nama-Nya.
2. Alasan Pemilihan Nama Allah di Antara Nama-Nama Lainnya.
Mengapa Tuhan memilih nama Allah sebagai nama utama-Nya, sementara Dia memiliki banyak nama indah (Asmaul Husna) lainnya seperti Ar-Rahman, Al-Malik, atau Al-Quddus?.
A. Ism adz-Dzat vs Ism as-Sifat.
Nama-nama seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih) atau Al-Alim (Maha Mengetahui) adalah Ism as-Sifat (Nama yang menunjuk pada Sifat spesifik). Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang; Al-Alim menunjukkan sifat ilmu. Namun, nama Allah adalah Ism adz-Dzat al-Jami’ (Nama Dzat yang Merangkum Seluruh Sifat).
Ketika kita menyebut Ar-Rahman, kita sedang memanggil Sifat Kasih-Nya. Namun ketika kita menyebut Allah, kita sedang memanggil Dzat yang Memiliki Kasih, Keperkasaan, Kerajaan, Kebijaksanaan, dan seluruh Sifat Kesempurnaan-Nya tanpa terkecuali.
B. Penyandaran Nama-Nama Lain Kepada-Nya.
Dalam Al-Qur’an, seluruh Asmaul Husna selalu disandarkan (na’at/sifat) kepada nama Allah, dan tidak pernah sebaliknya. Al-Qur’an menyatakan:
”Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Milik-Nyalah Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Thaha: 8).
“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asmaulhusna…'” (QS. Al-Isra’: 110).
Kita dapat mengatakan, “Ar-Rahman adalah salah satu nama Allah,” tetapi kita tidak pernah mengatakan, “Allah adalah salah satu nama Ar-Rahman.” Ini membuktikan secara linguistik dan teologis bahwa nama Allah adalah poros (qutub) dari seluruh manifestasi Nama dan Sifat Ketuhanan.
3. Rahasia Metafisik: Hadis Qudsi dan Tujuan Pengenalan Diri (Ta’aruf).
Mengapa Wujud yang Mutlak itu memperkenalkan Nama-Nya kepada makhluk? Rahasia ini tersirat mendalam dalam sebuah Hadis Qudsi yang sangat masyhur di kalangan ‘Arif Billah:
”Aku pada mulanya adalah Perbendaharaan yang Tersembunyi (Kanzan Makhfiyyan), lalu Aku rindu/suka untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku.”
Dalam perspektif metafisika Sufi, penciptaan alam semesta adalah proses Tajalli (penampakan/manifestasi Dzat melalui Nama dan Sifat-Nya). Dzat Allah pada maqam Ahadiyyah (Ke-Esa-an Mutlak) adalah gaib dari segala persangkaan. Agar Dzat ini dapat disembah dan dijangkau oleh kesadaran hamba, Dia bertajalli pada maqam Wahdiyyah dengan menamai Diri-Nya Allah.
Nama Allah adalah jembatan epistemologis (Wasilah) yang memungkinkan makhluk terhubung dengan Sang Pencipta. Tanpa adanya Nama Allah yang diwahyukan, manusia akan tenggelam dalam kehampaan konseptual (ta’thil) atau terjebak dalam penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tasybih).
4. Keistimewaan Unik Nama “Allah” Menurut Struktur Linguistik dan Ruhaniah.
Para ahli hikmah dan ‘Arif Billah menyingkap berbagai keistimewaan luar biasa yang hanya dimiliki oleh nama Allah, baik dari segi kontruksi huruf maupun makna spiritualnya:
A. Keutamaan Struktur Huruf (Konstruksi Anatomi Lafadz).
Lafadz Allah (الله) terdiri dari huruf Alif, Lam pertama, Lam kedua, dan Ha (Ha’ al-Kinayah). Keistimewaan struktural nama ini adalah: jika huruf-hurufnya digugurkan satu per satu dari depan, maknanya tetap merujuk pada Dzat Allah SWT dan tidak pernah kehilangan esensi Ketuhanannya.
Jika huruf Alif dibuang, maka tersisa Lillāh (لِلَّهِ), yang artinya “Milik Allah” (QS. Al-Baqarah: 284).
Jika huruf Lam pertama dibuang, maka tersisa Lahū (لَهُ), yang artinya “Bagi-Nya” (QS. Ali ‘Imran: 83).
Jika huruf Lam kedua dibuang, maka tersisa Hū / Huwa (هُوَ), yang artinya “Dia” (QS. Al-Ikhlas: 1).
Tidak ada satu pun nama di dunia ini—baik nama makhluk maupun nama-nama Tuhan lainnya—yang memiliki keajaiban linguistik-metafisik seperti ini. Setiap reduksi huruf pada lafadz Allah justru menegaskan Tauhid.
B. Ism al-A’dzam dalam Sunnah Nabawi.
Dalam beberapa riwayat hadis shahih, Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa Allah adalah Ism al-A’dzam (Nama Allah yang Paling Agung), yang jika seseorang berdoa dengannya, doanya akan dikabulkan.
Dari Buraidah RA, bahwasanya Rasulullah SAW mendengar seorang laki-laki berdoa:
”Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, Tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.”
Maka Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan Nama-Nya Yang Paling Agung (Ism al-A’dzam), yang apabila Dia menyeru dengannya pasti dikabulkan, dan apabila memohon dengannya pasti diberikan.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibn Majah).
C. Nama yang Khusus dan Tidak Bisa Dibagikan (Ghayr Musytarak).
Nama-nama lain seperti Az-Zahir atau Al-Batin, atau bahkan Ar-Rahim, secara metaforis kadang dihubungkan dengan sifat manusia (seperti menyebut manusia yang penyayang dengan rahim). Namun, nama Allah secara absolut mutlak milik-Nya. Tidak pernah ada dan tidak akan pernah boleh ada makhluk yang dinamai Allah.
Al-Qur’an menantang manusia:
”Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut memiliki nama-Nya)?” (QS. Maryam: 65).
Penutup
Ma’rifatullah yang sejati berakar pada pemahaman bahwa nama Allah bukanlah sekadar kata, melainkan puncak manifestasi pengenalan Diri (Ta’aruf) Sang Pencipta kepada hamba-Nya. Wujud Pemilik Nama Allah adalah Dzat Yang Maha Ada, Maha Esa, dan Maha Sempurna, yang keberadaan-Nya mendahului segala sesuatu dan melingkupi seluruh realitas.
Ditinjau dari perspektif Al-Qur’an, Hadis, dan pencerahan para ‘Arif Billah, pemilihan nama Allah sebagai Ism adz-Dzat dan Ism al-A’dzam menyimpan rahasia keagungan yang tidak tertandingi: nama ini merangkum seluruh Sifat Kesempurnaan-Nya, memiliki keajaiban struktur metafisik, serta menjadi kunci utama terbukanya kesadaran spiritual manusia. Mengenal Allah melalui nama-Nya yang teragung adalah awal mula dari berjalannya Ad-Din secara holistik dan penegakan Syariat secara penuh khusyuk dan penghayatan.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
