26.7 C
Jakarta
Minggu, April 6, 2025

Latest Posts

Anomali Politik Elektoral, Demokrasi ala Indonesia?

Oleh: Gin gin Akil (Pimred Wartain.com)

Sebagai warga negara, hak politik saya untuk mendukung salah satu Capres-Cawapres Indonesia 2024, hingga menjadi anggota WAG (Whatsapp Group) eksklusif untuk relawan pasangan kandidat pilihan.

Sekalipun tidak sangat aktif memposting konten atau komentar, kebiasaan membaca dan mengamati dinamika WAG adalah kegiatan rutin saat senggang (Sekitar 60 beragam WAG yang diikuti, bikin RAM HP kerja keras dan cukup menguras batere).

Hari hari menjelang pilpres setelah penetapan, lalu lintas ratusan pesan berseliweran, beberapa WAG yang beranggotakan lintas pendukung, isinya antar anggota saling menimpali, memuat berita, survey, artikel, black campaigne, meme, stiker, perspektif dan analisa pribadi pendukung dari calon yang didukung atau yang tidak didukung. Ada perdebatan, saling hujat sampai tantangan berjudi atau taruhan, dengan konten yang serius, emosional, lucu lucuan, sok ilmiah, mistik, intrik dan hoax. Konten yang sama kadang tersebar di WAG berbeda.

Sampai tulisan ini dibuat, konten yang berisi pujian, historical track, caci maki, tendensius, saling menyudutkan, membeber aib, kritik pedas (entah benar, faktual atau ngarang, atau bahkan fitnah), lebih banyak tersebar dari pada program unggulan kandidat.

Disini hal yang menarik dalam pengamatan, salah satu kandidat, sepertinya membiarkan serangan dan bahkan dengan sikap dan bahasa yang halus, tanpa menyerang atau sibuk mengklarifikasi sengaja “ngalelewe” (mencibir) supaya makin dihujat dan diserang. Entah Ilmu sihir apa yang dipakainya. Sebagai pasangan kandidat yang diuntungkan oleh keputusan dan situasi kontroversial, hasil survey yang dilakukan beberapa lembaga survey, malah makin menunjukan kedigjayaannya.

Anomali memang, karena citra tidak semakin bagus, datar saja, tapi simpati kepada sang pasangan kandidat nampaknya semakin menguat, dan jelas mereka bukan korban, tapi mereka adalah penguasa.

Bahkan di WAG relawan pendukung kandidat tertentu, terjadi perdebatan keras hingga saling menghina dan menghujat secara emosional diantara sesama anggota WAG. Wow, kawan sepilihan saja bisa jadi konflik karena beda mensikapi lawan.

Pilpres periode ini menjadi berbeda sekali. Penuh kejutan, sekalipun suasana tanpa polaritas seperti pilpres lima tahun lalu, tapi malah makan hati dan makan korban, bayangkan dari mereka yang sebelumnya sejalan dan dalam gerbong kekuasaan yang sama, tiba tiba menjadi pesaing yang berhadapan dengan sengit.

Begitulah anomali politik elektoral periode ini, sepertinya betul kata presiden, jangan baperan, terutama bagi kita yang memilih. Bagi saya, sebagai jurnalis dan bagian dari komunitas gerakan kebudayaan (yang memiliki latar belakang kepentingan jangka panjang yang harus diselamatkan), akan berpegang kepada hal yang lebih penting daripada sekedar momen politik elektoral ini. Syukur syukur (memang seharusnya, dalam perspektif pribadi) kandidat yang didukung menang, kalaupun tidak, membangun kebutuhan informasi publik & kekuatan kolektif untuk tujuan yang masih jauh didepan, adalah prioritas yang harus diselamatkan.

Tapi setidaknya, sebagai prinsip pribadi, saya akan menolak kandidat yang didukung kaum intoleran dan penjual agama yang bercokol didalamnya.

Bandung, 21 November 2023

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.