Wartain.com || Aksi unjuk rasa menolak Undang-Undang TNI di depan kantor DPRD Kota Sukabumi pada Senin (24/3/2025) berujung bentrok antara massa dan aparat kepolisian. Demonstrasi yang digelar oleh Gerakan Mahasiswa Sukabumi ini semula berlangsung damai sebelum akhirnya memanas setelah massa melemparkan cat ke arah polisi.
Situasi semakin tak terkendali ketika aparat kepolisian membubarkan massa menggunakan water cannon. Para demonstran berlarian, dan dalam kekacauan tersebut, beberapa orang mengalami luka-luka, termasuk dua mahasiswa dan satu anggota polisi.
Ketiga korban kemudian dilarikan ke RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi untuk mendapatkan perawatan. Menurut keterangan dokter IGD sekaligus Humas RSUD, dr. Irfanugraha Triputra Irawan, dua mahasiswa berinisial MD (21) dan MZ (21), serta seorang anggota kepolisian berinisial R (37), mengalami luka dengan tingkat keparahan berbeda.
“Salah satu mahasiswa hanya mengalami luka ringan dan sudah diperbolehkan pulang. Sementara satu mahasiswa lainnya diduga mengalami retak pada tulang hidung akibat benturan dan kemungkinan pemukulan oleh aparat. Sedangkan anggota polisi mengalami patah tulang di lengan kiri setelah terjatuh dan terinjak,” jelas dr. Irfanugraha.
Hingga Senin malam, mahasiswa yang mengalami dugaan patah hidung dan anggota polisi yang patah lengan masih menjalani perawatan intensif. Tim medis mempertimbangkan tindakan operasi untuk keduanya, meskipun kondisi mereka tidak dalam kategori gawat.
Menanggapi kejadian ini, Ketua DPRD Kota Sukabumi, Wawan Juanda, menyatakan akan menanggung biaya pengobatan mahasiswa yang mengalami cedera serius.
“Tanggung jawab saya sebagai pimpinan DPRD untuk memastikan mahasiswa yang datang ke sini dalam keadaan aman. Maka dari itu, biaya pengobatan korban ini akan kami tanggung,” ujar Wawan.
Sementara itu, Kapolres Sukabumi Kota AKBP Rita Suwadi menyampaikan bahwa pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan medis terhadap para korban, baik dari pihak kepolisian maupun mahasiswa.
“Kami akan memastikan semua korban, baik anggota kami maupun mahasiswa, mendapatkan perhatian yang sama. Saat ini, kami masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dari rumah sakit,” kata AKBP Rita.
Aksi demonstrasi yang berujung bentrok ini menambah daftar panjang ketegangan antara mahasiswa dan aparat dalam berbagai aksi unjuk rasa di Indonesia. Investigasi lebih lanjut masih diperlukan untuk mengungkap kronologi pasti insiden tersebut serta memastikan langkah-langkah penyelesaian yang adil bagi semua pihak.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
