26.7 C
Jakarta
Minggu, Oktober 18, 2026

Latest Posts

Dinkes Sukabumi Temukan Bakteri E. coli di Air dan Peralatan Makan SPPG Gunungguruh

Wartain.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi menemukan cemaran bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air sumur dan sejumlah peralatan makan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunungguruh Cikujang 1, yang diduga berkaitan dengan kasus keracunan massal usai konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Gunungguruh.

SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Inti Mandiri Nusantara tersebut menjadi salah satu lokasi penyelidikan epidemiologi dan kesehatan lingkungan setelah muncul laporan dugaan keracunan makanan pada Rabu (7/10/2026).

Kepala Dinkes Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengatakan laporan diterima pada pukul 09.14 WIB. Tim kemudian melakukan pemeriksaan terhadap kondisi sanitasi, fasilitas pengolahan makanan, serta menelusuri gejala yang dialami para penerima manfaat.

Dari hasil pendataan, tercatat 212 orang mengalami gejala yang mengarah pada keracunan makanan. Sebanyak lima orang sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Namun, seluruh penerima manfaat yang mengalami gejala dilaporkan telah sembuh.

“Dari 212 kasus, 204 kasus merasakan gejala sakit perut (96,23%), 184 kasus merasakan gejala diare (86,79%) dan 159 kasus merasakan gejala perut melilit (75%),” ujar Masykur, Minggu (18/10/2026).

Tim investigasi turut menelusuri menu MBG yang dikonsumsi para siswa dan guru. Berdasarkan keterangan yang dihimpun melalui wawancara serta observasi terhadap penderita, menu yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut terdiri atas dimsum mentai, kentang atau potato wedges, tumis kol, susu UHT rasa vanila, dan kelengkeng.

Menu itu diketahui datang pada Jumat (2/10/2026) sekitar pukul 10.00 WIB dan dikonsumsi pada pukul 12.30 WIB.

“Setelah dilakukan Penyelidikan Epidemiologi dengan metode wawancara dan observasi pada penderita (guru/siswa) didapatkan keterangan bahwa dimsum mentai dan kentang (potato wedges) memiliki kondisi tidak matang, berbau, rasa asam dan berlendir,” ungkapnya.

Meski demikian, Dinkes tidak dapat menguji sampel makanan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut. Sampel tidak lagi tersedia ketika laporan diterima karena bank sampel hanya menyimpan makanan selama 2 x 24 jam.

Sebagai alternatif, tim mengambil sampel air dan melakukan usap pada peralatan makan pada 8 Oktober 2026. Sampel tersebut selanjutnya dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Sukabumi pada 9 Oktober 2026.

“Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya cemaran bakteri E. coli pada air bersih sumur dan peralatan makan di SPPG Gunungguruh Cikujang 1 Yayasan Inti Mandiri Nusantara,” kata Masykur.

Hasil pemeriksaan menunjukkan air sumur mengandung bakteri E. coli dengan hasil tercatat positif (+100), sedangkan nilai ambang batas yang dipersyaratkan adalah nol. Air tersebut diketahui digunakan untuk mencuci peralatan makan.

Kontaminasi juga ditemukan pada sejumlah perlengkapan dapur. Hasil uji usap menunjukkan keberadaan E. coli pada pisau dengan nilai +17, talenan +18, serta ompreng atau wadah makan dengan nilai +111. Seluruh hasil tersebut melampaui standar baku mutu kesehatan lingkungan berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023.

Sementara itu, sampel air minum dari depot isi ulang dinyatakan negatif atau tidak terdeteksi mengandung bakteri E. coli.

Selain temuan laboratorium, pemeriksaan terhadap fasilitas SPPG juga mengungkap sejumlah kekurangan dalam penerapan sanitasi dan keamanan pangan. Dari 50 orang penjamah makanan, baru 20 orang yang memiliki sertifikat Pelatihan Keamanan Pangan (PKP).

Petugas juga mendapati water heater untuk mencuci peralatan makan tidak berfungsi. Fasilitas sterilisasi peralatan makan belum tersedia, pengukuran suhu ruangan belum dilakukan, dan lembar pemeriksaan suhu belum tersedia.

SPPG tersebut juga dinilai belum memenuhi kewajiban pemeriksaan berkala setiap tiga bulan, meliputi pengujian sampel air dan makanan serta inspeksi kesehatan lingkungan sesuai ketentuan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Temuan lainnya berkaitan dengan kepatuhan penjamah makanan terhadap standar operasional prosedur (SOP), mulai dari penerimaan bahan pangan hingga proses pengolahan dan pendistribusian makanan.

Menindaklanjuti hasil pemeriksaan itu, Dinkes Kabupaten Sukabumi merekomendasikan penghentian penggunaan air sumur untuk pengolahan makanan dan kegiatan sanitasi. SPPG diminta beralih menggunakan air dari depot isi ulang yang memiliki SLHS dan telah memenuhi persyaratan hasil pemeriksaan laboratorium.

Seluruh relawan dan penjamah makanan juga diminta mengikuti Pelatihan Keamanan Pangan. Selain itu, pengelola harus memperbaiki water heater, menyediakan dan mengoperasikan alat sterilisasi ompreng, melengkapi alat pengukur suhu, serta memastikan grease trap atau perangkap lemak berfungsi dengan baik.

Pengawasan terhadap penggunaan alat pelindung diri (APD), kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun di bawah air mengalir, serta penerapan prosedur pengolahan dan distribusi makanan juga perlu diperketat.

Dinkes turut meminta pihak sekolah dan puskesmas meningkatkan edukasi mengenai kebersihan diri, sanitasi pangan, serta pengelolaan makanan yang aman kepada siswa, guru, wali murid, dan seluruh karyawan SPPG.

Masykur juga mengimbau pihak sekolah agar menegakkan larangan membawa pulang menu MBG. Sementara itu, puskesmas diminta mengaktifkan kembali Satgas MBG, melakukan penyelidikan epidemiologi secara menyeluruh, serta mempercepat pelaporan melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) pada menu EBS.

Inspeksi kesehatan lingkungan secara berkala setiap bulan juga direkomendasikan sebagai bagian dari upaya pengawasan dan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.***(RAF)

Editor: Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.