Ketika Rakyat Tenggelam dan Elite Berpesta: Tahun Pertama Prabowo di Pusaran Warisan Luka Negeri
Oleh : Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Di negeri yang baru saja berganti pemimpin, seharusnya angin segar terasa sampai ke kampung-kampung basah hujan. Namun realitas berbicara lain. Belum lewat satu tahun sejak Presiden Prabowo Subianto dilantik, berbagai persoalan yang lama dipendam seperti retakan di bawah lantai akhirnya pecah ke permukaan. Sektor energi berguncang, tata kelola BUMN terungkap rapuh, persoalan pertambangan kian buas, dan fiskal negara terasa sesak oleh beban masa lalu. Yang lebih menyayat: Sumatra menangis. Aceh, Padang, Medan, Tapanuli—semua digulung banjir dan longsor, meninggalkan jejak tangis yang tak sempat dikeringkan angin.
Namun di sudut gelap kekuasaan, ada ironi besar: ketika rakyat sedang menguburkan keluarganya, sebagian elite malah mengubur nurani mereka sendiri.
Rakyat Berduka, Elite Tertawa Pelan
Dalam setiap bencana, selalu ada dua dunia yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, dunia rakyat yang berjuang mempertahankan hidup dari reruntuhan rumah, banjir setinggi dada, dan tanah longsor yang menelan kampung. Di sisi lain, dunia sebagian elite yang tampak melenggang di balik pintu-pintu mode gelap ruang rapat berpendingin udara—menghitung cuan, menjaga kepentingan, dan memastikan jaringan lama tetap hidup meski pemerintahan sudah berganti.
Opini publik—yang terasa dari Sumatra hingga Jawa—bertanya dengan getir: “Mengapa masalah-masalah besar ini bermunculan setelah pemerintahan baru berjalan?” Jawabannya tidak sederhana. Banyak dari persoalan itu adalah bom waktu kebijakan lama yang tertimbun bertahun-tahun, dibiarkan tanpa pengawasan, atau memang sengaja dibiarkan mengalir pada koridor yang menguntungkan kelompok tertentu.
Di sektor tambang, misalnya, pola lama yang menempatkan kekayaan alam sebagai komoditas yang “dijaga” kelompok berpengaruh menciptakan ruang abu-abu yang sulit dibersihkan. Sementara di sektor energi dan fiskal, warisan inefisiensi dan keputusan berbiaya tinggi menjadi beban yang kini harus ditanggung pemerintahan baru.
Di tengah gelombang persoalan itu, rakyat seperti berdiri sendirian. Namun gambaran lebih pahit muncul ketika melihat ada kelompok yang seolah tak tersentuh badai. Mereka adalah para pemain lama, para penikmat kebijakan sebelumnya, yang kini terlihat mempertahankan ruang ekonominya. Di saat negeri cemas, mereka seperti tetap nyaman—bahkan tertawa kecil—menikmati stabilitas cuan yang tak pernah banjir.
Prabowo dan Pertarungan Melawan Bayang-Bayang
Bagi Presiden Prabowo, tahun pertama bukan sekadar ujian politik, tetapi juga ujian moral. Ia harus menanggung kemarahan rakyat, meredakan keresahan sosial, dan menembus kabut masalah yang sebagian besar bukan ia yang menimbunnya. Di tengah tangisan Sumatra dan gejolak ekonomi, Prabowo tampak memilih jalur terjal: turun ke lapangan, memeluk para korban, menenangkan mereka dengan bahasa yang sederhana namun emosional.
Keputusan-keputusan cepat yang diambil—mulai dari respons bencana, penguatan logistik, hingga evaluasi kebijakan vital—menunjukkan satu hal: ia sedang membuka kotak pandora warisan pemerintahan sebelumnya. Dan apa yang ia temukan tidak ringan.
Dari perspektif jurnalisme opini, langkah-langkah ini memperlihatkan pertarungan Prabowo bukan hanya menghadapi tantangan eksternal, tetapi juga melawan struktur kekuasaan lama yang bercokol di berbagai simpul negara. Struktur ini tidak selalu terlihat, tidak selalu bernama, tetapi terasa dari pola yang sama: menahan perubahan demi mempertahankan kepentingan.
Negeri yang Harus Memilih
Tahun pertama pemerintahan ini menunjukkan dua wajah Indonesia:
yang satu menangis karena bencana dan tekanan ekonomi; yang lain tersenyum di balik proyek-proyek besar, lobi-lobi bisnis, dan keuntungan yang mengalir senyap.
Opini kritis perlu ditegaskan: Negara tidak boleh dibiarkan menjadi arena pesta pora segelintir elite ketika rakyat sedang kehilangan rumah dan masa depan. Dan pemerintahan baru, apa pun batas politiknya, harus merobohkan tradisi ini.
Indonesia sedang berada pada persimpangan. Bila pemerintahan mampu membersihkan sisa-sisa distorsi kebijakan masa lalu—menertibkan pertambangan, memperkuat fiskal, memperbaiki transparansi, dan mengembalikan hukum pada marwahnya—maka tahun pertama ini akan dikenang sebagai titik balik.
Namun bila tidak, maka pesta elite akan terus berlangsung, dan tangis rakyat akan menjadi musik pengiring yang tak pernah berhenti.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
