Wartain.com || Eyang Dalem Santowaan menggantikan Prabu Salalangu Layakusumah, tetapi tidak di Keprabuan Kerta Rahayu, karena wilayah Keprabuan Kerta Rahayu telah dibagi tiga wilayah, yaitu Kaprabuan Galeuh Pakuan, Kaprabuan Sudalarang dan Kadaleman Cibolerang Wanaraja.
Kaprabuan Galeuh Pakuan, dipimpin oleh Dalem Adipati Limansenjaya atau Prabu Wijayakusumah ( Sunan Cipancar ), yang menggantikan ayahnya Prabu Hande Limansenjaya.
Wilayahnya meliputi yang sekarang termasuk Kecamatan Limbangan, Cibiuk, Leuwigoong, Selaawi, Malangbong, Karangtengah, Cibatu , Wanaraja dan Karangpawitan.
Kaprabuan Sudalarang, dipimpin oleh Dalem Singadipati, yang menggantikan ayahnya Prabu Wastu Dewa. Wilayahnya meliputi yang sekarang termasuk Kecamatan Sukawening dan Karangtengah Kab. Garut.
Dan Dalem Santowaan memimpin Kadaleman Cibolerang Wanaraja. Pusat Kadalemannya, adalah di suatu tempat antara Cibolerang dan Bojongsari ( arah sebelah Barat Daya Kp.Cinunuk Hilir Wanaraja ).
Wilayah Kadaleman Cibolerang meliputi yang sekarang termasuk wilayah Cipicung (Banyuresmi), Cinunuk ( Wanaraja ), Cimurah, Calingcing dan Suci Karangpawitan.
Ada kemungkinan makam yang berada di sana, adalah makam Dalem Santowaan dan isterinya. Makam tersebut sampai sekarang tidak ada yang memelihara atau mengurusnya.
Makam Eyang Santowaan di Cibolerang, Kabupaten Garut, merupakan situs bersejarah yang memiliki makna spiritual bagi masyarakat setempat.
Eyang Santowaan, yang diperkirakan lahir sekitar tahun 1598, adalah seorang tokoh penting yang pernah memimpin wilayah Kadaleman Cibolerang Wanaraja. Ia merupakan keturunan dari Prabu Salalangu Layakusumah dan memiliki pengaruh yang signifikan di daerah tersebut pada masanya.
Makam ini terletak di antara Cibolerang dan Bojongsari, di mana dulunya merupakan pusat pemerintahan Kadaleman.
Masyarakat percaya bahwa makam ini memiliki kesakralan dan sering dikunjungi oleh para peziarah yang berharap mendapatkan berkah dan pertolongan.
Meskipun makam ini memiliki nilai sejarah yang tinggi, saat ini tidak ada pengelolaan atau perawatan yang memadai, sehingga keberadaannya mulai terlupakan.
Kegiatan ziarah ke makam Eyang Santowaan biasanya dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan untuk mencari barokah.
Peziarah datang dari berbagai daerah, membawa harapan akan keberkahan dalam hidup mereka. Kesakralan makam ini diyakini dapat memberikan ketenangan dan pertolongan bagi yang berziarah.
Dengan demikian, makam Eyang Santowaan di Cibolerang bukan hanya sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga merupakan simbol dari warisan budaya dan spiritual yang perlu dijaga dan dilestarikan oleh generasi mendatang.***
Foto : Kantor Desa Cibolerang
Editor : Aab Abdul Malik
(Salman/Biro Garut)