26.7 C
Jakarta
Senin, April 7, 2025

Latest Posts

“Sustainable Tourism Council”, Praktik Berkelanjutan Industri Pariwisata 

Wartain.com, Jakarta || Peristiwa terbakarnya 500 hektare kawasan Bukit Teletubbies, Gunung Bromo, pada 05/09/2023, membuat duka sektor pariwisata. Kejadian itu termasuk bencana yang merusak ekosistem yang ada di Gunung Bromo.

Kasus ini merupakan tamparan keras bagi dunia pariwisata di Indonesia. Ini juga menjadi peringatan untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pariwisata berkelanjutan bagi para wisatawan yang berkunjung ke destinasi-destinasi wisata.

Mengutip dari situs Global Sustainable Tourism Council, Pariwisata Berkelanjutan atau Sustainable Tourism merupakan praktik berkelanjutan di dalam dan oleh industri pariwisita.

Pariwisata Berkelanjutan merupakan aspirasi untuk mengakui semua dampak pariwisata, baik positif maupun negatif. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif.

Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), keberlanjutan ini bisa tercipta dengan adanya kesadaran wisatawan untuk lebih bijak dalam berwisata.

Dalam situsnya, Kemenparekraf menjelaskan bahwa pengunjung suatu tempat wisata bisa mulai mematuhi aturan yang berlaku di kawasan dan destinasi yang dikunjungi, apalagi untuk destinasi khusus yang tidak bisa dikunjungi sembarang wisatawan.

Pasalnya, Indonesia punya beberapa kawasan yang sifatnya tertutup dan tidak terbuka untuk wisatawan. Biasanya, tempat tersebut merupakan kawasan konservasi atau hutan lindung.

Aturan yang ada dalam setiap tempat wisata memiliki alasan dan tujuan tertentu. Contohnya, kawasan konservasi difungsikan sebagai ‘rumah’ bagi beragam flora, fauna, serta habitat dan ekosistemnya. Hal ini diberlakukan untuk memastikan kawasan bisa terjaga dan terlindungi.

Pariwisata berkelanjutan ini adalah bentuk pengembangan konsep berwisata yang bisa memberi dampak jangka panjang, baik itu secara kelestarian lingkungan, budaya, sosial, hingga ekonomi bagi masyarakat.

Untuk bisa mengembangkan konsep ini, dibutuhkan kesadaran yang besar dari wisatawan. Bukan sekadar untuk menjaga kenyamanan, tetapi juga sebagai bentuk ‘ambil peran’ untuk ikut menjaga kelestarian sumber daya alam di kawasan konservasi.

Kepopuleran kawasan konservasi terlihat dari tingginya jumlah wisatawan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, sebanyak 5,29 juta wisatawan mengunjungi kawasan konservasi di Indonesia, dengan rincian 5,1 juta wisata nusantara dan 189.000 wisatawan mancanegara, per 2022.

Meski demikian, masih banyak wisatawan yang belum menyadari dan memahami pentingnya kawasan konservasi. Dampaknya, keberlangsungan ekosistem di sana masih terancam.

Untuk itu, wisatawan diminta untuk melakukan koordinasi dan izin dari pengelola, khususnya untuk mengetahui lebih lanjut aturan-aturan yang harus ditaati.***

Foto : Kemenparekraf

Editor : Aab Abdul Malik

(Tim)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.