Wartain.com || Memasuki bulan suci Ramadhan, umat Islam di berbagai daerah kembali menghidupkan tradisi tadarusan Al-Qur’an. Kegiatan ini menjadi salah satu amalan yang rutin dilakukan, baik di masjid, mushala, maupun di lingkungan rumah, sebagai bentuk penghayatan terhadap Ramadhan yang dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Tadarusan bukan sekadar membaca ayat suci secara bersama-sama, melainkan juga upaya memperdalam pemahaman dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Di bulan yang penuh berkah ini, membaca Al-Qur’an diyakini memiliki pahala berlipat ganda, sehingga banyak umat Islam berlomba-lomba mengkhatamkannya selama Ramadhan.
Secara spiritual, tadarusan menjadi sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Lantunan ayat-ayat suci yang dibaca secara tartil mampu menghadirkan ketenangan hati serta memperkuat kualitas ibadah puasa.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum introspeksi diri, dengan merenungkan makna ayat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi tadarusan juga memiliki nilai sosial yang kuat. Kebersamaan dalam membaca dan menyimak Al-Qur’an menumbuhkan ukhuwah Islamiyah serta mempererat tali silaturahmi antarwarga. Suasana masjid yang ramai oleh jamaah tadarus pada malam hari menjadi pemandangan khas selama Ramadhan.
Dengan demikian, tadarusan di bulan Ramadhan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga wujud nyata kecintaan umat Islam terhadap Al-Qur’an.
Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai kebaikan semakin tertanam, sehingga Ramadhan benar-benar menjadi momentum pembinaan diri menuju pribadi yang lebih baik dan bertakwa.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Intan)
