Wartain.com || Meski dalam gelap malam dengan bantuan Cahaya lilin dan Rembulan, hentakan musik Peluru Kata bersama syair syair nakalnya memberi tanda kebangkitan nasional di kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA).
Tanggal 27 Mei yang pernah menjadi hari kebangkitan nasional kedua versi Forum Aktivis Mahasiswa UNISBA (FAMU) kembali dirayakan oleh puluhan mahasiswa di kampus berjuluk kampus perjuangan tersebut.
Meski sempat mendapat hambatan dalam perizinan birokrasi kampus, acara bertajuk Kebangkitan Nasional : _*Mengenang Reformasi, Menjaga Demokrasi, Membangkitkan Indonesia*_ tetap bisa berjalan dengan hikmat dan memberi edukasi kepada beberapa civitas akademika yang hadir.
“Ada 2 hal penting yang menjadi landasan bagi kami tetap bersemangat dalam menginisiasi dan menjalankan kegiatan ini, pertama adalah mengenang peristiwa Reformasi 98 dengan tanda runtuhnya pemerintahan otoriter Soeharto, selanjutnya mengenang hari kebangkitan nasional”, ujar Ahmad Aceh sebagai penggerak acara tersebut.

Di lain sisi Jibran sebagai pentolan Peluru Kata menyatakan kehadiran band nya di Kampus UNISBA adalah sebagai penanda kembali bangkitnya gerakan kampus di tengah merosotnya moralitas demokrasi dalam negeri tercinta.
Acara yang juga diisi oleh orasi dan pembacaan puisi dari beberapa mahasiswa dan mantan aktivis mahasiswa 98 tersebut ternyata juga memancing gejolak baru di kalangan mahasiswa mahasiswa Bandung dan beberapa Kampus di Jawa Barat.
Kabarnya setelah dari kampus UNISBA, Peluru Kata serta Federasi Mahasiswa Bandung (FMB), akan terus menggelorakan semangat Kebangkitan Nasional serta Reformasi di kampus kampus seluruh Jawa Barat dan JABODETABEK, dalam rangka merawat semangat perlawanan terhadap ketertindasan masyarakat marjinal yang masih terasa kuat di era demokrasi terbuka Indonesia saat ini.
“Demokrasi harus ditandai dengan terbebasnya masyarakat marjinal dari segala keterdesakan hidup, jangan lagi ada PKL yang dipersekusi satpol PP, jangan lagi ada razia terhadap anak jalanan, serta tidak ada lagi perempuan perempuan miskin yang terpaksa menjual dirinya demi terus mengalir nya ASI untuk si jabang bayi”, menurut Priston.***
Foto : Istimewa
Editor : Aab Abdul Malik
(AAS)
