26.7 C
Jakarta
Senin, Mei 18, 2026

Latest Posts

Membuka Tabir Astrologi Islam : Abu Ma’syar Al-Falaki dan Konsepnya

Oleh : AM Sholeh/Pimpinan Ponpes Cahaya Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat

Wartain.com || Saat kita berbicara tentang Astrologi, terlanjur Kita lebih mengenal konsep Zodiak atau Shio yang memang berasal dari barat dan timur (Cina) yang notabene dari luar peradaban Islam, dan terlanjur pula kita percaya pada perkataan mereka -yang notabene menafikan peran Tuhan dalam kehidupan- bahwa Astrologi, Zodiak, atau Shio itu berpengaruh atau berdampak secara langsung pada kehidupan manusia, dan astrologi merupakan ilmu tentang “ramalan masa depan atau menentukan nasib”, sehingga stigma takhayul, khurafat dan bid’ah begitu melekat pada disiplin ilmu ini.

Pertanyaan nya benarkah peradaban Islam tidak mengenal ilmu astrologi…?

Dalam tradisi peradaban Islam yang tercatat dalam kajian klasik (kitab kuning) jauh sebelum peradaban barat sekarang, ternyata Abu Masyar al-Falaki (787 M) telah merumuskan teori-teori Astrologi dengan sudut pandang ajaran Islam.

Abu Ma’syar adalah seorang Astrolog muslim yang paling terkemuka, beliau adalah ulama besar dan filosof pada era khilafah Abbasiyah. Abu Ma’syar telah merumuskan metodologi astrologi dengan meletakkan dasar-dasar yang argumentatif yang beliau istinbath (kajian mendalam) dari Al-Qur’an dan Sunnah serta melakukan istikharah yang panjang dalam proses penulisan nya (lebih lengkapnya lihat kitab Abu Ma’syar al-Falaki)

Argumentasi dalil-dalil beliau ini bisa kita telusuri diantaranya:

1. Dalil-dalil Al-Qur’an

– Dalam mukadimah kitab “Abu Ma’syar al-Falaki” beliau menuliskan bahwa latar belakang dari penulisan kitabnya adalah berdasarkan perenungan nya pada firman Allah SWT surat al-furqan ayat 61 :
{ تَبَارَكَ ٱلَّذِی جَعَلَ فِی ٱلسَّمَاۤءِ بُرُوجࣰا وَجَعَلَ فِیهَا سِرَ ٰ⁠جࣰا وَقَمَرࣰا مُّنِیرࣰا }

Artinya:
Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar [Surat Al-Furqan: 61]

– Selain itu jika kita tela’ah lagi dengan seksama, di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menggerakkan akal dan fikiran manusia untuk mencermati dan memikirkan alam semesta termasuk benda-benda langit, syekh Jauhari Thanthawi (guru besar universitas Kairo) mengatakan dalam tafsirnya Al-jawahir bahwa terdapat lebih dari 750 ayat Al-Qur’an yang secara tegas menyatakan tentang alam semesta.

– Kemudian di dalam Al Quran terdapat beberapa nama surat yang menggunakan nama benda-benda langit seperti surat An-Najm (bintang), surat Al-Qomar (Bulan), surat Al-Buruj (gugusan bintang), dan surat As-Syams (matahari). di dalam Al-Qur’an terdapat pula beberapa surat yang menggunakan nama waktu -yang terkait dengan pengaruh perputaran benda benda langit- seperti, surat Al-Lail (malam), surat Ad-Duha (waktu Duha), surat Al-Ashr (waktu ‘Asar), dan surat Al-Falaq (waktu Subuh).

– Dalam ilmu hisabiyah (hitungan nama), Abu Ma’syar al-Falaki mendemonstrasikan rahasia dibalik beberapa nama tokoh yang disebut di dalam Al-Qur’an dengan metode Abjad Hawaz. Seperti موسى (Musa) yang telah mengalahkan فرعون (Fir’aun). nama Musa memiliki nilai 8 sedangkan nama Fir’aun memiliki nilai 1. Dan hasilnya abu masyar menyimpulkan bahwa 8 mengalahkan 1. Kemudian داود (Dawud) mengalahkan جالوت (Jalut), nama Dawud memiliki nilai 6, dan nama Jalut nilai angkanya 8, atas dasar ini kemudian abu masyar menyimpulkan bahwa 6 mengalahkan 8 ( lihat bab Ghalib Maghlub Abu Masyar al-Falaki hal 7-8)

2. Dalil As-sunnah

Ulama telah sepakat bahwa Sunnah adalah semua perkataan, perbuatan, dan pengakuan nabi SAW. jika kita tela’ah Sirah Nabawiyah akan kita temukan beberapa perbuatan Rasulullah yang menyimpan Hikmah yang tentu menarik untuk dipelajari rahasia dibaliknya

– Banyak nama sahabat yang diganti oleh Rasulullah SAW, Imam Abu Dawud berkata:
“Nabi SAW pernah mengganti nama Al-‘Ash, Aziz, ‘Atalah, Syaithan, Al-Hakam, Ghurab, Hubab, dan Syihab, Menjadi Hisyam.
Beliau juga pernah mengganti nama Harb menjadi Salam, Al-Mudhthaji’ menjadi Al-Muba’its, Afirah menjadi Hadhirah, suku Ad-Dhalalah menjadi suku Al-Huda, Bani Az-ziniyah menjadi Bani Ar-Risydah, dan Bani Mughwiyyah menjadi Bani Risydah.” Selanjutnya Abu Dawud berkata, Saya sengaja meninggalkan sanad-sanadnya supaya lebih ringkas.

Nama-nama Sahabat yang diganti oleh Rasulullah SAW itu ada yang memang secara langsung panggilannya buruk, seperti Harb (perang), Syaithan (setan). Namun disana juga ada nama yang secara langsung bukanlah panggilan buruk, seperti Syihab, Al-Hakam. tapi kenapa Rasulullah SAW yang mulia mengganti nya?

– Begitu juga saat Hijrah, untuk memulai menegakkan peradaban Islam Rasulullah SAW mengganti nama yatsrib menjadi Madinah.

– Dalam sistem muakhokh (persaudaraan) antara sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, nama-nama sahabat yang dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW jika dihitung menggunakan metode hisabiyah abu Ma’syar semua hitungan nya bagus. Seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dipersaudarakan dengan Kharizah bin Zaid, Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan Utbah bin Malik dsb.

Tentu Semua hikmah ini rahasianya hanya bisa difahami dan dideteksi dengan menggunakan metode ilmu hisabiyah. Berdasarkan Sunnah Af’al (perbuatan) Rasulullah inilah abu ma’syar al-Falaki menyusun metodologi ilmu hisabiyah Abjad Hawaz (untuk mencocokan nama pasangan suami istri, partner, koalisi, persahabatan, mempersaudarakan, silahkan lihat kitab Abu ma’syar al-Falaki halaman: 8-9. Atau kitab Jawahir al-lamma’ah hal : 123)

3. Pendapat Ulama

Pendapat Ulama dalam masalah ini bisa kita lihat dalam :
– Kitab Ghayatu Talkhisi al-murad min Fatawi ibn Ziyad, hamisy bughyatul Mustarsyidin hal. 206 :
“Ibnul Farkah menyebutkan sebuah riwayat dari Imam Syafi’i bahwa jika ahli astrologi Berkata dan meyakini Bahwa yang mempengaruhi adalah Allah, dan Allah yang menjalankan kebiasaan bahwa terjadi demikian di hari demikian sedangkan yang mempengaruhi adalah Allah, maka hal ini menurut saya (imam Syafi’i) tidak apa-apa, karena yang dicela apabila meyakini bahwa yang berpengaruh adalah nujum dan makhluk-makhluk (bukan Allah)”

– begitu juga pendapat syekh Muhammad Al-Marzuki dalam mukadimah kitab tajul muluk, jika seseorang berkeyakinan bahwa Allah yang menjadikan semuanya terjadi dengan ikhtiyarNya dan kuadrat iradatNya, dan bintang-bintang (nujum) sama sekali tidak memberikan bekas apapun ia hanya sekedar petunjuk dan tanda-tanda saja maka orang itu mu’min yang mengikuti halus Sunnah wal jama’ah (kitab tajul muluk)

Kesimpulan

Disinilah letak perbedaan Zodiak barat, Shio China dengan astrologi Abu Ma’syar al-Falaki. Zodiak barat dan Shio China jelas harus dihindari (haram) sebab telah tercerabut dari Aqidah karena telah menempatkan Bintang-bintang (nujum) tersebut yang memberi pengaruh atau dampak secara langsung kepada nasib, karakter, dan siklus kehidupan manusia.

Astrologi Abu ma’syar al-Falaki adalah ilmu yang dapat membantu kita memahami alam semesta dan diri kita sendiri. Dengan memahami astrologi dalam perspektif Islam ini, kita dapat meningkatkan kesadaran spiritual, membuat keputusan yang lebih bijak, dan memahami kehendak Allah SWT. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami astrologi dalam Islam dan menggunakannya sebagai sarana berhati-hati sedia payung sebelum hujan, untuk meningkatkan tawakal, iman, dan taqwa kita kepada Allah SWT.

Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan meningkatkan kesadaran spiritual kita semua. Allohumma Aamiin.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.