26.7 C
Jakarta
Jumat, Mei 1, 2026

Latest Posts

Sunyi Sebelum Dentuman : Menemukan Tuhan di Balik Big Bang

Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Wartain.com || “Sains mengatakan segalanya bermula dari ledakan. Tapi siapakah yang meletakkan percikan pertama di tengah sunyi yang belum bernama?”

Zaman modern adalah zaman ledakan. Kita hidup dalam narasi besar tentang Big Bang, teori ilmiah paling kokoh yang menjelaskan asal-muasal semesta. Bahwa segalanya—waktu, ruang, materi—bermula dari satu titik singularitas yang kemudian meledak, memuai, dan membentuk kosmos. Galaksi-galaksi, planet-planet, dan akhirnya: kehidupan.

Bagi sebagian orang, itu cukup. Tapi bagi jiwa-jiwa yang gelisah, penjelasan ilmiah tanpa makna terasa seperti tubuh tanpa ruh. Karena setelah diketahui “bagaimana”, tetap tersisa pertanyaan yang paling hakiki: “Mengapa?” Mengapa ada sesuatu, dan bukan tidak ada apa-apa? Apa yang ada sebelum ledakan?

Sains dan Batasnya

Teori Big Bang adalah prestasi luar biasa dari sains modern. Dengan didukung pengamatan radiasi latar kosmik, pergeseran spektrum galaksi, dan hukum-hukum fisika kuantum, para ilmuwan dapat menelusuri jejak awal semesta hingga sekitar 13,8 miliar tahun lalu.

Namun, bahkan para ilmuwan sepakat bahwa sebelum titik singularitas—“before Planck time”—sains tidak punya alat ucap. Hukum-hukum fisika runtuh, waktu belum mengalir, dan ruang belum terbentuk. Maka mereka berhenti di situ. Seolah berkata: “Kami hanya bisa sejauh ini.”
Tapi justru dari titik itulah para pencari makna melangkah masuk.

Filsafat dan Kosmologi Spiritual

Dalam tradisi spiritual—khususnya Islam tasawuf—ada kesadaran mendalam tentang adanya pra-kosmologi: keadaan sebelum penciptaan. Para sufi menyebutnya ‘ālam al-ghayb, alam gaib terdalam, atau lebih jauh lagi: keberadaan mutlak Tuhan dalam keheningan-Nya.
Dalam hadis terkenal, Nabi bersabda:

“Allah telah ada dan tidak ada sesuatu pun bersama-Nya.”
(HR. Bukhari)

Ini bukan hanya pernyataan teologis, tetapi metafisika murni: sebelum ruang, sebelum waktu, sebelum materi, Tuhan telah Ada. Tidak di mana-mana, sebab ruang belum ada. Tidak pada waktu tertentu, sebab waktu belum mengalir. Ia Ada dalam Kesendirian-Nya—sunyi, mutlak, tanpa bentuk.

Sunyi Sebagai Asal

Sains menyebut singularitas, sufi menyebut kesendirian Ilahi (ahadiyyah). Dua bahasa yang menunjuk titik asal yang tak tergapai. Sains berhenti karena tak sanggup menembus ke dalamnya, tapi spiritualitas menembus sunyi itu dengan cinta dan rasa.

Dalam pemahaman tasawuf, Tuhan tidak menciptakan karena butuh. Ia tidak merasa kesepian. Tapi karena cinta-Nya kepada keindahan-Nya sendiri, Ia ingin dikenal. Dari situlah, mengalir kehendak penciptaan. Dari kesunyian—lahirlah cahaya. Dari cahaya—lahirlah segala.

Para sufi menyebutnya: penciptaan Nur Muhammad—cahaya hakikat yang pertama, bukan secara biologis, tapi metafisis. Ia adalah “cahaya kesadaran awal”, sumber segala wujud. Dari cahaya inilah lahir ruh-ruh. Dari ruh, lahirlah alam. Maka sebelum dentuman kosmik, ada letupan cinta Ilahi.

Big Bang dan Letupan Cinta

Cahaya awal dalam Islam disebut nur. Dalam sains, Big Bang disebut memancarkan radiasi kosmik. Apakah keduanya berbicara tentang hal yang sama dari dua arah berbeda?

Mungkin. Tapi yang pasti: keduanya mengakui bahwa semesta bermula dari cahaya. Dalam sains: cahaya fisik. Dalam spiritual: cahaya makna. Yang satu menjelaskan struktur, yang lain menjelaskan tujuan.

Maka dari perspektif spiritual, Big Bang bukanlah asal utama. Ia adalah tirai panggung, bukan pemeran sejati. Pemeran sejatinya adalah Tuhan, dan narasi sejatinya adalah: Cinta-Nya ingin dikenal, lalu diciptakanlah ciptaan. Ledakan semesta hanyalah bagian dari skenario itu.

Kembali ke Sunyi

Jika kita merenungi kembali, betapa anehnya semesta ini: mengembang dari kehampaan, dengan hukum-hukum yang presisi, dengan keseimbangan energi, dengan keteraturan yang dapat dihitung dan diramal.

Itu bukan kebetulan. Itu bukan kekacauan. Itu jejak tangan Tuhan yang tak terlihat.
Maka saat orang bertanya, “Di mana Tuhan saat Big Bang?” jawabannya:

“Tuhan tidak ada di dalam Big Bang. Big Bang ada di dalam Tuhan.”

Penutup: Percikan Cahaya dalam Diri

Kesadaran tentang Tuhan sebagai asal semesta bukan sekadar pengetahuan, tapi panggilan. Jika Tuhan menciptakan semesta agar dikenal, maka tugas manusia adalah: mengenal-Nya. Bukan hanya melalui ritual, tapi melalui pencarian makna, cinta, dan kebenaran.

Big Bang bisa menjelaskan asal benda, tapi hanya kesadaran yang bisa menemukan asal jiwa.

Di balik dentuman besar, ada sunyi. Dan dalam sunyi itulah—Tuhan menunggu kita kembali.***

Foto : Istimewa

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.