Wartain.com || Landmark berwarna merah bertuliskan “ALUN-ALUN GADOBANGKONG” rapuh dan hancur disebabkan intensitas hujan dan angin beberapa hari lalu. Hujan lebat dan angin kencang kerap melanda wilayah di Indonesia, di Palabuhanratu sendiri hujan kian mengguyur tiada henti, Senin (9/3/2026).
Diketahui, landmark tersebut sudah rapuh sebelumnya, ditambah dengan cuaca akhir-akhir hari ini kondisi semakin memprihatinkan tulisan tersebut.
Salah satu pengunjung, Eva (36) menyayangkan kondisi tersebut karena kerusakan terjadi padahal belum lama dibangun. Ia mengatakan bahwa dirinya bersama keluarga kecilnya datang ke lokasi itu dengan harapan bisa berfoto di huruf Gadobangkong, namun ternyata kondisinya sudah rusak.
“Sangat disayangkan ya padahal ini belum lama. Saya sama keluarga kecil kesini sambil ngabuburit ingin foto-foto tadinya di huruf Gadobangkong itu, tapi malah rusak,” Kata Eva saat dilokasi.
“Semoga deh ada perbaikan dari pemerintah, apalagi nanti libur lebaran,” tambah Eva.
Sebelumnya, Alun-Alun Gadobangkong sempat menyita perhatian publik dan viral terkait menghilangnya patung Kuya yang terbuat dari material kardus dan triplek.
Namun hal itu segera diperbaiki oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Sukabumi. Karena memang Gadobangkong warisan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat yang diserahkan ke Pemkab pada tahun 2024.
Bupati Sukabumi, Asep Japar, angkat bicara terkait kerusakan landmark tersebut saat kegiatan bersih-bersih waktu itu sebelum bulan ramadhan.
“Ini harus dipelihara dengan baik karena ini kan baru dibangun belum lama dengan memakan biaya cukup besar,” ucap Asjap pada Rabu (18/3/2026).
Ia juga berencana mengalihkan tanggung jawab pengelolaan ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim). Sebelumnya dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Rencananya akan diambil oleh pihak Dinas Perkim,” kata Asjap.
Asep juga menuturkan “Insyaallah setelah kewenangannya nanti di pihak pemerintah daerah (Perkim), kita akan pelihara karena ini aset yang luar biasa,” tuturnya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Ujeng)
