Wartain.com – Dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai HANURA Provinsi Jawa Barat menggelar Diskusi Kebangsaan bertajuk “Merdeka di Era Digital: Merawat Nasionalisme dan Kepedulian Generasi Muda”, Kamis (13/8), di Sekretariat DPD HANURA Jawa Barat, Kota Bandung.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua DPD Partai HANURA Jawa Barat H. Dian Rahadian, S.H., M.H. dan Sekretaris DPD HANURA Jawa Barat Cecep Lukmanul Hakim, serta para pengurus harian DPD HANURA Jawa Barat dan perwakilan dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Bandung.
Diskusi berlangsung dinamis, menarik, dan interaktif. Para peserta tidak hanya menyimak pemaparan narasumber, tetapi juga terlibat dalam dialog mengenai makna kemerdekaan, Pancasila, nasionalisme, kemandirian ekonomi, serta perubahan karakter dan cara pandang generasi muda di tengah perkembangan teknologi digital.
Lima narasumber menghadirkan perspektif yang berbeda dan saling melengkapi.
Pertama, Hidayat Sjarief, yang mengangkat pentingnya implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai ideologi yang dihafalkan atau simbol dalam berbagai seremoni kenegaraan, tetapi harus menjadi nilai yang hidup dalam perilaku masyarakat. Nilai kemanusiaan, persatuan, gotong royong, musyawarah, dan keadilan sosial harus mampu diterapkan, termasuk dalam kehidupan masyarakat di ruang digital.
Kedua, Nowo Suryanto, yang membahas pentingnya pembentukan dan penguatan koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. Di tengah perubahan model ekonomi dan berkembangnya ekonomi digital, generasi muda perlu didorong menjadi pelaku ekonomi yang produktif. Koperasi dipandang sebagai salah satu instrumen untuk membangun kekuatan ekonomi berbasis kolaborasi, kepemilikan bersama, dan kemandirian masyarakat.
Ketiga, Fadel Atallah, yang menyampaikan perspektif Generasi Z dalam memaknai kemerdekaan, nasionalisme, dan Indonesia hari ini. Sebagai generasi yang tumbuh dalam lingkungan internet, media sosial, dan teknologi digital, Gen Z memiliki cara yang berbeda dalam memperoleh informasi, membangun identitas, berkomunikasi, serta memandang kehidupan sosial dan politik.
Fadel menyoroti pentingnya memberikan ruang bagi Gen Z untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi dan konsumen informasi, tetapi juga menjadi produsen gagasan, kreator, inovator, dan bagian aktif dalam kehidupan kebangsaan.
Keempat, Ratu Lola, menghadirkan perspektif generasi Milenial. Diskusi melihat bahwa Milenial memiliki pengalaman historis yang berbeda dengan Gen Z karena mengalami masa transisi dari kehidupan analog menuju digital. Perspektif Milenial menjadi penting untuk melihat bagaimana perubahan teknologi, dunia kerja, kehidupan sosial, dan politik memengaruhi cara generasi ini memaknai nasionalisme dan partisipasi dalam kehidupan berbangsa.
Kelima, Budi Hermansyah, menyampaikan pemaparan mengenai sejarah nasionalisme Indonesia. Perspektif historis tersebut menjadi bagian penting dalam diskusi untuk mengingatkan bahwa nasionalisme Indonesia lahir dari proses panjang perjuangan, persatuan, dan kesadaran untuk membangun kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa.
Dari keseluruhan diskusi, terdapat benang merah bahwa nasionalisme tidak boleh berhenti pada simbol, slogan, dan seremoni. Nasionalisme harus menemukan bentuk baru yang sesuai dengan tantangan zaman.
Di era digital, tantangan kebangsaan tidak hanya berupa ancaman terhadap wilayah dan kedaulatan negara, tetapi juga hadir dalam bentuk disinformasi, hoaks, polarisasi, manipulasi informasi, budaya viral, krisis atensi, serta fragmentasi sosial akibat algoritma media digital.
Karena itu, generasi muda membutuhkan kemampuan untuk berpikir kritis, memiliki etika digital, memahami kehidupan kewargaan, menghargai perbedaan, serta mampu mengubah keresahan menjadi gagasan dan tindakan nyata.
Kemerdekaan juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan kesejahteraan dan kesempatan. Generasi muda harus memperoleh ruang untuk belajar, bekerja, berusaha, berinovasi, berorganisasi, dan mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan publik.
Dalam konteks tersebut, nasionalisme dapat dimaknai secara lebih sederhana tetapi sekaligus lebih substantif:
Bukan hanya seberapa besar kita mencintai Indonesia, tetapi seberapa besar kita mampu memberikan manfaat bagi Indonesia.
Seorang pendidik yang mencerdaskan masyarakat, pengusaha yang menciptakan lapangan kerja, peneliti yang menghasilkan solusi, anak muda yang menciptakan inovasi, maupun warga yang menjaga ruang digital dari hoaks, semuanya merupakan bentuk nyata kontribusi kebangsaan.
Ketua DPD HANURA Jawa Barat H. Dian Rahadian, S.H., M.H. mengapresiasi terselenggaranya forum tersebut sebagai ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif dan generasi.
Sementara itu, Sekretaris DPD HANURA Jawa Barat Cecep Lukmanul Hakim menekankan pentingnya menghadirkan ruang-ruang diskusi yang memungkinkan generasi muda membicarakan Indonesia secara kritis, terbuka, dan konstruktif.
Menurutnya, partai politik tidak semestinya hanya hadir kepada generasi muda ketika membutuhkan suara dalam pemilu, tetapi harus mampu menjadi ruang pendidikan politik, kaderisasi, produksi gagasan, dan partisipasi publik.
Diskusi kebangsaan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya DPD HANURA Jawa Barat dalam membangun ruang dialog kebangsaan yang terbuka dan lintas generasi, serta memperkuat komunikasi dengan kalangan akademisi dan perguruan tinggi.
Dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI, semangat yang ingin dibangun bukan sekadar mengenang perjuangan masa lalu, tetapi menjadikan kemerdekaan sebagai energi untuk menghadapi tantangan masa depan.
Merdeka di era digital berarti merdeka dalam berpikir, merdeka dalam menentukan pilihan, merdeka dalam menciptakan masa depan, dan merdeka untuk memberikan manfaat bagi Indonesia.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
