Wartain.com – Kalau dulu Bogor ke Sukabumi itu perjuangan 5 sampai 7 jam, sekarang cerita itu pelan-pelan jadi masa lalu. Adalah Tol Bocimi, Bogor-Ciawi-Sukabumi, yang mengubah peta perjalanan dua daerah yang bertetangga tapi dulu terasa jauh.
Jauh sebelum mulus seperti sekarang, Bocimi punya sejarah berliku. Dicetuskan tahun 1997, tol ini langsung kena hantaman krisis moneter. Setelah itu pembebasan lahan macet, investor gonta-ganti, proyek mangkrak. Baru pada 2015 pemerintah mengambil alih. Awal 2016, setelah 21 tahun tidur, alat berat kembali masuk.
Titik baliknya 1 Desember 2018. Presiden Joko Widodo meresmikan Seksi 1 Ciawi-Cigombong 15,3 km di GT Cigombong 1.
“Kita harapkan bisa berkembang ekonomi yang ada di Sukabumi, terutama sisi pariwisata,” ujar Jokowi kala itu.
Harapan itu pelan-pelan nyata. Seksi 2 Cigombong-Cibadak 11,9 km menyusul rampung 4 Agustus 2023. Sekarang Seksi 3 Cibadak-Sukabumi Barat 13,7 km sedang dikebut target selesai kuartal II 2027, sementara Seksi 4 Sukabumi Barat-Sukabumi Timur 13 km masih beres-beres lahan.
Efeknya langsung terasa. Mobil pribadi, minibus, bus AKAP, truk kontainer bisa meluncur tanpa harus beradu klakson di jalan nasional. Logistik lancar, pariwisata Sukabumi yang selama ini jadi jagoan pun lebih mudah dijangkau dari Jakarta dan Pantura.
Tapi di balik aspal mulus, ada sisi lain. Di Desa Karangtengah, Cibadak, proyek Seksi 3 sempat bikin warga sesak karena debu. Laporan Mei 2026 menyebut debu masuk rumah, warung makanan harus tutup rapat. Solusinya, truk wajib disiram dan pakai terpal, jam operasi dibatasi.
Kajian akademik juga mengingatkan. Peneliti Fakultas Teknik Universitas Winaya Mukti, Ina Revayanti di jurnal Geoplanart 2019 menulis, tol bisa memutus akses antar kampung, mengendurkan ikatan sosial karena banyak pendatang, hingga bikin petani kehilangan lahan dan harus putar otak alih profesi.
Makanya kuncinya bukan cuma membangun tol, tapi menyiapkan warganya. Mulai dari penyuluhan ganti untung yang adil, pelatihan wirausaha, sampai fasilitasi petani jadi pengrajin cenderamata atau pelaku UMKM wisata.
Bocimi sudah memangkas jarak. Tugas berikutnya, memastikan warga Sukabumi tidak cuma jadi penonton di pinggir tol.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
