Wartain.com – Pemerintah Kota Sukabumi mulai mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dengan menekan jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul. Salah satu langkahnya dilakukan dengan mengalihkan pengelolaan sampah ke tingkat lingkungan masyarakat.
Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengatakan, persoalan keterbatasan kapasitas TPA Cikundul membuat pemerintah perlu mengubah pola penanganan sampah yang selama ini mengandalkan sistem angkut dan buang.
Hal tersebut disampaikan Bobby saat menutup Tempat Penampungan Sementara (TPS) di wilayah Cipoho, Jalan Pelabuhan II, RT 04/RW 05, Gang Sadar, Kelurahan Cikondang, Kecamatan Citamiang, Rabu (7/10/2026).
Menurut Bobby, sampah seharusnya mulai diselesaikan dari sumbernya sehingga tidak seluruhnya harus dibawa ke TPA. Masyarakat didorong memilah dan mengolah sampah sesuai jenisnya sebelum dilakukan pengangkutan terhadap sampah yang tersisa.
“Jadi kebudayaan masyarakat yang tadinya buang, angkut, buang ke TPA, berubah menjadi pengelolaan di masyarakat, di lingkungan wilayah. Gerobak sebagai pengganti untuk mengangkutnya ke depan,” jelas Bobby.
Penutupan TPS Cipoho menjadi salah satu langkah untuk menerapkan pola tersebut. Selama ini, lokasi itu tidak hanya digunakan warga sekitar, tetapi juga menjadi tempat pembuangan sampah dari masyarakat di luar wilayah.
Kondisi tersebut kemudian mendorong pemerintah bersama masyarakat setempat membangun sistem pengelolaan sampah secara mandiri.
“Ini hari ini masyarakat berkomitmen untuk melakukan pengelolaan sampah secara mandiri, pemilahan sampah dari rumah secara mandiri,” ujar Bobby.
Untuk mendukung sistem tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi menyerahkan gerobak sampah kepada masyarakat RT 04/RW 05. Sarana itu nantinya digunakan untuk mengangkut sampah dari rumah warga.
Bobby mengatakan, pengelolaan di tingkat lingkungan dapat dilakukan melalui satuan tugas di tingkat RT. Masyarakat juga dapat menyepakati iuran untuk memenuhi kebutuhan sarana pengelolaan sampah.
Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk dan dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman warga. Sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan untuk dijual kepada pengepul, disalurkan melalui bank sampah, atau diolah menjadi produk seperti ecobrick.
Adapun residu atau sampah yang tidak dapat diolah di tingkat lingkungan nantinya dapat ditangani melalui kerja sama dengan DLH dengan jadwal pengangkutan yang disepakati.
Dengan pola tersebut, volume sampah yang harus diangkut pemerintah menuju TPA diharapkan semakin berkurang.
Selain mengubah pola di tingkat masyarakat, Pemkot Sukabumi juga menyiapkan dukungan teknologi pengolahan sampah. Salah satunya melalui rencana penempatan mesin insinerator berkapasitas lima ton di Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole.
Mesin tersebut nantinya diharapkan dapat menangani sampah dari sejumlah kelurahan setelah melalui tahapan pemilahan dan pengolahan di TPS 3R.
Pemkot Sukabumi juga berencana mengupayakan pengadaan mesin serupa di kecamatan lain pada 2027. Pemerintah akan menyediakan sejumlah pilihan sistem, sedangkan masyarakat dapat menentukan pola pengelolaan yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
“Pemerintah menyiapkan opsi, masyarakat punya pilihan. Yang penting sampah selesai di wilayah masing-masing, tidak lagi diangkut ke TPA Cikundul,” tegas Bobby.
Menurut Bobby, langkah tersebut perlu segera dilakukan karena daya tampung TPA Cikundul semakin terbatas. Pemerintah selama ini harus melakukan berbagai rekayasa agar aktivitas pembuangan sampah tetap dapat berjalan.
Karena itu, ia menilai penyelesaian sampah dari sumbernya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pengelolaan sampah Kota Sukabumi.
Bobby juga mendorong agar dukungan anggaran pemerintah diarahkan pada sarana yang dapat memperkuat pengelolaan sampah di tingkat masyarakat, seperti gerobak, keranjang sampah dan peralatan pengolahan lainnya.
Ia mengajak masyarakat bersama aparatur wilayah menjaga sistem tersebut agar tidak kembali pada pola lama setelah TPS ditutup.
Penutupan TPS Cipoho pun diharapkan menjadi titik awal perubahan kebiasaan masyarakat, dari sekadar membuang sampah menjadi memilah dan mengolahnya sejak dari rumah.
Dengan demikian, sampah yang sebelumnya berakhir di TPS dan kemudian dibawa ke TPA dapat ditekan sejak dari sumbernya.***(RAF)
Editor: Aab Abdul Malik
