26.7 C
Jakarta
Kamis, Mei 21, 2026

Latest Posts

Matsnawi Jalaluddin Rumi: Keterhubungan Ruh Manusia dengan Para Nabi dalam Tauhid Kenabian Ma‘rifatullah

Telaah Ontologis dan Spiritual atas QS Al-Hadid: 8

Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan 

1. Ruh Manusia Bukan Sekadar Biologis

Wartain.com – Dalam tradisi tasawuf Islam, khususnya dalam karya agung _Matsnawi_ karya Jalaluddin Rumi, manusia tidak dipandang sekadar makhluk biologis yang lahir lalu mati di dunia. Manusia adalah ruh yang berasal dari pancaran Ilahi dan membawa jejak kenabian di dalam dirinya.

Karena itu, hubungan manusia dengan para nabi bukan hanya hubungan historis. Ia adalah hubungan ruhani, ontologis, dan spiritual yang hidup di dalam kedalaman fitrah manusia.

Dalam perspektif  Tauhid Kenabian Ma‘rifatullah, para nabi adalah mata rantai cahaya yang menghubungkan manusia kepada Allah. Sedangkan ruh manusia adalah cermin yang mampu menerima pantulan cahaya tersebut, sesuai tingkat kesuciannya.

2. Seruan Rasul dan Perjanjian Primordial

Allah berfirman dalam QS Al-Hadid ayat 8:

“Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sungguh Dia telah mengambil perjanjianmu, jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”

Ayat ini mengandung dimensi yang sangat dalam. Seruan Rasul bukan sekadar ajakan verbal menuju agama formal. Ia adalah panggilan untuk kembali mengingat perjanjian primordial ruh manusia dengan Tuhan, sebagaimana termaktub pula dalam QS Al-A‘raf: 172.

Dalam Ma‘rifatullah, iman bukan hanya hasil logika. Ia adalah kebangkitan memori ruhani yang pernah bersaksi di hadapan Allah. Maka nabi hadir bukan membawa sesuatu yang asing bagi manusia. Nabi hadir untuk membangunkan sesuatu yang sudah ada dalam batin terdalam manusia: cahaya pengenalan kepada Tuhan.

3. Kerinduan Ruh dan Resonansi Kenabian

Rumi dalam _Matsnawi_ menggambarkan bahwa ruh manusia memiliki kerinduan abadi kepada asalnya. Kerinduan itu diibaratkan seperti seruling bambu yang merintih karena terpisah dari rumpunnya.

Simbol ini menunjukkan bahwa ruh manusia selalu mencari sumber cahaya pertamanya. Dalam konteks kenabian, para nabi adalah manifestasi sempurna dari ruh yang telah sepenuhnya tersambung kepada Allah.

Karena itu manusia merasakan getaran batin ketika mendengar wahyu, dzikir, atau kalam para nabi. Sebab di dalam dirinya terdapat resonansi ruhani yang berasal dari sumber yang sama.

4. Satu Hakikat Tauhid, Berbeda Syariat

Tauhid Kenabian Ma‘rifatullah memandang bahwa seluruh nabi membawa satu hakikat tauhid, walaupun syariat mereka berbeda sesuai zaman dan umatnya:

Nabi Adam: membawa kesadaran asal-usul manusia.
Nabi Nuh: membawa keteguhan ruh menghadapi banjir dunia.
Nabi Ibrahim: membawa tauhid penghancur berhala lahir dan batin.
Nabi Musa: membawa perjuangan melawan tirani ego dan kekuasaan.
Nabi Isa: membawa kelembutan ruh dan cinta Ilahi.
NabiMuhammadﷺ: membawa kesempurnaan cahaya kenabian sebagai rahmat semesta alam.

Ruh manusia yang bersih dapat merasakan keterhubungan batin dengan seluruh nabi tersebut. Bukan sebagai pemujaan personalitas, tetapi sebagai penyaksian terhadap satu cahaya Ilahi yang mengalir melalui mereka.

5. Ittiba‘: Menyelaraskan Ruh dengan Frekuensi Kenabian

Dalam perspektif ini, kenabian bukan sekadar institusi sejarah, melainkan medan cahaya spiritual. Para nabi adalah insan yang telah fana dari ego dan baqa dalam kehendak Allah.

Ketika manusia menempuh jalan _tazkiyatun nafs_ — penyucian jiwa, dzikir, tafakur, dan cinta Ilahi — sesungguhnya ia sedang menyelaraskan ruhnya dengan frekuensi kenabian.

Inilah makna terdalam _ittiba‘_ kepada nabi: bukan hanya meniru bentuk luar, tetapi menghadirkan kesadaran tauhid yang hidup sebagaimana hidup dalam diri para nabi.

6. Pewaris Cahaya Kenabian

Rumi memandang bahwa manusia memiliki kemungkinan untuk memantulkan sifat-sifat kenabian sesuai kapasitas ruhnya. Bukan menjadi nabi baru, karena kenabian telah ditutup, tetapi menjadi  pewaris cahaya kenabian (_waratsatul anbiya_).

Dalam hadis disebutkan bahwa ulama adalah pewaris nabi. Dalam makna Ma‘rifatullah, pewarisan itu bukan sekadar ilmu teks. Ia adalah cahaya kesadaran Ilahi yang menumbuhkan hikmah, kasih sayang, keadilan, dan penghambaan total kepada Allah.

7. Penutup: Perjalanan Pulang

Dengan demikian, keterhubungan ruh manusia dengan para nabi merupakan bagian dari misteri tauhid itu sendiri. Sebab seluruh ruh berasal dari Allah dan seluruh nabi adalah penunjuk jalan kembali kepada-Nya.

Ketika manusia terputus dari cahaya kenabian, ia kehilangan arah hidup dan terjebak dalam ego, materialisme, dan kehampaan spiritual.

Tetapi ketika ruh kembali tersambung kepada cahaya para nabi melalui iman, dzikir, dan Ma‘rifatullah, maka hidup tidak lagi sekadar perjalanan duniawi. Ia menjadi perjalanan pulang menuju Allah, sumber segala cahaya dan asal segala ruh.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.