Wartain.com – Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 151 siswa dan guru SMKN 1 Gunungguruh berbuntut panjang. Badan Gizi Nasional (BGN) mengaku kecewa karena laporan kejadian disampaikan sangat lambat.
Koordinator Wilayah BGN, Firman Julyansah, mengatakan gejala keracunan seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut sudah muncul sejak Kamis (1/10) dan Jumat (2/10/2026).
Anehnya, sekolah baru melapor ke SPPG pada Senin (5/10) sore. BGN bahkan baru mendapat laporan resmi pada Rabu (7/10) siang, setelah kasusnya ditangani fasilitas kesehatan.
“Jadi saya merasa dibohongi. Karena informasi yang saya terima tidak sesuai dengan fakta di lapangan,” ujar Firman.
Akibat jeda 6 hari tersebut, bukti kunci hilang. Sampel makanan di sekolah dan di SPPG sudah dimusnahkan karena SOP penyimpanan hanya 2×24 jam.
“Panjangnya jeda waktu pelaporan mengakibatkan sampel makanan, baik yang ada di sekolah maupun di SPPG, sudah dimusnahkan,” katanya.
BGN tetap turun ke lapangan dan menemukan dugaan pelanggaran jam konsumsi. Di label ompreng tertulis batas konsumsi maksimal pukul 13.00 WIB, namun makanan baru dimakan siswa sekitar pukul 15.00 WIB.
Sebagai sanksi, SPPG Cikujang 1 yang menjadi penyedia disetop operasionalnya.
“SPPG Cikujang 1 kita suspend selama 30 hari,” tegas Firman, sebagai langkah evaluasi total dan penegakan disiplin.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
