Oleh: Kang Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com – Dalam panggung kehidupan spiritual, manusia sering kali terjebak pada pengamalan bentuk-bentuk lahiriah tanpa menyelami hakikat di baliknya. Kita menyaksikan ritual ibadah dijalankan dengan tekun, aturan hukum dihafalkan dengan cermat, namun kehampaan jiwa tetap menyelimuti. Mengapa hal ini terjadi?
Jawabannya terletak pada keterbalikan logika spiritual dalam beragama. Sebuah kaidah ulama yang populer menyatakan, Awwalud din ma’rifatullah—awal agama adalah mengenal Allah. Tanpa pengenalan yang benar terhadap Sang Pencipta, tatanan Ad-Din (agama) dan Syariat (hukum) akan kehilangan ruh dan keberadaannya.
Untuk memahami konstruksi spiritual ini secara utuh, kita perlu menelaah makna dari tiga fondasi utama tersebut berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.
1. Ma’rifatullah: Akar dari Segala Keberagamaan
Ma’rifatullah secara bahasa berakar dari kata ‘arafa yang berarti mengenal atau memahami. Dalam terminologi syar’i, ma’rifatullah bukan sekadar tahu bahwa Allah itu ada (al-itla’), melainkan kesadaran batin yang mendalam akan keagungan, keesaan, sifat, dan nama-nama Allah SWT yang melahirkan rasa takut (khasyyah), cinta (mahabbah), serta ketundukan total.
Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan utama penciptaan tatanan alam semesta dan manusia adalah agar kita mengenal-Nya. Allah SWT berfirman:
”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. At-Talaq: 12)
Dalam Sunnah, Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan tauhid dan pengenalan kepada Allah sebagai pondasi pertama selama tiga belas tahun periode Makkah sebelum hukum-hukum syariat diturunkan secara bertahap. Mengenal Sang Pembuat Hukum adalah fondasi mutlak sebelum menjalankan hukum-Nya.
2. Ad-Din: Tatanan Hidup yang Utuh
Secara bahasa, Ad-Din mengandung arti kepatuhan, pembalasan, tatanan, atau jalan hidup. Dalam konteks Al-Qur’an, Ad-Din merujuk pada keseluruhan sistem keharusan yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama makhluk.
Allah SWT berfirman:
”Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)
Ad-Din adalah wadah besar yang mencakup akidah (keyakinan), syariat (aturan hukum), dan ihsan (keluhuran akhlak). Dalam Hadis Jibril yang sangat populer, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Ad-Din terdiri dari tiga pilar tersebut: Islam, Iman, dan Ihsan. Ad-Din bukanlah sekadar tumpukan ritual, melainkan kesadaran hidup teratur di bawah naungan kekuasaan-Nya.
3. Syariat: Jalan Terang Menuju Sang Pencipta
Kata Syariat secara etimologis berarti jalan menuju sumber air yang jernih (asy-syari’ah). Secara terminologis, syariat adalah kumpulan aturan, hukum, dan tata cara ibadah serta muamalah yang ditetapkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya untuk mengatur tata kehidupan manusia secara lahiriah.
Allah SWT berfirman:
”Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)
Syariat adalah benteng dan petunjuk operasional. Jika ma’rifatullah adalah bahan bakar dan ruhnya, maka syariat adalah rel fisik yang memastikan perjalanan hamba tidak melenceng dari batas keselamatan.
Perbedaan dan Hubungan Hierarkis
Meskipun ketiga istilah ini saling berkaitan, terdapat perbedaan mendasar pada fungsi dan posisi ketiganya:
Ma’rifatullah berorientasi pada dimensi batin dan fondasi akidah. Ia menjawab pertanyaan siapa yang kita sembah.
Syariat berorientasi pada dimensi lahiriah dan hukum amaliah. Ia menjawab pertanyaan bagaimana tata cara menyembah dan beraturan.
Ad-Din adalah payung besar yang merangkum keseluruhan hubungan batin dan lahir tersebut sebagai satu kesatuan tatanan hidup.
Secara rasional dan sistematis, mana mungkin sebuah tatanan Ad-Din dan penegakan Syariat dapat berjalan dengan benar jika seseorang tidak mengenal Sang Pembuat Ad-Din dan Syariat itu sendiri? Apabila syariat dijalankan tanpa ma’rifatullah, yang lahir hanyalah formalisme agama yang kering—ibadah yang terasa berat, keterpaksaan, atau bahkan sikap pamer (riya’). Sebaliknya, klaim ma’rifatullah tanpa penegakan syariat adalah kebohongan spiritual, sebab bukti nyata pengenalan kepada Allah adalah kepatuhan terhadap aturan-Nya.
Oleh karena itu, ma’rifatullah adalah awal, tengah, dan ruh dari seluruh bangunan keagamaan kita. Dengan mengenal Allah terlebih dahulu, setiap sujud dalam syariat menjadi penuh penghayatan, dan seluruh tatanan Ad-Din terwujud sebagai bentuk cinta serta penghambaan yang murni.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
