Wartain.com – Harapan besar disematkan kepada pemuda dan mahasiswa sebagai Generasi Z dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Dari kacamata budaya, generasi muda tidak hanya dituntut unggul secara teknologi, tetapi juga harus menjadi penjaga jati diri bangsa.
Hal itu mengemuka dalam Diskusi Aliansi Mahasiswa Merdeka (AMM) Jawa Barat bertema “Indonesia Revolution: Dismantling Inequality, Building Sovereignty, and Claiming Future of 2045″ di Komplek Dr. Curie 1, Kota Bandung, Senin (02/11/2026).
Tokoh Budayawan Sunda, A. Ginajar Akil yang hadir bersama Ketua PWI Jabar Tantan Sulthon Buchawan, Presidium KAHMI Jabar Husni Mubaroq, dan Aktivis ’98, menekankan pentingnya akar budaya sebagai fondasi menyongsong masa depan.
Menurut A. Ginanjar Akil , Indonesia Emas 2045 tidak akan bermakna jika generasi mudanya tercerabut dari nilai-nilai budaya, gotong royong, dan kearifan lokal. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini harus diisi dengan generasi yang berkarakter kuat dan berdaulat secara budaya.
Ia menyebut, sejarah mencatat anak muda selalu menjadi motor kemerdekaan, mulai dari zaman penjajah, pra kemerdekaan hingga era reformasi.
“Ini merupakan peluang dan tantangan bagi generasi anak muda sekarang untuk melakukan perubahan. Harapan Indonesia Emas 2045 harus dibangun dengan fondasi ide dan gagasan yang berakar pada budaya kita sendiri,” ujarnya, setelah selesai Diskusi.
Dari perspektif budaya, Generasi Z diharapkan mampu melakukan tiga hal:
1. Dismantling Inequality (Membongkar Ketimpangan): Menghapus ketimpangan akses pengetahuan budaya, memastikan kearifan lokal Sunda dan Nusantara tidak hanya menjadi milik museum, tapi hidup dalam keseharian dan teknologi.
2. Building Sovereignty (Membangun Kedaulatan): Membangun kedaulatan budaya di tengah arus globalisasi. Tidak menjadi penonton budaya luar, melainkan menjadi produsen konten budaya yang mendunia.
3. Claiming Future (Merebut Masa Depan): Generasi Z harus menjadi intelektual organik yang mampu menjadi katalisator, mengkolaborasikan nilai-nilai luhur budaya dengan inovasi energi baru, literasi digital, dan demokrasi yang sehat.
“Jika pemuda kehilangan budayanya, maka kita akan kehilangan arah menuju Indonesia Emas. Tapi jika budaya dijaga, maka kemajuan teknologi dan kedaulatan energi akan memiliki jiwa keindonesiaan,” tegasnya.
Dengan menguatnya gerakan literasi, diskusi, dan konsolidasi antar mahasiswa dari Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, Purwakarta hingga Ciamis ini, diharapkan Generasi Z mampu menjadi penjaga sekaligus pembaharu budaya untuk Indonesia yang berdaulat di tahun 2045.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
