Wartain.com || Duka mendalam keluarga sepeninggal Kayla Nur Sifa, salah seorang calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat Kabupaten Sukabumi, masih terlihat dan terasa.
Siapa sangka, Kayla Nur Sifa yang tercatat sebagai siswa di SMAN 1 Cisaat ini, punya asa yang tinggi untuk menjadi bagian personil Paskibraka tingkat Kabupaten dengan mengikuti seleksi.
Tekad yang kuat tertanam dalam diri Kayla. Berkat dukungan keluarga, dewan guru dan semua teman-temannya. Ia mencoba untuk mengikuti seleksi calon Paskibraka tingkat Kabupaten.
Benar saja, putri dari pasangan ayah Arya Ananta Nur (56) dan ibu Eneng Hamidah (50) ini, ikut mendaftar dan berhasil lolos seleksi.
Tapi, apa mau dikata, belum sempat dikukuhkan, Allah sudah memanggilnya. Ia meninggal ketika masih dalam proses seleksi kebugaran fisik, dengan mengikuti rangkaian lari beberapa putaran.

Di usinya yang baru menginjak 17 tahun, anak kedua dari dua bersaudara tersebut dinyatakan meninggal di RSUD Palabuhanratu, karena kelelahan.
Ditemui wartain.com di Kp. Cibentang RT 10 RW 05, Desa Cibentang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi. Keluarga almarhumah menuturkan, bagaimana shock nya mendengar kabar putrinya meninggal.
“Kami semua kaget, sedih dan berduka atas meninggalnya putri kami. Gak nyangka akan secepat ini meninggalkan kami,” tutur Eneng Hamidah sambil berurai air mata.
Ditanya terkait kepribadian Kayla, Eneng melanjutkan, almarhumah adalah seorang anak yang penurut, rajin beribadah dan berprestasi.
“Kayla tuh orang nya penurut, jarang keluar rumah kecuali ada urusan sekolah. Gak pernah ninggalin shalat, gak pernah nongkrong, istilah kata dia anak rumahan,” sambungnya.
Eneng menambahkan, bagaimana ia bangga melihat perkembangan anaknya yang memiliki tekad kuat untuk menggapai cita-citanya yang ingin sekali menjadi Polwan.

“Almarhumah mau jadi Polwan, makanya di sekolah ia ikut ekstrakurikuler Paskibra. Ya, sebagai orang tua kami hanya mendukung dan mendoakan yang terbaik buat Kayla,” tambahnya.
Senada, kakak kandung almarhumah, Khanif Nur I’zaaz (25), mengamini apa yang diucapkan ibundanya. Baginya, peristiwa yang menimpa Kayla untuk keluarganya adalah bentuk ujian dan cobaan dari Allah.
“Allah lebih sayang sama adik saya. Walupun sedih dan berduka kami menerimanya dengan legowo dan ikhlas. Namanya juga takdir Allah,” ucapnya sambil terbata-bata.
“Semoga keluarga kami diberikan kekuatan dalam menghadapi cobaan ini. Dan semoga almarhumah mendapat tempat yang mulia di sisi Allah,” pungkasnya.
Berdasarkan pantauan, ucapan dan karangan bunga sebagai bentuk duka dan simpatik terus berdatangan, tercatat ada dari BPIP, Bupati Sukabumi, Kesbangpol Kabupaten Sukabumi dan dari beberapa unsur lainnya.***
Foto : wartaun.com/Intan
Editor : Aab Abdul Malik
Reporter : Intan Fitri Utami
