26.7 C
Jakarta
Minggu, Maret 8, 2026

Latest Posts

Gie Say, Jejak Lama yang Tetap Hidup di Malam Imlek Sukabumi

Wartain.com || Malam menjelang Imlek di Sukabumi selalu menghadirkan suasana yang khas. Dentum tambur bersahutan, aroma dupa menguar dari pelataran vihara, dan barongsai bersiap menyambut pergantian tahun. Di antara barongsai modern yang ringan dan atraktif, Barongsai Gie Say tampil berbeda—lebih berat, lebih sederhana, namun menyimpan sejarah panjang.

Bagi Persaudaraan Gie Say Sukabumi, barongsai bukan sekadar hiburan tahunan. Ia tumbuh dari tradisi perguruan dan latihan fisik yang mengakar kuat di komunitas.

Sesepuh Persaudaraan Gie Say Sukabumi, Wan Gus Halim, menuturkan bahwa barongsai di komunitasnya berawal dari perguruan silat.

“Kalau zaman dahulu itu dimulai dari perguruan silat. Mereka menggunakan barongsai untuk permainan otot. Gie Say itu akulturasi antara China dan Indonesia,” ujarnya.

Dari sana, Gie Say berkembang dengan identitasnya sendiri. Ia tidak sepenuhnya mengikuti bentuk baku dari Tiongkok, melainkan lahir dari tafsir lokal masyarakat Sukabumi.

Wan Gus Halim menegaskan keunikan tersebut terlihat dari bentuk fisiknya. “Karena ini dibuat di Sukabumi dengan bentuk begini saya cari ke pusatnya nggak ada satu pun mirip. Kita ambil lambang dari abu dupa, pinggirnya ada gambar singa. Orang tua kita dulu,” katanya.

Detail abu dupa dan ornamen singa menjadi penanda khas yang membedakan Gie Say dari barongsai modern yang banyak beredar saat ini.

Persaudaraan Gie Say disebut telah berdiri sebelum tahun 1952. Pada masa awal, barongsai yang dimainkan masih berbentuk asli dari China. Perubahan terjadi ketika generasi lama mulai menciptakan bentuk baru yang khas.

“Berdirinya sebelum tahun 1952 cuman pada saat itu barongsai bukan seperti ini tapi barongsai asli dari China. Setelah dibuat, kita generasi penerus tidak menemukan jejak yg pasti tahun berapa, kita ambil acuan dari pembuatan barong Gie Say. Dia mengatakan dibuat tahun 1952,” ungkapnya.

Tahun 1952 pun dijadikan tonggak lahirnya bentuk barongsai khas Gie Say yang dikenal hingga kini.

Perbedaan paling mencolok terletak pada bobotnya. Jika barongsai modern umumnya berbobot 3 hingga 5 kilogram, Gie Say bisa mencapai 12 sampai 15 kilogram.

“Pada dasarnya semua hampir sama, cuma kita polos. Karena berat jadi tidak bisa selincah yang lain. Yang lain 3-5 kg, Gie Say ini 12-15 kg,” jelas Wan Gus Halim.

Namun bobot tersebut justru menjadi bagian dari filosofi awalnya. “Menurut cerita orang tua dulu itu sengaja dibuat untuk melatih otot. Yang mendirikan itu Tung Gi Ken,” katanya.

Nama Tung Gi Ken dikenang sebagai sosok yang merintis dan mengembangkan tradisi barongsai Gie Say di Sukabumi.
Seiring waktu, barongsai berkembang menjadi cabang olahraga prestasi.

“Sekarang barongsai sudah berkembang. Ada yang tradisi dan prestasi. Kalau prestasi di bawah KONI, masuk ke cabor dan telah dipertandingkan di Aceh,” ujarnya.

Perkembangan itu juga membawa penyesuaian ukuran. “Akibat dari perkembangan ya itu agak sedikit kecil, dibuat lagi tahun 1957,” tuturnya. Meski demikian, ciri khas Gie Say tetap dipertahankan.

Perayaan Imlek di Sukabumi sendiri terpusat di Vihara Widhi Sakti. Di sana, rangkaian acara digelar sejak malam pergantian tahun.

Staf pengurus vihara, Dani Tirta, menjelaskan susunan kegiatan yang telah disiapkan. “Untuk sesi malam ini akan dibagi menjadi 3 sesi, untuk dari jam 8 sampai jam 10 kita akan melakukan atraksi barongsai penghormatan dari Persaudaraan Gie Say terhadap Yang Mulia Kongco Han Tan Kong, lalu dilanjutkan dengan ibadah bersama, lalu jam 12 sampai jam 1 kita ada penyalaan lilin,” ujarnya.

Atraksi barongsai menjadi simbol penghormatan sekaligus pembuka ibadah. Setelah doa bersama, penyalaan lilin tepat tengah malam menjadi penanda harapan menyongsong tahun baru.

Di tengah modernisasi barongsai yang semakin kompetitif dan atraktif, Gie Say tetap bertahan dengan bentuknya yang khas. Ia mungkin tak melompat tinggi di atas tonggak seperti barongsai lomba, tetapi setiap geraknya membawa jejak sejarah, latihan ketahanan, dan identitas lokal yang diwariskan lintas generasi.
Barongsai itu mungkin tak ditemukan di China.

Namun di Sukabumi, ia tumbuh, hidup, dan menemukan rumahnya.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.