Wartain.com || Harga minyak mentah dunia kembali menguat tajam pada perdagangan Rabu (25/3/2026), memulihkan sebagian besar kerugian dari sesi sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh keraguan para pelaku pasar energi terhadap klaim Presiden AS Donald Trump mengenai kemajuan perdamaian dengan Iran, menyusul bantahan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Teheran.
Berdasarkan data ekonomi terbaru dari CNBC, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei melonjak lebih dari 4% hingga menyentuh level USD 104,49 per barel. Sejalan dengan itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman yang sama juga ditutup menguat di level USD 92,35 per barel.
Pemulihan harga ini merupakan respons balik atas volatilitas ekstrem yang terjadi sejak awal pekan. Sebelumnya, harga Brent sempat merosot tajam hingga 11% ke level USD 99 per barel akibat sentimen optimisme dari Gedung Putih.
Gejolak pasar bermula dari unggahan Presiden Donald Trump di platform Truth Social pada Senin lalu. Dalam pernyataannya, Trump mengklaim adanya terobosan diplomatik besar.
“Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat, dan negara Iran, selama dua hari terakhir, telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian penuh dan total atas permusuhan kita di Timur Tengah.”
Trump juga menambahkan bahwa dirinya telah memberikan instruksi militer khusus.
“Saya telah memerintahkan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari.”
Namun, optimisme pasar saham yang sempat melonjak segera meredup setelah pihak Iran membantah adanya negosiasi apa pun dengan Washington. Ekonom Senior Interactive Brokers, José Torres, menilai pasar kini lebih bersikap realistis terhadap risiko perang yang berkepanjangan.
“Terlepas dari euforia di Wall Street, hadirin sekalian, harga minyak jauh di atas titik terendahnya setelah Teheran membantah melakukan negosiasi apa pun dengan Washington pada akhir pekan,” ujar Torres.
Ketegangan di wilayah Timur Tengah tetap menjadi faktor dominan yang membayangi stabilitas pasokan energi dunia. Perhatian utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang melayani sekitar 20% pasokan minyak global melalui laut.
Torres memperingatkan bahwa serangan berulang pada infrastruktur energi penting di kawasan tersebut memicu kekhawatiran akan gangguan kapasitas produksi yang permanen.
Meski media pemerintah Iran menyebutkan akan mengizinkan transit aman bagi kapal tertentu, para analis memprediksi biaya energi akan tetap bertahan di level tinggi, melampaui angka awal tahun, selama belum ada kesepakatan diplomatik yang konkret dan diakui oleh kedua belah pihak.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Sule)
