26.7 C
Jakarta
Rabu, Februari 11, 2026

Latest Posts

Jembatan Putus, Akses Sekolah Warga Tanjungsari Sukabumi Terhambat

Wartain.com || Kerusakan jembatan gantung di Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, berdampak serius terhadap aktivitas warga, khususnya anak-anak sekolah. Jembatan tersebut putus akibat luapan Sungai Cimandiri pada 28 Desember 2025 lalu.

Sejak jembatan tidak bisa digunakan, para pelajar terpaksa menyeberangi Sungai Cimandiri menggunakan perahu karet yang disiagakan BPBD Kabupaten Sukabumi. Alternatif lainnya adalah memutar jalur darat dengan jarak tempuh belasan kilometer.

Jembatan gantung sepanjang sekitar 40 meter dan lebar 1,2 meter itu sebelumnya menjadi akses utama penghubung Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, dengan Kampung Kebonjati, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh. Kini, jembatan tersebut rusak total dan hanya menyisakan rangka.

Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, mengatakan dampak kerusakan jembatan dirasakan oleh warga di tiga kecamatan, yakni Jampangtengah, Gunungguruh, dan Cikembar.

“Jembatan ini merupakan akses tercepat menuju sekolah di Desa Sirnaresmi dan Desa Parakanlima. Bahkan warga dari Desa Wangunreja dan Sukamaju, Kecamatan Nyalindung, juga biasa menggunakan jalur ini,” kata Dilah, Kamis (22/01/2026).

Di sekitar lokasi terdapat dua sekolah dasar, yakni SDN Kadupugur dan SDN Leuwidinding. Sebagian besar siswanya berasal dari wilayah seberang Sungai Cimandiri. Di Kampung Leuwidinding sendiri, terdapat delapan RT yang terdampak langsung.

Sebagai solusi sementara, BPBD menyiagakan perahu karet untuk membantu penyeberangan warga. Namun, Dilah menilai langkah tersebut masih berisiko, terutama saat hujan deras di wilayah hulu sungai yang menyebabkan debit air naik secara tiba-tiba.

“Jika hujan deras, arus sungai meningkat dan penyeberangan menjadi berbahaya,” ujarnya.

Pemerintah Desa Tanjungsari berharap pemerintah daerah maupun provinsi segera membangun jembatan permanen agar aktivitas warga, khususnya pendidikan anak-anak, kembali normal.

Sementara itu, Popi (35), warga Desa Tanjungsari, mengaku harus mengantar anaknya menyeberangi sungai setiap hari. Jika kondisi tidak memungkinkan, ia dan keluarganya terpaksa menggunakan jalur alternatif melalui kawasan PT Siam Cement Group (SCG) dengan jarak tempuh yang jauh lebih panjang.

“Kalau lewat jalur alternatif jaraknya hampir tiga kali lipat. Suami saya yang bekerja naik motor harus lewat sana setiap hari,” katanya.

Hingga kini, warga masih bergantung pada bantuan BPBD untuk menyeberang. Di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih terjadi, keselamatan pelajar dan warga tetap menjadi perhatian utama.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.