Disclaimer : Tidak untuk Ditiru!
Wartain.com || Alumni Siswa Tingkat SMP di wilayah Cikembar Kabupaten Sukabumi berinisial S mengaku mengalami tindakan kekerasan di lingkungan sekolah. Kejadian yang diduga berlangsung pada 3 Januari 2025 itu bermula saat korban mengantar temannya ke kamar mandi.
S dulunya sekolah di tempat AK (14) siswa yang meregang nyawa usai mengakhiri hidupnya sendiri. Diduga mendapat perundungan di sekolah yang sekarang ramai diperbincangkan.
Menurut penuturan S saat kejadian ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, tanpa penjelasan yang jelas, dirinya disebut-sebut oleh teman lain hingga akhirnya terjadi insiden yang membuat suasana sekolah menjadi ricuh.
“Saya hanya mengantar teman ke kamar mandi, tidak tahu kalau ada orang di dalam. Tiba-tiba kejadian begitu saja,” ungkap S saat menceritakan ulang peristiwa tersebut, Jumat 31/10/2025.
Beberapa teman S menyebut bahwa setelah kejadian, S sempat dipanggil ke lapangan oleh guru, disaksikan banyak siswa lain. Suasana menjadi tidak kondusif ketika nama S disebut melalui pengeras suara dan dihadapkan di depan umum.
S mengaku mengalami perlakuan kasar yang dilakukan oleh salah satu guru Perempuan berinisial R hingga rambutnya ditarik dan bagian kepala terasa sakit. Kejadian itu disebut membuatnya trauma dan malu, terlebih karena disaksikan oleh banyak siswa.
Sementara itu RM (36) Ibu S juga mengaku tidak mengetahui detail kejadian pada awalnya, karena sang ibu sedang bekerja. Setelah mendapatkan informasi dari teman-teman anaknya dan melihat bukti foto, keluarga merasa terpukul.
“Saya baru tahu setelah anak saya menangis di rumah. Waktu itu saya baru pulang kerja. Kalau memang benar dijambak oleh guru, saya tentu tidak terima,” ujarnya.
S disebut sempat dibawa ke ruang perpustakaan tanpa diminta klarifikasi. Namun, menurut keterangan yang diterima keluarga, tidak ada penjelasan rinci mengenai alasan tindakan tersebut.
Dari informasi yang beredar di lingkungan sekolah, kejadian ini sempat dikaitkan dengan dugaan pelanggaran kedisiplinan siswa senior terhadap siswa baru. Namun S membantah tudingan itu.
“Saya tidak pernah mengerjai adik kelas. Saya hanya kebetulan lewat dan mengantar teman,” tegasnya.
Keluarga S berharap pihak sekolah dapat menindaklanjuti dan mengklarifikasi kejadian ini dengan transparan, agar tidak terjadi kesalahpahaman dan untuk menjaga kenyamanan belajar para siswa.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tindakan kekerasan yang dialami siswi tersebut.***
Catatan Penting : Berita ini bentuknya hanya informatif, bukan untuk mendidik dan tidak untuk ditiru. Perlu ada pendampingan dari orang tua dalam memahami konten berita ini.
Editor : Aab Abdul Malik
(Intan)
