Wartain.com – Aksi unjuk rasa yang berlangsung di Kota Bandung pada 20 Oktober 2026 menyisakan luka mendalam, bukan hanya secara fisik melainkan juga secara spiritual. Insiden tragis perusakan dua armada mobil Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu gelombang keprihatinan dari berbagai tokoh masyarakat, pegiat literasi, pengusaha mikro, hingga ulama.
Pernyataan sikap bersama ini disampaikan secara terbuka oleh Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), M. Rafi Asyam (Forum UMKM Sukabumi), dan Ustad Hendi Suhendi (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara). Mereka mengajak masyarakat melihat peristiwa ini dengan jernih, mendalam, dan menggunakan mata hati.
Ikhtiar Mulia yang Tercoreng Amarah
Setiap hari, kedua mobil tersebut bergerak dalam kesunyian yang berkah. Tugasnya mulia: mengantarkan makanan sehat untuk para siswa, guru, bayi, serta ibu hamil dan menyusui. Di balik roda yang berputar, ada keringat warga masyarakat biasa yang menginvestasikan dan menyewakan mobilnya demi mendukung kelancaran program kemanusiaan ini.
“Kami sangat prihatin atas kejadian perusakan dua mobil MBG saat aksi unjuk rasa di Kota Bandung,” ungkap para tokoh dalam pernyataan bersamanya. “Kenapa dan ada apa sampai amarah begitu besar, hingga mobil yang mengemban misi suci ini dijadikan sasaran?”
Dari kacamata spiritual, memberi makan kepada mereka yang membutuhkan—terutama anak-anak dan ibu hamil—adalah salah satu bentuk ibadah tertinggi di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Merusak fasilitas pengantar kebaikan ini adalah sebuah tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas itu sendiri.
Provokasi yang Merugikan Rakyat Kecil
Insiden ini mengindikasikan adanya ruang-ruang gelap provokasi yang sengaja disusupkan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan rakyat kecil sejahtera. Program MBG dirancang nyata untuk memastikan siswa pelajar mendapatkan asupan bergizi setiap hari.
Ketika amarah membutakan mata hati, yang menjadi korban bukan lagi kebijakan, melainkan hak-hak anak yatim, pelajar, dan generasi penerus bangsa yang membutuhkan gizi terbaik. Perusakan ini menjadi bukti nyata bagaimana provokasi dapat menghancurkan ikhtiar baik yang sedang dibangun bersama.
Mengawal Gizi Terakhir untuk Indonesia Emas
Melalui momentum keprihatinan ini, Dede Heri, M. Rafi Asyam, dan Ustad Hendi Suhendi menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk merapatkan barisan.
Mari kita bersama-sama:
• Menjaga dan mengawal agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan tanpa hambatan.
• Memfilter informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh tindakan anarkis yang merugikan kepentingan publik.
• Mendoakan dan melindungi setiap aset serta relawan yang bergerak di lapangan demi kebaikan umat.
Masa depan kualitas SDM generasi penerus berada di tangan kita hari ini. Memastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi adalah investasi dunia dan akhirat untuk menjemput impian besar kita bersama: Indonesia Emas.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
