Oleh: Dadang Sahroni/ Koordinator Presidium MD KAHMI Sukabumi/ Warek I UMN Sukabumi
Wartain.com – Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat akan kontribusi besar pesantren dalam membangun fondasi pendidikan Indonesia secara makro.
Sejak jauh sebelum Indonesia merdeka, pesantren telah menjadi pusat pendidikan rakyat. Di saat akses pendidikan formal masih terbatas, pesantren hadir mengajarkan baca-tulis, etika, kepemimpinan, hingga kemandirian ekonomi.
Dalam konteks pendidikan makro hari ini, ada tiga pelajaran besar dari dunia santri yang relevan untuk kemajuan pendidikan nasional:
1. Pendidikan Karakter sebagai Inti, Bukan Tambahan
Sistem pesantren tidak hanya mengejar nilai akademik, tapi membentuk adab, disiplin, dan tanggung jawab. Di tengah krisis karakter dan etika digital, model pendidikan holistik ala pesantren menjadi jawaban. Pendidikan makro harus kembali menempatkan karakter di atas sekadar angka.
2. Inklusi dan Kemandirian
Pesantren menerima semua kalangan tanpa sekat ekonomi. Dengan sistem asrama, santri belajar hidup mandiri, gotong-royong, dan wirausaha. Ini adalah blueprint pendidikan yang inklusif dan tidak melulu bergantung pada APBN, melainkan melahirkan kemandirian.
3. Transformasi Digital yang Berakar
Hari Santri 2026 mengusung semangat santri melek digital. Ini menjadi simbol bahwa kemajuan pendidikan makro harus mampu menjembatani tradisi dan inovasi. Kitab kuning tetap dikaji, tapi metode belajarnya sudah menggunakan Learning Management System, kelas hybrid, dan konten dakwah digital.
Sebagai Koordinator Presidium MD KAHMI Sukabumi yang juga Warek I UMN Sukabumi, dalam peringatan Hari Santri Nasional 2026 menegaskan, jika Indonesia ingin maju, maka pesantren tidak boleh ditempatkan di pinggiran kebijakan pendidikan.
Pesantren adalah laboratorium pendidikan nasional. Dari sana kita belajar bagaimana pendidikan bisa membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya tenaga kerja. Memajukan pesantren berarti memajukan pendidikan Indonesia secara makro.
Ke depan, sinergi antara Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan, dunia industri, dan media menjadi kunci agar ekosistem pendidikan pesantren naik kelas, terakreditasi global, dan melahirkan santri-santri yang siap bersaing di tingkat dunia tanpa kehilangan jati diri keislaman dan keindonesiaan.
Selamat Hari Santri Nasional 2026. Dari pesantren, kita bangun peradaban pendidikan Indonesia.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
