26.7 C
Jakarta
Senin, Juni 8, 2026

Latest Posts

Sekilas Marifat Ruhullah : Nafas Cinta dari Yang Maha Agung

Oleh: Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan

Pendahuluan: Mencari Ruh yang Hilang

Wartain.com || Dalam kehidupan yang penuh hiruk-pikuk duniawi, manusia kerap lupa bahwa ia berasal dari nafas cinta Tuhan. Ia sibuk mengejar bayangan dan melupakan cahaya. Namun Allah, dalam kasih-Nya yang tak terhingga, meniupkan ke dalam manusia sebuah percikan keilahian: Ruhullah — ruh dari-Nya.

Istilah ini muncul dalam Al-Qur’an dan menjadi misteri spiritual besar yang disingkap secara mendalam oleh para wali dan sufi agung. Bab ini akan menggali makna Ruhullah bukan sekadar sebagai identitas kenabian Isa a.s., tetapi sebagai tanda cinta Tuhan yang mengalir dalam setiap ruh murni.

Ruhullah dalam Al-Qur’an: Nafas dari Sang Maha Hidup

Allah berfirman:

“Sesungguhnya al-Masih Isa putra Maryam adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya.”
(QS. An-Nisa: 171)

Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Isa membawa ruh yang berasal dari Tuhan. Namun istilah “minhu” (dari-Nya) bukan berarti Isa adalah bagian dari dzat Allah — melainkan ia menerima tiupan ruh yang suci, istimewa, dan bercahaya.

Demikian pula ketika Allah menciptakan Adam:

“Kemudian Aku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku…”
(QS. Al-Hijr: 29)

Dengan ini kita memahami bahwa Ruhullah adalah bagian dari sistem penciptaan ilahi, bukan terikat pada satu nabi. Isa al-Masih adalah manifestasi istimewa, namun bukan satu-satunya cerminan Ruhullah. Setiap insan sejati yang hidup dalam cinta dan kesucian ruh turut memancarkan Ruhullah itu sendiri.

Sabda Rasulullah SAW: Ruh adalah Misteri Cinta

Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW tidak mendeskripsikan ruh secara teknis, tapi menegaskan hakikatnya sebagai rahasia Tuhan:

“Ruh adalah urusan Tuhanku.” (QS. Al-Isra: 85)

Namun dalam sabda beliau yang tersembunyi dalam tasawuf, dikenal bahwa:

“Awal ciptaan Allah adalah ruhku…”

Ini menunjukkan bahwa Ruhullah dalam bentuk paling agung adalah realitas Muhammad, dan Isa a.s. adalah cermin dari ruh tersebut — percikan dari samudera Muhammad, yang adalah manifestasi sempurna Ruhullah.

Imam Ali a.s.: Ruh yang Mengenal Ruh

Imam Ali dalam Nahjul Balaghah menyatakan:

“Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan, dan aku mengenal yang selain-Nya melalui cahaya-Nya.”

 

Bagi Imam Ali, ruh sejati adalah yang mengenal asalnya — mengenal Ruhullah. Dalam hikmah beliau, dikenal bahwa manusia adalah “nafas Tuhan di bumi”. Ruhullah adalah hembusan cinta dari langit yang menjadikan manusia makhluk termulia.

Dalam riwayat-riwayat Syiah, Isa dipandang sebagai salah satu “pembawa ruh ilahiah” yang jernih, tapi hakikat ruh agung itu sendiri memuncak dalam Muhammad dan Ahlul Bait.

Para Sufi Agung: Ruhullah dalam Dada Para Kekasih

Al-Hallaj:

Ia berkata, “Ana al-Haqq” — bukan karena mengaku Tuhan, tapi karena ruhullah mengalir dalam dirinya, hingga ia tak melihat selain Tuhan dalam dirinya. Isa pun berkata hal serupa: “Aku adalah jalan kepada Bapa.” — sebuah ungkapan ma’rifah, bukan kesyirikan.

Ibn Arabi:

Dalam Fushush al-Hikam, Ibn Arabi menyebut Isa sebagai “ruh yang mengandung rahasia penciptaan”, namun ia menyatakan bahwa Ruhullah sejati adalah hakikat ketuhanan yang menyatu dalam makhluk melalui cinta dan kesucian jiwa.

Jalaluddin Rumi:

Rumi menggambarkan Ruhullah sebagai “musik dari langit yang membuat roh menari.” Bagi Rumi, ketika seseorang jatuh cinta kepada Tuhan, ia telah disentuh oleh Ruhullah. Isa hanya salah satu manifestasi dari tarian ilahi itu.

Ruhullah dalam Diri Kita: Jalan Menuju Kesucian

Bukan hanya Isa yang membawa Ruhullah. Setiap manusia yang kembali kepada fitrah sucinya, yang mencintai Tuhan dan makhluk-Nya, adalah penampakan kecil dari Ruhullah. Ruhullah bukan monopoli satu sosok. Ia adalah jiwa cinta yang hidup di dada para wali, pecinta, dan pejalan ruhani.

Jika Isa adalah percikan Ruhullah, maka Muhammad SAW adalah matahari agungnya, dan kita semua dipanggil untuk memantulkan cahayanya dalam akhlak, kasih sayang, dan keikhlasan.

Penutup: Ruhullah adalah Cinta Itu Sendiri

Ruhullah bukan untuk diperdebatkan secara doktrinal, tapi untuk dirasakan dengan hati yang mencinta. Ia adalah napas Tuhan yang lembut, yang menghidupkan setiap jiwa yang bersih. Isa hanyalah secercah dari samudera Ruhullah — samudera yang kini masih memanggil kita untuk menyelam di dalamnya.

Bukankah cinta sejati selalu berasal dari nafas Tuhan? (***)

Foto : Ilustrasi

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.