26.7 C
Jakarta
Rabu, Juni 10, 2026

Latest Posts

Tragedi Siswi MTs Sukabumi: Dugaan Bullying dan Penolakan Keluarga terhadap Upaya Damai

Bisnisnews.net || Duka mendalam menyelimuti keluarga seorang siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Cikembar, Kabupaten Sukabumi, berinisial AK atau Eneng (14), yang ditemukan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri pada Selasa (28/10/2025) malam. Peristiwa tragis itu menguak dugaan adanya perundungan di lingkungan sekolah yang diduga menjadi pemicu tekanan psikologis korban.

Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 23.00 WIB di rumah korban di Kampung Bojong Kaler, Kecamatan Cikembar. Sang nenek menjadi orang pertama yang menemukan AK dalam keadaan tergantung di pintu kamar.

“Neneknya hendak keluar kamar tapi pintu terhalang. Setelah diperhatikan, ternyata cucunya yang tergantung. Warga langsung berdatangan,” tutur Sekretaris Desa Bojongkaler, Dede Nuryadin, Kamis (30/10/2025).

Petugas dari kepolisian, Puskesmas, Danramil, dan Satpol PP segera mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal. Diketahui, AK tinggal bersama ibunya dan nenek, sementara sang ayah bekerja di luar daerah.

Paman korban, Topik Walhidayat (35), mengungkapkan bahwa AK sempat beberapa kali mengeluh kepada keluarga soal ketidaknyamanan di sekolah.

“Sekitar dua minggu sebelum kejadian, ibunya sempat menyampaikan ke wali kelas bahwa Eneng ingin pindah sekolah karena merasa tidak betah,” jelasnya.

Topik juga membenarkan adanya surat yang ditemukan di kamar korban, berisi ungkapan kecewa dan sakit hati terhadap teman-teman sekolahnya.

“Dalam surat itu ada kalimat yang jelas menggambarkan perasaan terlukanya akibat ucapan teman di kelas. Kami yakin ini bukan sekadar masalah kecil, tapi bentuk perundungan verbal,” tegasnya.

Pihak keluarga menolak segala bentuk upaya damai dan bersikeras agar proses hukum tetap berjalan.

“Ini menyangkut nyawa anak. Kami tidak mau diselesaikan dengan mediasi atau kekeluargaan. Harus diproses secara hukum,” kata Topik.

Sementara itu, Kepala Sekolah MTsN 3 Cikembar, Wawan Setiawan, menegaskan bahwa selama ini pihak sekolah tidak pernah menemukan indikasi kuat adanya tindakan bullying terhadap korban.

“Ananda A adalah siswa yang aktif, berprestasi, dan punya kepribadian baik. Kami sudah pernah memediasi perbedaan pendapat antara dia dengan kakak kelasnya, dan mereka sudah saling memaafkan,” ujarnya.

Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi melalui Kasubbag TU, Agus Santosa, mengonfirmasi memang sempat terjadi perselisihan kecil antara korban dengan kakak kelasnya.

“Ada perbedaan pendapat antara siswa kelas VIII dan IX, tapi tidak sampai bentrok fisik. Mungkin hanya ucapan atau candaan yang menyinggung,” ucap Agus.

Ia mengingatkan bahwa bentuk perundungan tak selalu berupa kekerasan fisik. “Sering kali bullying terjadi lewat kata-kata yang dianggap bercanda, padahal bisa sangat menyakitkan bagi anak,” tambahnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, menyampaikan pihaknya akan memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban dan siswa lain yang terdampak.

“Kami ingin memastikan anak-anak dan guru mendapatkan pendampingan agar kejadian seperti ini tidak terulang. Sekolah juga harus lebih peka terhadap tanda-tanda tekanan psikologis pada peserta didik,” katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, Ferry Supriyadi, menilai kasus ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak, terutama lembaga pendidikan yang selama ini mengklaim sebagai “sekolah ramah anak.”

“Kita sering membanggakan predikat ramah anak, tapi fakta di lapangan justru sebaliknya. Masih ada anak yang kehilangan nyawa karena lingkungan sosial sekolah yang tidak aman,” ujarnya.

Ferry menegaskan perlunya sistem pencegahan dan deteksi dini di sekolah.

“Harus ada langkah konkret, bukan hanya reaksi setelah tragedi terjadi. Pemerintah dan sekolah perlu membangun sistem perlindungan anak yang berkelanjutan,” tegasnya.

Hingga saat ini, Polres Sukabumi masih menyelidiki penyebab pasti kematian korban dan menelusuri kemungkinan adanya unsur perundungan. Belum ada pihak yang ditetapkan sebagai tersangka.

Kasus tragis ini menggugah perhatian publik terhadap lemahnya perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Di tengah gencarnya kampanye “sekolah ramah anak”, kematian AK menjadi pengingat bahwa empati, pengawasan, dan komunikasi di sekolah masih jauh dari kata ideal.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.