26.7 C
Jakarta
Kamis, April 30, 2026

Latest Posts

Gua Hira, Literasi, dan Solidaritas: Menemukan Kembali Makna 17 Ramadhan di Masa Kini

Oleh : Yosep Maulana/Ketua Forum Mahasiswa Palabuhanratu

Wartain.com || Lebih dari empat belas abad yang lalu, tepat di keheningan malam 17 Ramadhan (sekitar tahun 610 M), sebuah peristiwa besar mengubah arah peradaban manusia. Di balik dinginnya dinding batu Gua Hira, Jabal Nur, seorang pria berusia 40 tahun bernama Muhammad SAW menerima getaran wahyu pertama melalui perantara Malaikat Jibril.

Peristiwa yang kita kenal sebagai Nuzulul Qur’an ini tidak dimulai dengan perintah untuk berperang atau membangun kekuasaan, melainkan dengan satu kata yang menjadi fondasi kemanusiaan: “Iqra!” (Bacalah).

Lima Ayat yang Mengubah Dunia
Surah Al-Alaq ayat 1-5 turun sebagai pembuka tabir kegelapan jahiliyah. Allah SWT berfirman:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Perintah ini bukan sekadar mengeja huruf, melainkan sebuah seruan untuk melakukan observasi, riset, dan tadabbur terhadap alam semesta serta hakikat diri manusia.

Perintah “Iqra” (Bacalah) dalam Surah Al-‘Alaq tidak berhenti pada kemampuan literasi, melainkan meluas pada kemampuan membaca tanda-tanda zaman dan kondisi sosial. Di tahun 2026 ini, di mana teknologi seringkali membuat jarak antarmanusia semakin lebar meski terhubung secara digital, ayat ini hadir sebagai pengingat untuk “melihat” sekeliling.

1. Membaca Penderitaan Sesama
Membaca keadaan berarti tidak menutup mata terhadap tetangga yang kesulitan atau saudara yang membutuhkan. Wahyu pertama ini menekankan bahwa manusia diciptakan dari “Al-Alaq” (segumpal darah) sebuah simbol keterikatan. Kita semua berasal dari unsur yang sama, sehingga rasa sakit satu orang seharusnya dirasakan oleh yang lain. Saling menolong adalah bentuk nyata dari pengamalan “membaca” kebutuhan sesama.

2. Literasi Empati di Era Modern
Jika Nabi Muhammad SAW berkhalwat untuk mencari solusi atas krisis moral di Mekkah, maka bagi kita sekarang, “berkhalwat” sejenak dari kebisingan media sosial diperlukan untuk menumbuhkan empati. Membaca keadaan bukan sekadar melihat statistik kemiskinan atau bencana di layar ponsel, tapi menindaklanjutinya dengan aksi nyata.

3. Ilmu yang Memberi Manfaat
Ayat 4-5 menyebutkan tentang Tuhan yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Di sini, ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita miliki saat ini baik itu berupa platform donasi digital, grup komunikasi warga, hingga kecerdasan buatan seharusnya digunakan sebagai alat (kalam) untuk mempercepat bantuan dan mempermudah aksi kemanusiaan.

“Tangan yang memberi adalah implementasi dari akal yang telah membaca kebenaran wahyu. Al-Qur’an diturunkan bukan untuk sekadar dibaca di atas sajadah, tapi untuk membumikan bantuan di atas tanah.”

Maka, Nuzulul Qur’an di masa kini adalah momentum untuk menghidupkan kembali semangat tolong-menolong. Membaca ayat Tuhan berarti juga membaca air mata mereka yang menderita dan bergerak untuk menghapusnya. Karena ilmu tanpa amal sosial adalah seperti pohon yang tidak berbuah.*** (YM)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.