Wartain.com || Suhu udara terik menyengat kulit di berbagai wilayah Indonesia sepanjang April-Mei 2026 memicu spekulasi: apakah kita sedang kena gelombang panas atau heatwave?
BMKG tegas membantah. Menurut standar Badan Meteorologi Dunia (WMO), heatwave adalah anomali suhu 5°C di atas rata-rata klimatologis selama lima hari berturut-turut. Fenomena itu umum terjadi di lintang menengah-tinggi, bukan di ekuator.
Sebagai negara tropis, Indonesia secara teknis tidak mengalami gelombang panas. Cuaca terik saat ini murni siklus ekstrem tropis yang dipengaruhi faktor astronomis dan meteorologis, bukan heatwave.
Penyebab utama menurut BMKG: gerak semu tahunan matahari yang kini berada di sekitar ekuator. Akibatnya, intensitas penyinaran ke wilayah Indonesia sangat tinggi, optimal, dan durasinya lebih lama.
Faktor kedua, minimnya tutupan awan karena masa pancaroba menuju kemarau. Tanpa “payung alami” dari awan, radiasi UV dan sinar matahari menghantam bumi tanpa hambatan. Panas yang diserap tanah jadi maksimal.
Pemanasan global memperparah kondisi. Dampak jangka panjang perubahan iklim membuat tren suhu ekstrem makin sering muncul dari tahun ke tahun.
Meski bukan heatwave, ancamannya nyata. Beberapa daerah mencatat suhu tembus 37°C. Skenario terburuknya terkait El Nino 2026: puncak panas bisa picu defisit hujan ekstrem, kekeringan panjang, krisis air bersih, hingga ketahanan pangan terganggu.
Data bicara. Di Jakarta, hari dengan panas ekstrem melonjak dari 28 hari per tahun pada 1994–2003 menjadi 167 hari per tahun pada 2014–2023. Lonjakan hampir 6 kali lipat dalam dua dekade.
Direktur Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, menyebut masyarakat dan pemerintah kerap menyepelekan cuaca panas karena dianggap wajar. Padahal risikonya mematikan: heatstroke dan dehidrasi akut.
Para ahli dorong pemerintah segera susun Heat Action Plan (HAP). Indonesia belum punya panduan mitigasi bencana panas dan literasi kesehatan publik yang memadai. Edukasi harus digeser: jangan normalisasi suhu ekstrem. Jaga hidrasi, pakai tabir surya, sambil menunggu langkah strategis mitigasi iklim yang terstruktur.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
