26.7 C
Jakarta
Senin, April 27, 2026

Latest Posts

Melampaui Ijazah, Ki Oje Dorong Pesantren Siapkan “Exit Strategy” Santri

Wartain.com || Direktur Eksekutif YPJC, Owin Jamasy Jamaluddin, menekankan pentingnya perubahan paradigma pendidikan pesantren agar tidak berhenti pada rutinitas administratif semata. Ia mendorong lembaga pendidikan merancang “exit strategy” atau strategi kemandirian bagi santri sebelum lulus.

Gagasan itu disampaikan Prof Owin/Ki Oje dalam kegiatan “Program Santri Mandiri Jilid II” bersama Pesantren Daaruttarmizi Sukabumi, yang berlangsung di Laboratorium Pemberdayaan Jamasy YPJC, Sukabumi.

“Hakikat pendidikan bukan sekadar mengajar, ujian, dan ijazah. Kita harus memikirkan bagaimana santri bisa bertahan dan menang saat terjun ke masyarakat yang penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Menurut Ki Oje, ijazah hanya berfungsi sebagai tiket awal. Sementara itu, kemampuan adaptif dan ketahanan diri menjadi faktor penentu keberhasilan santri di dunia nyata.

Dalam pemaparannya, ia memperkenalkan konsep AKU (Ambisi, Kemampuan, dan Usaha) sebagai alat untuk memetakan potensi santri, khususnya di tingkat akhir. Ia menilai ketiga aspek tersebut harus berjalan beriringan.

Ambisi, kata dia, tidak boleh sekadar dorongan emosional sesaat, tetapi harus memiliki arah dan tujuan yang jelas. Kemampuan perlu diasah melalui literasi dan latihan yang konsisten, sedangkan usaha harus diwujudkan dalam bentuk ketekunan dan daya tahan atau resilience.

“Ambisi besar harus diiringi kemampuan dan usaha yang maksimal. Tanpa itu, sulit bagi santri untuk mandiri,” katanya.

Selain AKU, Ki Oje juga mengenalkan metode 4S sebagai pendekatan praktis menghadapi ketidakpastian masa depan. Metode tersebut meliputi Scanning, Searching, Scaling, dan Sustaining.

Pada tahap Scanning, santri dilatih membedakan persoalan yang dapat dikendalikan dan yang berada di luar kendali. Searching menekankan pentingnya mencari solusi melalui data, referensi, dan jaringan. Sementara Scaling mengajarkan pengukuran kapasitas diri agar target besar dapat dicapai melalui langkah-langkah kecil. Adapun Sustaining berfokus pada pembangunan daya tahan menghadapi kegagalan.

“Gagal itu bukan akhir, tetapi laboratorium belajar yang paling efektif,” ujarnya.

Ki Oje juga mengingatkan pengelola lembaga pendidikan agar mulai menyeimbangkan pembelajaran teori dengan kompetensi praktis. Ia menilai penguatan laboratorium keterampilan dan jaringan sosial menjadi kunci agar santri mampu berperan di tengah masyarakat.

Ia berharap program tersebut dapat menjadi pemicu bagi pesantren lain untuk merancang strategi lulusan yang lebih berdaya saing, sehingga santri tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan solusi dan peluang di lingkungan masing-masing.

“Ketika menghadapi kesulitan, santri harus bisa mandiri dengan menjadi penyedia solusi di daerahnya,” kata dia.***

Editor : Aab Abdul Malik

(DH)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.