26.7 C
Jakarta
Sabtu, Mei 23, 2026

Latest Posts

Sukabumi: Ironi Miskin di Atas Tanah Yang Kaya

Oleh: Yosep Maulana/Ketua Umum Forum Mahasiswa Palabuhanratu

Wartain.com – Indonesia adalah anugerah nyata yang terhampar di khatulistiwa, sebuah negeri dengan kekayaan alam yang seolah tidak ada habisnya. Berbicara tentang kekayaan tanah air, mata kita tidak bisa berpaling dari sebuah wilayah di Jawa Barat yang menjadi mikrokosmos dari seluruh potensi tersebut: Kabupaten Sukabumi.

Daerah ini adalah pemilik sah dari jargon “Gurilapss” (Gunung, Rimba, Lautan, Pantai, Sungai, Seni dan Budaya) yang paripurna. Sukabumi dianugerahi perut bumi yang kaya akan sumber daya alam (SDA) termasuk emas, bentang alam megah yang diakui dunia melalui UNESCO Global Geopark Ciletuh, hingga keajaiban geotermal unik seperti Geyser Cisolok.

Tak hanya itu, wajah Sukabumi juga diperkuat oleh karakter agraris dan maritim yang sangat kuat. Di sektor agraris, hamparan sawah yang subur, perkebunan teh yang menghijau, serta komoditas hortikultura unggulan menjadi penopang ketahanan pangan yang vital. Sementara di sektor maritim, garis pantai Sukabumi yang membentang luas di sepanjang Samudra Hindia menyembunyikan potensi kelautan yang luar biasa mulai dari melimpahnya hasil tangkapan perikanan tangkap, potensi budidaya laut, hingga menjadi gerbang utama ekonomi biru di selatan Jawa Barat.

Menariknya, pesona bahari Sukabumi tidak hanya memikat lewat keindahan kasat mata. Samudra Hindia yang membatasi wilayah selatan daerah ini sejak lama telah dibalut oleh narasi mistis yang melegenda: kisah penguasa laut selatan, Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul. Aura mistis dan spiritual yang menyelimuti garis pantai selatan ini bukanlah kelemahan, melainkan bagian tak terpisahkan dari kekayaan antropologi dan daya tarik wisata budaya. Keberadaan kamar khusus di hotel bersejarah Palabuhanratu hingga ritual tahunan Hari Nelayan sebagai bentuk syukur, membuktikan bahwa bentang mistis ini adalah jembatan budaya yang merekatkan manusia, alam, dan tradisi leluhur.

Di wilayah Utara, magnet wisata dunia terpancar dari Jembatan Gantung Lembah Purba di Taman Wisata Alam Situ Gunung, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit. Menjadi salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia (sekitar 535 meter) yang membentang di atas jurang setinggi 120 meter, destinasi ini adalah bukti betapa pesona Sukabumi mampu mengundang decak kagum global.

Tak hanya alam yang bersolek, Sukabumi juga merawat memori peradaban masa lalu. Situs Tugu Gede Cengkuk di Desa Margalaksana, Kecamatan Cikakak, menjadi saksi bisu kompleks peninggalan megalitikum yang monumental. Warisan sejarah, tradisi mistis laut selatan, dan budaya dari para leluhur ini bukan sekadar objek foto, melainkan pengingat bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas warisan yang tak ternilai ini. Ditambah lagi, sektor industri yang tumbuh subur di berbagai sudut wilayah, melengkapi modalitas Sukabumi sebagai daerah yang super kaya.

Secara teoretis, ketika semua potensi makro ini mulai dari pariwisata, kekayaan agraris, potensi maritim, budaya dan legenda, SDA, hingga sektor industri tertata dan dikelola dengan tata kelola yang bersih dan integratif, maka kemandirian ekonomi bukanlah hal yang mustahil. Dari kemandirian itulah, keadilan dan kesejahteraan masyarakat yang merata seharusnya otomatis tercipta.

Namun, yang menjadi pertanyaan besar dan pekerjaan rumah kita bersama hingga hari ini adalah: Mengapa kesejahteraan yang ideal itu belum juga terwujud sepenuhnya di tengah masyarakat? Mengapa kantong-kantong kemiskinan dan ketimpangan masih sering kita jumpai di balik megahnya status world geopark, luasnya lahan pertanian, kayanya lautan, dan kuatnya akar tradisi kita?

Memutus Rantai Ironi Melalui Ruang Kelas

Jawaban atas pertanyaan besar tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan retorika politik atau kebijakan jangka pendek. Transformasi ini harus dimulai dari akar rumput, dan instrumen terbaiknya adalah pendidikan.

Hal krusial mengenai potensi sekaligus tantangan daerah ini harus disampaikan secara lantang dan jujur kepada para peserta didik yang saat ini masih duduk di bangku sekolah. Anak-anak, sebagai tunas bangsa, harus tahu dan sadar betul betapa kayanya bangsa ini, dan betapa istimewanya daerah tempat mereka berpijak.

Kita tidak boleh membiarkan generasi muda Sukabumi tumbuh menjadi asing di tanahnya sendiri (alienasi). Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada teori di atas kertas, tetapi juga harus membangun literasi ekologis, historis, dan kontekstual. Generasi baru harus dicetak untuk memiliki kesadaran kritis yang tinggi:
• Menjaga Pertanian, Kelautan, dan Tradisi: Mereka harus paham bagaimana mengelola sektor agraris modern, memanfaatkan potensi maritim, serta menghormati nilai-nilai adat dan sejarah lokal tanpa kehilangan arah di era modernisasi.

•Merawat Kelestarian Alam & Melawan Alih Fungsi Lahan: Mereka harus memiliki keberanian dan kesadaran untuk memastikan ruang-ruang hijau, lahan pertanian produktif, hutan, daerah resapan air, hingga kawasan pesisir sakral tidak habis digilas dan diambil alih oleh beton-beton bangunan seiring laju industrialisasi yang tidak terkendali.

Ketika ruang kelas berhasil menanamkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap lingkungan, maka di masa depan kita tidak akan lagi kekurangan pemimpin, birokrat, pengusaha, maupun akademisi yang visioner.

Masa depan Sukabumi ada di tangan generasi yang tahu cara bersyukur, tahu cara merawat, dan tahu cara mengelola kekayaan tanpa harus merusaknya. Hanya dengan melahirkan generasi baru yang sadar lingkungan dan berdaulat secara berpikir itulah, mata rantai ironi “miskin di atas tanah yang kaya” dapat kita putus untuk selamanya.***

Editor : Aab Abdul Malik

(YM)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.