Wartain.com – Dua atau sehari sebelum Idul Fitri atau Idul Adha tiba, aroma opor ayam, rendang, dan kue kering dulu selalu menyeruak dari dapur ke dapur. Anak-anak membawa bungkusan anyaman daun pisang atau besek bambu, berkeliling dari rumah ke rumah tetangga. Kini, tradisi antar makanan jelang hari raya itu hampir punah ditelan perubahan zaman.
Di Kampung Cikawung, Desa Babakan Panjang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, tradisi ini masih melekat di ingatan warga berusia 50 tahun ke atas. Dahulu, ibu-ibu bergotong royong memasak besar-besaran tiga-dua hari sebelum Lebaran. Hasil masakan itu dibagi rata ke seluruh tetangga, tanpa memandang status ekonomi.
“Kalau dulu, belum afdol rasanya kalau belum nyobain opor buatan tetangga sebelah. Kami tukar-tukaran kue, tukar-tukaran lauk. Rasanya lebih hangat,” kenang Mak Ening (59) tahun, yang masih mengingat kebiasaan itu, Selasa 26/05/2026.
Tradisi ini bukan sekadar berbagi makanan. Ia menjadi cara warga menjaga silaturahmi dan saling menguatkan sebelum hari raya tiba. Tidak ada yang merasa sendiri, karena setiap rumah selalu mendapat jatah makanan dari tetangga.
Kini pemandangan itu nyaris tidak terlihat lagi. Banyak rumah yang tertutup rapat menjelang Lebaran. Anak-anak tidak lagi terlihat membawa besek keliling kampung. Yang ada hanya kurir paket dan tumpukan hampers dari toko kue.
Perubahan gaya hidup menjadi penyebab utama memudarnya tradisi ini. Kesibukan kerja membuat ibu-ibu tidak lagi punya waktu memasak dalam jumlah besar. Banyak keluarga memilih membeli makanan jadi karena dianggap lebih praktis dan efisien.
Selain itu, rasa sungkan juga mulai muncul. Sebagian warga merasa malu jika masakan rumahan mereka kalah enak dibanding kue pabrikan. Perlahan, kebiasaan berbagi makanan buatan sendiri tergantikan oleh bingkisan bermerek yang seragam.
Perkembangan teknologi dan media sosial juga turut mengubah pola interaksi warga. Ucapan selamat dan silaturahmi kini cukup disampaikan lewat pesan singkat atau unggahan di media sosial. Kontak fisik dan tatap muka yang dulu menjadi inti tradisi ini perlahan menghilang.
Padahal bagi antropolog budaya, tradisi antar makanan adalah media komunikasi sosial yang kuat. Lewat sepiring opor atau sepotong kue cincin, pesan kepedulian dan kebersamaan tersampaikan tanpa perlu banyak kata.
Beberapa komunitas di daerah mulai mencoba menghidupkan kembali tradisi ini. Salahsatunya di Kampung Cikawung ini, muncul gerakan “Tukar Kue Lebaran” antar tetangga yang diinisiasi lewat beberapa komunitas warga. Meski skalanya kecil, kegiatan ini mendapat sambutan hangat.
“Kalau tradisi ini hilang, yang hilang bukan hanya makanannya, tapi juga rasa gotong royong dan kepedulian antar tetangga. Padahal itu yang membuat hari raya terasa berbeda,” ujar Ejang, (52) tahun, salah satu penggagas kegiatan tukar kue di lingkungannya.
Upaya kecil ini diharapkan bisa menjadi pengingat bahwa makna hari raya bukan hanya soal berkumpul bersama keluarga sendiri, tetapi juga berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
