26.7 C
Jakarta
Sabtu, Juni 6, 2026

Latest Posts

Manunggaling Rasa di Sakawayana: Membaca Geopolitik Prabowo Lewat Dialektika Sejarah dan Spirit Trisakti

Di bale-bale pantai sakawana diskusi santai Aam Abdul Salam (Aktivis 98 / Sekjen PPJNA 98 & Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (Pemilik Media Wartain.com / Pengurus SMSI Sukabumi Raya), HM Fikri (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), Asep Sugianto (Aktivis HMI Cabang Sukabumi), M. Rafi Asyam (CEO Media Bisnisnews.net), dan Yosep Maulana (Aktivis Mahasiswa/Jurnalis)

WARTAIN.COM, SABDA PALON – Angin malam Pantai Sakawayana, Cikakak, Palabuhanratu, berembus membawa aroma garam yang pekat pada Jumat malam, 5 Juni 2026. Di atas bale-bale yang sederhana, debur ombak pantai selatan tidak sekadar menjadi latar suara. Bagi mereka yang hadir, gemuruh itu terdengar seperti sebuah orkestra kosmologi Sunda—sebuah titi mangsa atau tanda zaman yang mempertemukan masa lalu, hari ini, dan masa depan Indonesia dalam satu tarikan napas kontemplasi.

Malam itu, beberapa jam menjelang fajar 6 Juni yang sakral sebagai hari kelahiran Putra Sang Fajar, Bung Karno, sebuah diskusi santai namun mendalam mengalir. Pertemuan ini menjadi kelanjutan dari lingkaran dialektika Majelis Pencerahan yang diinisiasi oleh para pemikir lokal Sukabumi.

Di bale-bale itu, duduk melingkar Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (Pemilik Media Wartain.com / Pengurus SMSI Sukabumi Raya), HM Fikri (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), Asep Sugianto (Aktivis HMI Cabang Sukabumi), M. Rafi Asyam (CEO Media Bisnisnews.net), Yosep Maulana (Aktivis Mahasiswa/Jurnalis), dan Aam Abdul Salam (Aktivis 98 / Sekjen PPJNA 98 & Presidium MD KAHMI Sukabumi).

Dari obrolan yang rileks namun padat visi ini, lahir sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana kepemimpinan nasional hari ini sejatinya adalah sebuah garis lurus dari takdir sejarah yang belum usai.

Dialektika Sejarah: Dari Dwi-Tunggal Hingga Begawan Ekonomi

Membahas Indonesia hari ini tidak bisa dilepaskan dari hukum dialektika sejarah. Negara ini berdiri di atas fondasi kokoh yang dibangun oleh heroisme Bung Karno dan ketajaman urusan realitas Bung Hatta. Namun, dalam ruang kosmik perjuangan itu, ada pula nama Prof. Sumitro Djojohadikusumo—ayahanda dari Presiden Prabowo Subianto. Begawan ekonomi Indonesia tersebut adalah salah satu arsitek utama yang memastikan kedaulatan ekonomi bangsa ini punya taji di masa-masa awal kemerdekaan.

Napak tilas pemikiran para pendahulu ini membawa kita pada satu kesadaran: Indonesia bisa berdiri kokoh melintasi berbagai badai zaman karena adanya sinkronisasi antara keberanian politik (political will) dan kemandirian ekonomi. Apa yang diperjuangkan Bung Karno dengan konsep Trisakti (Berdaulat di bidang politik, Berdikari di bidang ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan) bukanlah teks mati di buku sejarah. Ia adalah energi hidup yang hari ini sedang mewujud kembali.

Kosmologi Kepemimpinan dan Ketegasan Geopolitik Prabowo

Dalam kearifan kosmologi Jawa dan Sunda, seorang pemimpin sejati bertindak sebagai penyelaraskan antara jagat alit (mikrokosmos/rakyat) dan jagat agung (makrokosmos/tatanan global). Hari ini, di tengah pergeseran geopolitik global yang penuh ketidakpastian dan benturan kepentingan kekuatan besar, dunia menyaksikan ketegasan luar biasa dari Presiden Prabowo Subianto.

Ketegasan ini bukan sekadar retorika panggung politik. Di ranah domestik, manifestasinya sangat nyata dan berani:

a. Menyelamatkan aset-aset berharga milik negara yang selama ini beralih fungsi.

b. Mengamankan sumber daya alam (SDA) agar sepenuhnya dikelola demi kemakmuran rakyat banyak sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

c. Melawan gurita oligarki hitam yang kerap mengunci ruang gerak kebijakan negara demi keuntungan segelintir golongan.

Langkah berani memotong jalur mafia pangan dan membangun kemandirian ekonomi ini adalah bentuk nyata dari ngajaga lembur—menjaga kedaulatan tanah air secara lahir dan batin. Presiden Prabowo sedang menjalankan dwi-amanah yang berat namun mulia: amanah dari para pendiri bangsa (Bung Karno-Bung Hatta) sekaligus amanah ideologis dari ayahandanya, Sumitro Djojohadikusumo.

Manunggaling Rakyat dan Pemimpin: Energi Baru Hadapi Dunia

Seni tertinggi dalam politik kebangsaan Indonesia adalah Manunggaling Kawula Gusti—dalam konteks modern berarti menyatunya rasa, tekad, dan gerak antara rakyat dan pemimpinnya. Tantangan global seperti krisis pangan, transisi energi, dan ketegangan militer dunia tidak akan bisa dihadapi jika bangsa ini terpecah-belah dalam polarisasi yang tidak produktif.

Momentum refleksi Hari Lahir Bung Karno 6 Juni ini harus kita jadikan sebagai pemantik energi spiritual yang baru. Ini adalah waktu yang tepat bagi seluruh elemen bangsa untuk merapatkan barisan, manunggaling bersama Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga kedaulatan NKRI.

Saat kemandirian pangan tercapai dan kemandirian ekonomi tegak, Indonesia tidak hanya akan menjadi penonton di panggung global. Bangsa ini akan aktif mengambil peran sejarahnya yang hakiki: ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Dari bale-bale Pantai Sakawayana, malam itu kita disadarkan bahwa perjuangan mempertahankan Indonesia adalah perjalanan spiritual yang panjang. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing, memberikan kesehatan, keteguhan, dan kekuatan lahir batin kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto serta seluruh rakyat Indonesia untuk membawa kapal besar NKRI menuju pelabuhan kejayaan. Rahayu. (M.Rafi Asyam)***

EDITOR : AS

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.