Oleh : Kang Dzikri Nur/ Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com – Salah satu gagasan yang sering ditemukan dalam berbagai tradisi spiritual adalah bahwa manusia harus mematikan ego, menundukkan diri, mengosongkan pikiran, bahkan melenyapkan identitas pribadinya untuk dapat mengenal Tuhan. Dalam batas tertentu, ungkapan tersebut mengandung kebenaran, terutama sebagai peringatan agar manusia tidak diperbudak oleh kesombongan dan hawa nafsu. Namun persoalannya menjadi berbeda ketika “mematikan diri” dipahami sebagai penghancuran eksistensi manusia itu sendiri.
Pertanyaannya, benarkah jalan menuju Tuhan dimulai dengan memerangi diri?
Al-Qur’an memberikan landasan yang berbeda. Sebelum manusia hadir di dunia, Allah telah mengambil kesaksian dari seluruh ruh manusia sebagaimana disebutkan dalam QS Al-A’raf ayat 172: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi.” Ayat ini menunjukkan bahwa pengenalan terhadap Allah bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing bagi manusia. Pada tingkat ruhani yang paling dalam, manusia telah mengenal Tuhannya.
Karena itu, Ma’rifatullah pada hakikatnya bukan menciptakan pengetahuan baru tentang Allah, melainkan mengingat kembali kebenaran yang telah tersimpan dalam fitrah manusia.
Ketika manusia lahir ke dunia, kesadaran primordial tersebut tertutupi oleh berbagai identitas yang dibangun sepanjang kehidupan. Manusia mulai mengidentifikasi dirinya dengan tubuh, harta, jabatan, kelompok, ideologi, bahkan citra yang ia bangun tentang dirinya sendiri. Dari sinilah lahir apa yang sering disebut ego.
Dalam perspektif Tauhid Kenabian Ma’rifatullah, ego bukanlah diri manusia yang sejati, melainkan keterikatan kesadaran kepada identitas-identitas yang bersifat sementara.
Di sinilah pentingnya membedakan antara ruh, nafs, qalb, dan akal. Ruh merupakan pancaran kehidupan yang Allah tiupkan kepada manusia.
Nafs adalah pusat pengalaman, kehendak, dan pilihan manusia yang dapat bergerak dari tingkat ammarah menuju muthmainnah. Qalb adalah pusat kesadaran ruhani yang mampu menerima cahaya petunjuk. Sedangkan akal adalah instrumen untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
Semua unsur ini bukan musuh yang harus dimusnahkan, melainkan amanah yang harus ditata agar kembali kepada tujuan penciptaannya.
Karena itu, terdapat paradoks dalam upaya mematikan ego. Selama masih ada “aku” yang bangga karena berhasil menghancurkan ego, sesungguhnya ego itu masih bekerja dalam bentuk yang lebih halus.
Seseorang dapat menjadi sombong karena kesalehannya, merasa lebih tinggi karena kezuhudannya, atau menganggap dirinya lebih dekat kepada Tuhan dibanding orang lain. Ego hanya berganti pakaian, tetapi belum benar-benar kehilangan kekuasaannya.
Jalan Ma’rifatullah menawarkan pendekatan yang berbeda. Yang diperlukan bukan penghancuran diri, melainkan penyaksian terhadap kebenaran. Ketika cahaya ketuhanan hadir dalam kesadaran, identitas-identitas palsu akan runtuh dengan sendirinya.
Sebagaimana kegelapan tidak perlu dibunuh, tetapi cukup disingkirkan oleh cahaya, demikian pula ilusi tentang diri akan hilang ketika manusia mulai mengenal Allah secara lebih mendalam.
Di sinilah peran para nabi menjadi sangat penting. Allah tidak membiarkan manusia mencari jalan sendiri. Melalui wahyu dan kenabian, manusia dibimbing untuk kembali kepada fitrahnya. Nabi Muhammad SAW bukan hanya penyampai syariat, tetapi pembimbing umat menuju kesadaran tauhid yang utuh, sehingga manusia dapat mengenal Allah, mengenal dirinya, dan memahami tujuan keberadaannya di dunia.
Maka diri sejati bukanlah diri yang lenyap, melainkan diri yang menemukan tempatnya di hadapan Allah. Ia sadar bahwa dirinya berasal dari Allah, hidup dalam pemeliharaan Allah, dan akan kembali kepada Allah. Kesadaran ini melahirkan Islam, iman, dan ihsan sebagai satu kesatuan hidup yang nyata.
Dari sinilah lahir manusia yang menjalankan amanah kekhalifahan, membangun kehidupan dunia sebagai ladang akhirat, serta menjadikan seluruh perjalanan hidup sebagai ibadah menuju perjumpaan dengan Tuhan Yang Maha Hidup dan Maha Abadi.
Karena pada akhirnya, mengenal Tuhan bukanlah kehilangan diri, melainkan menemukan diri yang sesungguhnya dalam cahaya Ma’rifatullah.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
