Wartain.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nusa Putra Kabinet Nawasena sukses menggelar agenda Diskusi Publik bertajuk “September Hitam” yang bertempat di Kantin Luar Universitas Nusa Putra, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya memperingati serta merawat ingatan kolektif mahasiswa dan masyarakat terhadap deretan peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta sejarah penting di Indonesia.
Rangkaian acara “September Hitam” ini menghadirkan berbagai agenda edukatif dan kritis, di antaranya Kuliah Umum, Nonton Bersama (Nobar) Film G30S/PKI, serta penampilan Puisi dan Orasi Kebudayaan.
Dalam diskusi publik ini, BEM Universitas Nusa Putra menghadirkan narasumber Rozak Daud, S.H. dari Forum Aktivis Sukabumi untuk Rakyat. Melalui panggung diskusi ini, para peserta diajak untuk menelisik kembali rekam jejak tokoh-tokoh perjuangan HAM seperti Tan Malaka, Marsinah, Munir Said Thalib, Mako Tabuni, Wiji Thukul, serta seluruh individu yang gugur, dipenjara, atau dihilangkan karena memperjuangkan keadilan.
Presiden Mahasiswa Universitas Nusa Putra, Ahmad Brik Abdul Aziz, menyampaikan bahwa momentum September Hitam bukan sekadar agenda tahunan, melainkan pengingat penting bagi generasi muda untuk tidak melupakan sejarah.
“Melalui diskusi publik dan nonton bersama ini, kami ingin merefleksikan kembali semangat perjuangan para martir HAM. Mahasiswa harus tetap menjadi benteng nalar kritis yang berani bersuara membela keadilan dan hak-hak rakyat,” ujar Ahmad Brik Abdul Aziz.
Penanggung Jawab Acara, Moch Rival Maulana, juga menambahkan bahwa pemilihan lokasi dan pengemasan acara dirancang agar mahasiswa dapat berdiskusi secara inklusif dan terbuka.
“Kami memilih Kantin Luar Nusa Putra sebagai ruang ruang temu agar diskusi ini terasa lebih dekat dan hangat bagi seluruh mahasiswa. Kami berharap pesan perjuangan HAM ini dapat sampai ke seluruh elemen mahasiswa,” jelas Moch Rival Maulana.
Acara ini terbuka bagi seluruh mahasiswa Universitas Nusa Putra serta masyarakat umum yang ingin berpartisipasi aktif dalam merawat ingatan kebangsaan dan penegakan HAM di Indonesia.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
