Wartain.com || Siapa sangka, dari sebuah bengkel kecil di Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, lahir karya luar biasa yang kini berada di tangan dua pemimpin dunia: Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Adalah Adam Yazid, pemuda 26 tahun, yang bersama tim pengrajin logamnya di Sadam Sajam Masterpiece, sukses menciptakan pedang eksklusif yang dijadikan cenderamata VVIP dan diserahkan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraan pada Mei dan Juni 2025 lalu.
“Pedang itu dikirim ke Istana tanggal 23 Mei 2025. Diserahkan kepada Presiden Prancis pada 28 Mei, lalu ke Presiden Rusia pada 20 Juni,” ungkap Adam saat ditemui pada Sabtu (2/8/2025), tak bisa menyembunyikan rasa syukur dan bangganya.
Meski tak bisa mengungkap secara rinci terkait desain, bahan, maupun nilai karya tersebut karena bersifat rahasia negara, Adam menyebut bahwa masing-masing pedang memiliki panjang sekitar satu meter dan diproses selama satu bulan penuh oleh lima pengrajin terbaik dalam timnya. Ia mengakui bahwa ini adalah proyek tersulit yang pernah mereka tangani, karena menuntut presisi tinggi dalam waktu yang singkat.
“Standarnya luar biasa ketat. Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga filosofi dan nilai budaya yang harus tertanam dalam setiap detail,” tambahnya.
Kisah ini bermula dari relasi Adam yang telah lama dibina dengan Kementerian UMKM. Setelah beberapa kali menerima pesanan dan dinilai berhasil dalam pengerjaan, Adam direkomendasikan oleh Menteri UMKM saat itu, Maman Abdurrahman, kepada Sekretaris Kabinet, Teddy Seskab. Ia pun diundang langsung ke Istana untuk menerima mandat membuat pedang khusus bagi dua pemimpin negara sahabat.
Adam bukan pendatang baru di dunia kerajinan logam. Ia mulai merintis usahanya sejak 2019. Namun, keahlian yang dimilikinya adalah warisan turun-temurun dari keluarga besar pengrajin logam di Desa Cibatu. “Dari zaman penjajahan Belanda, keluarga kami sudah mengerjakan pesanan alat perang,” kenangnya.
Kini, Sadam Sajam Masterpiece digerakkan oleh kolaborasi lintas generasi: gabungan anak muda dan sesepuh yang terus menjaga mutu, warisan, dan inovasi. Bengkel kecil mereka, meski sederhana, telah menghasilkan karya yang diakui hingga ke tingkat kenegaraan.
Kepala Desa Cibatu, Asep Rahmat, turut menyampaikan rasa bangganya atas pencapaian tersebut. “Ini bukan pertama kalinya produk warga kami dikenal di luar negeri, tapi kali ini sangat spesial karena dijadikan cenderamata resmi negara untuk Presiden Rusia. Ini pencapaian luar biasa,” ujar Asep saat diwawancarai pada Kamis (31/7/2025).
Menurut Asep, Adam adalah salah satu dari sekian banyak pengrajin logam unggulan di Desa Cibatu yang telah mengembangkan pemasaran secara digital dan melayani pemesanan internasional dari negara-negara seperti Thailand, Malaysia, hingga Timur Tengah.
Desa Cibatu sendiri dikenal sebagai sentra pengrajin logam dengan lebih dari 100 kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari profesi tersebut. Produk mereka tak hanya berupa senjata tradisional seperti golok dan pedang, tetapi juga alat pertanian, alat upacara militer seperti pedang pora, sangkur, bahkan pembersih laras senapan untuk kebutuhan TNI dan Polri.
“Beberapa unit dari Vindad TNI di Bandung juga masih rutin mengambil produk dari desa kami. Ini sudah jadi kerja sama berkelanjutan sejak lama,” ungkap Asep.
Secara historis, Desa Cibatu memiliki akar kuat sebagai penghasil alat logam. Pada masa penjajahan, wilayah ini menjadi pemasok perlengkapan perang, termasuk kepada pejuang lokal. Asep bahkan menyebut bahwa Presiden Soeharto pernah memesan pedang upacara ke kediaman kakeknya.
“Dulu sekitar 8.000 senjata perang milik Jepang yang rusak dibawa ke bengkel kakek saya untuk diperbaiki. Semua bisa difungsikan kembali oleh pengrajin lokal kita,” kisah Asep.
Melihat besarnya potensi ini, Pemerintah Desa Cibatu terus berkomitmen untuk mendukung UMKM logam melalui pelatihan dan bantuan alat produksi modern. “Kami ingin para pengrajin bisa naik kelas, apalagi di era digital seperti sekarang. Mereka harus mampu bersaing di pasar global,” tegas Asep.
Prestasi Adam Yazid dan Sadam Sajam Masterpiece, menurut Asep, bukan sekadar kisah sukses pribadi, melainkan bukti bahwa warisan budaya lokal bisa menjelma menjadi karya kelas dunia. Ia berharap keberhasilan ini dapat menginspirasi lebih banyak pelaku UMKM untuk terus mengembangkan kreativitas berbasis budaya.
“Ini jadi pengingat bahwa dari desa kecil pun, bisa lahir karya besar. Yang penting kita jaga tradisinya, dan terus berinovasi,” tutupnya.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
