26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 9, 2026

Latest Posts

Di Balik Aksi Heroik di Tiang Bendera, Yusup Saepudin Bertahan Hidup dengan Gaji Rp850 Ribu

Wartain.com || Nama Yusup Saepudin mendadak dikenal publik setelah aksinya memanjat tiang bendera setinggi 12 meter saat upacara HUT ke-80 RI di Kecamatan Nyalindung, Sukabumi. Sosoknya dipuji sebagai pahlawan yang menyelamatkan jalannya pengibaran Merah Putih. Namun, di balik sorak kagum itu, kehidupan Yusup sehari-hari jauh dari kata mudah.

Yusup, yang baru berusia 25 tahun, tinggal di Kampung Haji, Desa Kertaangsana, bersama istri dan bayi kecilnya. Sejak 2023, ia mengabdi sebagai guru honorer di SMK Wira Utama—sekolah yang dulu menjadi tempatnya menimba ilmu.

“Awalnya saya tidak pernah membayangkan jadi guru honorer. Tapi ketika kepala sekolah meminta saya membantu mengajar, saya anggap itu amanah. Saya ingin ilmu saya bisa bermanfaat,” ujarnya.

Sebelum benar-benar mengajar, Yusup sempat aktif menjadi pendamping pembina Pramuka sejak 2019. Meski kemudian terhenti karena kesibukan lain, ia akhirnya mantap menapaki jalan sebagai guru. Bukan karena gaji, tetapi karena tekad mendidik generasi muda agar tumbuh dengan empati, etika, dan spiritualitas, bukan sekadar pintar secara akademis.

Namun, realitas berbicara lain. Setiap bulan, Yusup hanya menerima honor Rp850 ribu. Jumlah itu nyaris tak sebanding dengan kebutuhan keluarganya.

“Hanya untuk pampers anak saja sudah habis seperempat gaji. Belum makan, bensin ke sekolah, kebutuhan lain. Kalau dihitung-hitung, jelas tidak cukup,” ungkapnya.

Untuk menambal kebutuhan, Yusup mengambil pekerjaan tambahan. Kadang ia menjadi petugas sensus, pernah juga bekerja sebagai PPS desa, dan di sela waktu senggang, ia turun ke kebun untuk bercocok tanam. Apa pun ia lakukan demi menjaga dapur tetap mengepul.

Meski begitu, tantangan terbesar baginya bukan hanya soal keuangan, melainkan perasaan tak mampu memberi lebih kepada keluarga.

“Istri dan orang tua selalu mendukung. Tapi kadang saya merasa berat, tidak bisa memberikan yang terbaik untuk mereka,” ucapnya lirih.

Di balik kesederhanaan hidupnya, Yusup menyimpan harapan besar: kesejahteraan guru honorer diperhatikan.

“Kami ini mendidik calon pemimpin masa depan. Harapan saya, pemerintah lebih serius memperjuangkan nasib guru honorer, agar bisa diangkat menjadi ASN atau PPPK,” katanya.

Saat tidak mengajar, Yusup lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Ia ingin dikenang murid-muridnya bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai sahabat yang hadir memberi contoh nyata.

“Seorang guru itu harus bisa jadi teladan di depan, memberi semangat di tengah, dan mendorong dari belakang,” ujarnya.

Bagi masyarakat, Yusup mungkin dikenal karena keberaniannya memanjat tiang bendera. Namun di balik sorotan itu, ia adalah potret nyata ribuan guru honorer lain yang terus bertahan, berjuang dalam keterbatasan, demi satu keyakinan: mencerdaskan generasi bangsa.***(RAF)

Editor : Aab Abdul Malik

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.