“Majelis di Sakawayana hadir penggerak pemikiran dan aksi: Anto Kusumayuda (Ketum PPJNA 98), Aam Abdul Salam (Sekjen PPJNA 98/Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (SMSI Sukabumi Raya/Wartain.com), HM Fikrie (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), Asep Sugianto (Aktivis HMI), Yosep Maulana (Aktivis Mahasiswa Palabuhanratu), dan M. Rafi Asyam (Aktivis Muda/Bisnisnews.net)”
Oleh: Tim Redaksi
WARTAIN.COM, SUKABUMI – Laut adalah hamparan rahasia, tempat gelombang tak pernah lelah berzikir kepada Penciptanya. Pada Malam Minggu, 6 Juni 2026, di bawah langit Pantai Sakwayana, Palabuhanratu, Sukabumi, deburan ombak berpadu dengan gemuruh doa. Di sanalah, sejumlah tokoh berkumpul dalam Majelis Pencerahan Diskusi, Berdoa, Berdzikir, dan Bersholawat. Mereka melarungkan harapan, mengetuk pintu langit, memohon ampunan serta perlindungan mutlak bagi bumi pertiwi.
Pertemuan ini bukan sekadar ritual tanpa makna. Ini adalah sebuah kontemplasi filsafat politik-spiritual. Sebuah kesadaran bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya dibangun dengan kekuatan senjata atau angka ekonomi, tetapi juga dibentengi oleh kekuatan gaib yang bersumber dari Allah SWT.
Secara geopolitik, Indonesia saat ini berada di pusaran angin buritan yang kencang. Ancaman tidak lagi datang dengan kapal perang yang tampak kasat mata, melainkan melalui perang asimetris. Ada skenario besar yang rapi untuk menciptakan instabilitas nasional. Tujuannya tunggal dan oportunis: merusak stabilitas dari dalam, melumpuhkan kekuatan dari luar, lalu memuluskan agenda menguasai Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) serta mencengkeram pasar ekonomi domestik.
Ketika stabilitas nasional diguncang, fondasi negara akan melemah. Inilah mengapa benteng spiritual menjadi sangat krusial. Melalui dzikir dan sholawat, getaran spiritual dilepaskan untuk meredam energi negatif yang ingin memecah belah bangsa.
Menjaga Para Pemimpin di Garis Depan
Dalam ruang tirakat di tepi samudra tersebut, doa-doa khusus dipanjatkan untuk para pemegang amanah kepemimpinan nasional. Kekuatan dan perlindungan lahir batin dimohonkan untuk:
a. Presiden Prabowo Subianto & Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai nahkoda utama.
b. Sufmi Dasco Ahmad beserta seluruh jajaran legislatif dan politik.
c. Kepala BIN, Panglima TNI, dan Kapolri sebagai trisula penjaga keamanan negara.
d. Seluruh jajaran Kabinet Merah Putih yang sedang berjibaku mengeksekusi visi Indonesia Mandiri.
Mendoakan pemimpin adalah tradisi luhur dalam filsafat sufistik. Pemimpin yang kuat dan lurus adalah payung bagi rakyatnya. Ketika badai fitnah dan upaya penjatuhan pemerintahan begitu gencar, maka perisai terbaik adalah penyerahan totalitas kepada Allah Pemilik Takdir Alam Semesta, yang dibarengi dengan persatuan nyata di atas tanah air.
Ikhtiar Kolektif: Gerakan Juni, Juli, Agustus
Majelis di Sakwayana ini dihadiri oleh para penggerak pemikiran dan aksi: Anto Kusumayuda (Ketum PPJNA 98), Aam Abdul Salam (Sekjen PPJNA 98/Presidium MD KAHMI Sukabumi), Dede Heri (Rumah Literasi Merah Putih), Siti Ratna Maymunah (SMSI Sukabumi Raya/Wartain.com), HM Fikrie (Majelis Sholawat Cahaya Nusantara), Asep Sugianto (Aktivis HMI), Yosep Maulana (Aktivis Mahasiswa Palabuhanratu), dan M. Rafi Asyam (Aktivis Muda/Bisnisnews.net).
Dari pesisir Sukabumi, mereka melayangkan seruan moral dan spiritual kepada seluruh kaum muslimin serta rakyat Indonesia. Selama bulan Juni, Juli, hingga Agustus 2026, mari kita penuhi dan gemakan doa, dzikir, serta sholawat di setiap:
a. Masjid dan Mushola
b. Tajug dan Pesantren
c. Rumah-rumah di pelosok perkampungan hingga pusat perkotaan
Menghadapi pergeseran geopolitik global, regional, dan nasional yang super cepat, Indonesia tidak boleh rapuh. Bersama kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, dan dengan mengetuk pintu langit secara berjamaah, kita optimis badai ini akan terlewati. Indonesia akan tegak berdiri sebagai negara besar, mandiri, adil, makmur, dan termaju di bawah lindungan Sang Maha Pencipta.***
