Oleh: Kang Dzikri Nur/ Catatan Tegas atas Kebebasan Tanpa Arah
Peradaban Barat memasuki penghujung abad ke-20 dengan narasi besar: pembebasan manusia. Tradisi dipersoalkan, otoritas agama dilemahkan, norma sosial direvisi. Kebebasan individu dijadikan berhala tertinggi. Di titik inilah Gay Talese menulis _Thy Neighbor’s Wife_, bukan sekadar laporan seks, tapi rekaman gelisah manusia modern.
Banyak pembaca berhenti di permukaan: seks, tubuh, moral yang berubah. Padahal Talese justru membongkar luka lebih dalam. Ia menunjukkan krisis spiritual peradaban modern. Ketika semua larangan dihancurkan, kebahagiaan yang dijanjikan tidak datang. Manusia bebas secara tubuh, tapi tetap terpenjara jiwanya.
Pertanyaannya keras dan universal: Mengapa manusia yang paling bebas justru paling gelisah? Mengapa kehancuran larangan tidak otomatis melahirkan kedamaian? Jawabannya bukan di ranjang, tapi di ruh yang tercerabut dari sumbernya.
Manusia tidak diciptakan kosong. Tradisi filsafat, agama, mistisisme sepakat: ada kerinduan bawaan terhadap kesempurnaan. Plotinus menyebutnya kerinduan jiwa kembali kepada Yang Esa. Kabbalah menyebut Adam Kadmon, kesatuan sebelum keterpisahan. Islam menegaskan melalui Al-Qur’an: _”Kemudian Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku”_ QS. Al-Hijr: 29. Manusia membawa kapasitas spiritual untuk mengenal Tuhan.
Kerinduan itu nyata. Ia menyamar dalam bentuk kekuasaan, kekayaan, ilmu, seni, cinta, bahkan seks. Semua adalah upaya manusia mencari “sumber keberadaan”. Masalahnya, jika sasarannya keliru, pencarian itu hanya menambah haus, bukan memuaskan.
Revolusi seksual 1960-1970an adalah eksperimen besar. Masyarakat Amerika percaya: hancurkan larangan seksual, maka manusia akan merdeka total. Agama dianggap pengekang. Keluarga dianggap usang. Kebebasan seksual dijual sebagai tiket keselamatan.
Fakta membantah janji itu. Pembatasan runtuh, tapi kedamaian tidak muncul. Akses tubuh makin mudah, ikatan batin makin rapuh. Tubuh dieksplorasi habis-habisan, jiwa justru kehilangan kompas. Talese tanpa sadar mengulang pesan para nabi: penyakit utama manusia bukan kurang bebas, tapi keterasingan ruh dari Tuhannya.
Sejarah mencatat tiga jalan pembebasan yang dicoba manusia. Pertama, Pembebasan Material. Mengira penderitaan datang dari kemiskinan. Solusinya: ekonomi, kekuasaan, sumber daya. Modernitas menang di sini. Tapi kemakmuran tidak melahirkan kebahagiaan otomatis.
Kedua, Pembebasan Psikologis. Mengira penderitaan datang dari represi sosial. Solusinya: ekspresi diri, kebebasan individual. Revolusi seksual lahir dari sini. Namun ekspresi tanpa arah transenden hanya menukar satu kekosongan dengan kekosongan lain yang lebih bising.
Ketiga, Pembebasan Spiritual. Ini jalan para nabi. Al-Qur’an tidak memulai dari ekonomi atau seks. Wahyu pertama: _Iqra’_ – baca, kenali asal-usul, sadari pencipta. Islam tegas: akar krisis manusia adalah putusnya hubungan dengan Allah. Solusi fundamentalnya bukan ubah sistem, tapi ubah kesadaran.
Di sinilah Tauhid masuk sebagai paradigma, bukan slogan. Tauhid bukan sekadar “Tuhan itu satu”. Tauhid adalah kesadaran bahwa seluruh realitas berasal dari Allah, berada dalam kekuasaan-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Ketika tauhid hilang, hidup tercerai-berai: agama lepas dari politik, ilmu lepas dari moral, ekonomi lepas dari kemanusiaan, tubuh lepas dari ruh, dunia lepas dari akhirat.
Akibatnya manusia kehilangan pusat. Hidup tanpa poros. Bebas bergerak ke segala arah, tapi tidak tahu arah mana yang pulang. Itulah definisi keterasingan paling brutal di zaman modern.
Jika revolusi seksual menawarkan pembebasan tubuh, maka _ma’rifatullah_ menawarkan pembebasan eksistensial. Ma’rifatullah bukan hafalan nama Tuhan. Ia adalah kesadaran langsung akan kehadiran-Nya dalam setiap hela napas, keputusan, dan pilihan hidup.
Ketika seseorang mengenal Allah, ia menemukan makna dirinya. Ketika makna diri ditemukan, tujuan hidup menjadi jelas. Ketika tujuan jelas, tubuh, akal, harta, kekuasaan ditempatkan proporsional. Di titik inilah kebebasan mendapat definisi yang benar: bukan menuruti semua keinginan, tapi mengarahkan seluruh potensi menuju tujuan penciptaan.
Thy Neighbor’s Wife, adalah cermin. Ia memperlihatkan kegagalan proyek “pembebasan hasrat”. Ini menegaskan: krisis modern bukan krisis seksualitas, tapi krisis makna. Perjalanan manusia bukan dari larangan menuju kebebasan liar. Perjalanan sejati adalah dari keterasingan menuju pengenalan. Bukan menuju tubuh, tapi menuju ruh. Bukan menuju diri, tapi menuju Allah. Sebab dari-Nya kita berasal, dengan-Nya kita bermakna, dan kepada-Nya seluruh perjalanan ini akan kembali.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
