Wartain.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DKUKM) terus menggencarkan upaya pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Salah satu inisiatif tersebut diwujudkan dalam penguatan Kelompok Tani Hutan (KTH) Ciseupan Bee Farm di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, yang kini aktif membudidayakan madu trigona dan mengembangkan berbagai produk ekonomi kreatif.
Pada Senin (16/6/2025), telah digelar rapat koordinasi lintas sektor yang membahas penguatan program pemberdayaan masyarakat bersama KTH Ciseupan. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya DKUKM Kabupaten Sukabumi, UPTD Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pertanian, Pemerintah Desa Wangunreja, tokoh masyarakat, serta konsultan pendamping dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Semen Jawa.
Kepala UPTD Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) DKUKM Kabupaten Sukabumi, Herman Subandi, menyampaikan bahwa KTH Ciseupan merupakan salah satu kelompok yang menerima dukungan program CSR dari PT Semen Jawa.
“Kelompok ini berlokasi di Kampung Ciseupan dan merupakan salah satu penerima manfaat dari CSR PT Semen Jawa, meskipun nominal bantuannya masih dalam tahap pembahasan,” ujarnya, Kamis (19/6/2025).
KTH Ciseupan Bee Farm memfokuskan aktivitas utama pada budidaya madu trigona, sambil melibatkan masyarakat sekitar dalam seluruh proses produksi. Tak hanya itu, lahan seluas 9 hektare yang mereka kelola juga digunakan untuk berbagai kegiatan ekonomi kreatif.
“Selain madu trigona, kelompok ini juga memproduksi kerajinan anyaman bambu seperti boboko, hihid, dan nampan. Bahkan ada rencana jangka menengah untuk mengembangkan sektor perikanan dengan memanfaatkan aliran sungai yang tersedia di sekitar lokasi,” tambah Herman.
Sejak kelompok ini berdiri dua tahun lalu, DKUKM Kabupaten Sukabumi secara konsisten mendampingi proses pengembangan usaha masyarakat. Pendampingan diberikan secara menyeluruh, mulai dari pelatihan manajemen usaha, keuangan, hingga pemasaran produk.
“Sudah dua kali kami gelar pelatihan untuk anggota kelompok ini. Tujuannya agar mereka memiliki kapasitas dalam mengelola usaha secara berkelanjutan, khususnya dalam hal keuangan dan pemasaran,” tutur Herman.
DKUKM juga turut membantu pengurusan legalitas dan identitas usaha. Beberapa dokumen penting seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal telah difasilitasi, sementara proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) tengah berjalan.
“Kami mendukung penuh legalitas usaha mereka. Saat ini, selain NIB dan sertifikasi halal, juga sedang kami bantu urus HAKI untuk memperkuat identitas produk,” jelasnya.
Lebih jauh, Herman mengungkapkan harapannya agar kawasan budidaya dan produksi KTH Ciseupan bisa berkembang menjadi destinasi edukatif bagi masyarakat luas.
“Kami ingin mendorong agar kawasan ini tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga menjadi tempat edukasi, misalnya dengan menghadirkan kunjungan wisata edukatif, taman bunga matahari, hingga pembangunan gazebo untuk menambah daya tarik. Harapannya, pertumbuhan ekonomi masyarakat bisa terus meningkat,” pungkasnya.
Upaya pengembangan ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
