26.7 C
Jakarta
Selasa, Juni 9, 2026

Latest Posts

Dunia yang Menipu, Akhirat yang Mengungkap: Membaca Realitas melalui Cermin Al-Qur’an

Oleh :  Kang Dzikri Nur

Wartain.com || Dalam riuh rendah kehidupan modern, dunia sering tampil sebagai panggung besar yang memamerkan gemerlap semu. Kota-kota bersinar, peradaban berlari, manusia mengejar sesuatu yang tak henti berpindah bentuk. Namun, Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa dunia bukan sekadar ruang fisik tempat manusia hidup, melainkan sebuah keadaan, sebuah pengalaman batin yang penuh ujian, dan sebuah cermin yang memantulkan kualitas jiwa manusia. Dunia—dalam bahasa wahyu—adalah “yang dekat” sekaligus “yang rendah”, bukan untuk direndahkan, tetapi untuk disadari sifat sementaranya.

Dunia dalam perspektif filosofis-jurnalistik adalah fenomena paling paradoks dalam eksistensi manusia. Ia tampak solid dan mengikat, tetapi sekaligus rapuh dan sementara. Ia dikejar seakan-akan abadi, padahal ia diciptakan untuk menjadi ladang, bukan rumah permanen. Al-Qur’an menggambarkan dunia sebagai permainan, senda gurau, hiasan, dan perlombaan—bukan karena Allah membenci dunia, tetapi karena manusia mudah tertipu oleh gemerlapnya. Dalam kacamata sufistik, dunia bukan tanah, tubuh, atau materi; dunia adalah segala sesuatu yang membuatmu lupa kepada Dia yang menciptakan semuanya.

Sementara itu, akhirat hadir dalam Al-Qur’an sebagai lawan dari dunia bukan secara ruang, tetapi secara nilai dan kedalaman. Akhirat berarti “yang lebih tinggi dan lebih akhir”, sebuah isyarat bahwa kehidupan sejati bukan yang sekarang disentuh mata, tetapi yang kelak tersingkap bagi hati. Akhirat bukan hanya tentang hari kebangkitan, tetapi tentang hakikat yang tak berubah. Jika dunia adalah bayangan, maka akhirat adalah cahaya.

Jika dunia adalah mimpi, maka akhirat adalah terbangunnya kesadaran.
Hubungan dunia–akhirat dalam Al-Qur’an bukan hubungan dua tempat, tetapi dua tingkat kesadaran. Dunia adalah tempat bergerak; akhirat adalah tempat melihat. Dunia adalah ruang amal; akhirat adalah ruang pengungkapan. Banyak orang hidup hanya untuk dunia karena dunia tampak “lebih dekat”, padahal kedekatan itu semu.

Sementara arif billah memandang dunia sebagai arena latihan batin: setiap kejayaan menguji kerendahan hati, setiap musibah mengasah kedewasaan, setiap pertemuan mengingatkan pada perpisahan, dan setiap perpisahan mengisyaratkan kembalinya manusia kepada Sang Kekal.

Dalam jurnalisme spiritual, realitas dunia hari ini dapat dibaca sebagai babak besar di mana manusia diuji: kekuasaan diuji oleh amanah, harta diuji oleh rasa cukup, pikiran diuji oleh kejujuran, dan hati diuji oleh keteguhan. Bencana, krisis moral, dan hiruk-pikuk peradaban modern bukan hanya peristiwa sosial-ekonomi, tetapi juga tanda-tanda yang mengingatkan bahwa dunia tetap dunia: berubah, fana, dan penuh godaan.

Namun Al-Qur’an tidak meminta manusia membenci dunia. Justru dunia adalah tempat menanam benih akhirat. Dunia yang baik adalah dunia yang menjadi jembatan menuju Allah. Dunia yang buruk adalah dunia yang menutup mata dari-Nya.

Dunia adalah tangga; akhirat adalah atap yang dituju. Yang menentukan bukan dunia itu sendiri, melainkan cara manusia memandang dan memperlakukannya.
Pada akhirnya, dunia dan akhirat bukan dua realitas yang bermusuhan, tetapi dua bab dari satu kitab besar bernama kehidupan. Dunia mengajar manusia tentang keterbatasan; akhirat mengungkapkan makna dari semua keterbatasan itu. Dunia memberi waktu; akhirat memberi jawaban. Dunia memberi kesempatan untuk mengenal; akhirat memberi kesempatan untuk menyaksikan.***

Dan siapa pun yang mampu melihat dunia dengan mata akhirat, dialah yang telah menemukan cahaya ma‘rifat yang dicari para pencari kebenaran sejak dulu hingga kini.***

Editor : Aab Abdul Malik

(Dul)

Latest Posts

spot_imgspot_img

Don't Miss

Stay in touch

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.