Oleh: Siti Ratna Maymunah/CEO Wartain.com
Wartain.com – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober menjadi pengingat bahwa ideologi negara pernah berada di ujung tanduk. Dalam konteks kekinian, ancaman terhadap Pancasila tidak lagi berupa senjata, melainkan disinformasi, hoaks, dan polarisasi di ruang digital. Di sinilah pers modern memegang peran kunci.
Jika pada 1965 kesaktian Pancasila diuji oleh gerakan pemberontakan fisik, hari ini kesaktiannya diuji oleh banjir informasi. Pers modern dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga menjaga akal sehat publik agar tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila.
Pers sebagai Penjaga Sila Pertama dan Kedua: Kemanusiaan dan Toleransi
Pers modern yang berlandaskan Pancasila tidak menyebarkan kebencian berbasis SARA. Di tengah algoritma media sosial yang memancing emosi, pers dituntut menghadirkan jurnalisme yang beradab, menghormati martabat manusia, dan menjadi jembatan toleransi, bukan pemicu konflik.
Pers sebagai Pengawal Sila Ketiga: Persatuan, Bukan Perpecahan
Hari Kesaktian Pancasila menegaskan pentingnya persatuan. Pers modern tidak boleh terjebak menjadi alat propaganda kelompok yang memecah belah. Fungsi pers adalah mempersatukan melalui informasi yang berimbang, mengedepankan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan.
Pers sebagai Praktik Sila Keempat: Demokrasi dan Kontrol Sosial
Pancasila menjunjung musyawarah dan demokrasi. Pers modern adalah pilar keempat demokrasi yang menjalankan fungsi check and balances. Peringatan 1 Oktober mengingatkan pers untuk berani mengkritik kekuasaan dengan data, bukan fitnah, serta memberi ruang dialog yang sehat bagi publik.
Pers sebagai Perwujudan Sila Kelima: Keadilan Informasi
Kesaktian Pancasila juga bermakna keadilan sosial. Dalam dunia pers modern, keadilan itu berarti keadilan akses informasi. Pers harus berpihak pada kepentingan publik, memberikan suara kepada yang tidak bersuara, dan melawan ketimpangan informasi antara pusat dan daerah, antara elite dan rakyat kecil.
Di era digital, tantangan pers modern semakin berat. Kecepatan sering mengalahkan keakuratan. Clickbait mengalahkan kedalaman. Namun, semangat Hari Kesaktian Pancasila mengajarkan satu hal: kebenaran pada akhirnya akan menang.
Pers yang setia pada Pancasila adalah pers yang merdeka dan bertanggung jawab. Merdeka untuk mencari fakta, bertanggung jawab untuk tidak menyebarkan kebohongan. Itulah bentuk kesaktian pers di zaman modern.
Memperingati Hari Kesaktian Pancasila bersama dunia pers modern berarti meneguhkan kembali komitmen: Pancasila tidak hanya sakti di buku sejarah, tetapi sakti dalam setiap berita yang jujur, adil, dan mempersatukan Indonesia.***
Editor: Aab Abdul Malik
(Dul)
