Oleh: Dadang Sahroni/Warek I UMN Sukabumi & Presidium MD KAHMI Sukabumi
Wartain.com – Setiap tanggal 1 Juni, kita memperingati Hari Lahir Pancasila. Bagi dunia pendidikan, hari ini bukan sekadar seremoni upacara. Ini momentum untuk bertanya: sejauh mana Pancasila benar-benar hidup di ruang kelas, laboratorium, dan kampus kita.
Dadang Sahroni, Wakil Rektor I Universitas Madani Nusantara (UMN) Sukabumi dan Presidium MD KAHMI Sukabumi, meyakini bahwa Pancasila adalah jiwa pendidikan nasional. Tanpa Pancasila, pendidikan hanya mencetak otak cerdas tapi kehilangan arah moral.
Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengingatkan kampus untuk tidak melahirkan cendekiawan yang sombong ilmu. Pendidikan harus menumbuhkan adab dulu, baru ilmu. Karena bangsa ini butuh sarjana yang takut Tuhan, bukan hanya pintar teori.
Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menuntut dunia pendidikan menolak segala bentuk kekerasan, bullying, dan diskriminasi. Kampus harus jadi rumah kedua yang paling aman. Mahasiswa belajar beradab sebelum mereka terjun ke masyarakat.
Sila ketiga, Persatuan Indonesia, adalah jawaban atas tantangan polarisasi hari ini. Di UMN Sukabumi dan kampus lain, ruang kelas harus jadi laboratorium toleransi. Beda suku, agama, dan pilihan politik boleh, tapi ukhuwah dan Bhinneka Tunggal Ika harus di atas segalanya.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, relevan sekali dengan cara kita belajar. Pendidikan bukan transfer data satu arah. Mahasiswa harus dilatih berpikir kritis, berani berdiskusi, tapi tetap beretika. Demokrasi dimulai dari cara kita berdebat di kelas.
Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, jadi PR terbesar dunia pendidikan. Akses pendidikan yang adil, beasiswa untuk anak kurang mampu, dan kampus yang peduli pada UMKM sekitar. UMN Sukabumi terus berikhtiar agar tidak ada anak bangsa yang tertinggal karena masalah ekonomi.
Tantangan zaman makin kompleks: AI, hoaks, dan budaya instan. Di sinilah Pancasila jadi kompas. Teknologi boleh maju, tapi jangan sampai mengikis rasa kemanusiaan. Mahasiswa harus jadi agent of change yang menguasai teknologi, tapi hatinya tetap Indonesia.
Peran dosen dan guru juga bergeser. Kita bukan lagi “dewa pengetahuan”. Kita adalah fasilitator yang menanamkan nilai Pancasila lewat keteladanan. Kalau dosennya disiplin, jujur, dan peduli, mahasiswanya akan meniru. Pendidikan karakter tidak bisa di-zoom, harus diteladani.
Sebagai bagian dari KAHMI, kami percaya alumni punya tanggung jawab besar. Setelah lulus, jangan hanya jadi profesional hebat. Jadilah warga negara yang mengamalkan Pancasila di kantor, di keluarga, di komunitas. Karena Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai kalau lulusannya punya integritas.
Hari Lahir Pancasila harus jadi pengingat bagi seluruh civitas akademika: mari kita jadikan kampus sebagai tempat menyemai nilai-nilai luhur bangsa. UMN Sukabumi berkomitmen mencetak lulusan yang cerdas, berakhlak, dan cinta tanah air. Selamat Hari Lahir Pancasila. Merdeka Belajar, Berjiwa Pancasila!(***)
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
