Wartain.com || Hidup dan setiap langkah hilanglah jatah. Menikmati hidup, nikmat di dunia. Jangan takut mati, karena pasti terjadi. Setiap insan pasti mati, hanya soal waktu._
Bait lagu yang menyentuh kalbu. Suara lirih nyanyian sang legenda Acil Bimbo.
Menjelang tengah malam tadi, Acil Bimbo (82 tahun) wafat dalam perawatan sakitnya di RSHS Bandung. Bernama lengkap Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah, SH, S.Kn. Kelahiran 20 Agustus 1943. Alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) 1974 dan program studi Notariat Universitas Parahyangan (Unpar) 1994.
Kepergiannya meninggalkan sejuta cerita dan kenangan. Karya dan dedikasinya dalam dunia musik Indonesia sungguh melegenda.
Pelantun lagu dengan petikan gitar, bass gitar hingga seruling — Acil bersama tiga bersaudara dalam popularitas grup Bimbo. Sejumlah karya musik balada yang tak lekang oleh waktu dalam rentang lebih separuh abad.
Lagu bertajuk _Rindu Kami Padamu Ya Rasul_ yang dirilis tahun 1980an tak pernah surut diputar. Terdengar syahdu pada sepanjang bulan Ramadhan di hampir semua siaran radio dan televisi. Liriknya karya sastrawan sohor, Taufik Ismail.
Penulis mengenal Acil, selepas 1970-an. Saat masih bernama Trio Bimbo yang lahir 1966. Terinspirasi performa lagu “balada” ala Beegees dan Everly Brothers. Trio ini berubah kostum sebagai (grup) Bimbo, menyusul adik kandungnya — Iin Parlina bergabung mulai 1971.
Dalam perjalanan Bimbo, diwarnai karya cipta Iwan Abdulrachman (Abah Iwan). Antara lain bertajuk _Melati dari Jayagiri_. Tercatat pula musisi Indra Rivai yang berkontribusi pada kiprah awal Bimbo. Memainkan piranti _keyboard_ dan _mini moog synthesizer_.
Trio Bimbo menapaki tangga popularitas, sedari era radio siaran swasta. Saat masa “jadul” radio dengan gelombang menengah atau MW (medium wave). Jauh sebelum teknologi audio stereo lewat gelombang FM _(frequency modulation)_. Anak tangga jenjang radio swasta yang ditandai munculnya kelompok penggemar atau _fans club_.
Kala itu kurun 1980an, dikenal Bimbo Fans Club (BFC) yang digagas Radio Ganesha. Sebuah pentas mini disiapkan di depan studionya di Jl. dr. Slamet, Cipaganti/Cihampelas, Bandung. Popularitas Bimbo menanjak, merambah pentas musik Kota Bandung hingga menasional.
Bimbo pun larut dalam perkembangan teknologi musik yang menyertai popularitasnya. Almarhum Acil pernah menemui penulis pada 1982. Memperkenalkan teknologi _minus one_ yang pengen dipublikasikan lewat koran _PR_. Adalah musik yang diformat sebagai pengiring audio (vokal).
Grup Bimbo adalah pionir _minus one_ untuk tampilan pentas. Dalam sejumlah pertunjukan musik, personel Bimbo cukup menyelaraskan vokalnya. Teknologi yang kemudian berkembang dengan sebutan karaoke.
Belakangan, almarhum Acil kerap tertangkap layar di sejumlah forum diskusi. Tak jarang lewat obrolan warung kopi. Kang Acil, sapaannya menjadi narasumber seputar sosial dan lingkungan. Mewarnai agenda elektoral pilkada. Dalam setiap akhir paparannya, almarhum senantiasa berpesan tentang perlunya memelihara kebersamaan warga. Diakhiri nyanyian perjuangan lewat vokalnya yang khas Bimbo.
Selamat jalan, Kang Acil.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
