Wartain.com – Lapangan rumput Devon Club jadi saksi kebangkitan Janice Tjen. Sehari setelah tersingkir di tunggal, petenis Indonesia itu justru meledak di ganda. Berpasangan dengan Eudice Chong, Janice menggulingkan unggulan kedua Jasmine Paolini/Sara Errani 7-6 6-3, Rabu 24 Juni 2026 dini hari WIB.
Lawan yang dihadapi bukan kaleng-kaleng. Paolini/Errani adalah pasangan Italia yang sudah mengoleksi gelar Grand Slam ganda. Status unggulan 2 Eastbourne Open WTA 250 membuat Janice/Eudice datang sebagai underdog.
Tapi status itu tak membuat Janice gentar. Set pertama langsung disuguhi perang servis. Kedua kubu saling patah, saling kejar. Tak ada yang mau mengalah sampai skor 6-6 dan laga harus ditentukan lewat tiebreak.
Di tiebreak, mental juara Janice/Eudice keluar. Mereka bermain lebih disiplin, minim error tidak perlu. Tujuh poin terakhir jadi milik pasangan Indonesia-Hong Kong itu. Set pertama ditutup 7-6 dengan 7-2 di tiebreak.
Kemenangan set pembuka seperti melepas kunci. Masuk set kedua, Janice/Eudice langsung menekan. Break cepat di game ketiga membawa mereka unggul 3-1. Chemistry keduanya makin padu, komunikasi di net makin cair.
Paolini/Errani sempat coba bangkit, tapi Janice/Eudice sudah telanjur panas. Servis pertama Janice/Eudice jalan 76 persen. Dua ace dicetak di momen penting. Keunggulan 3-1 itu terus dijaga sampai set kedua selesai 6-3.
Statistik memang mencatat double fault lebih banyak dari lawan. Tapi Janice/Eudice menutupinya dengan poin-poin krusial. Setiap kali ditekan, mereka punya jawaban. Itu bedanya laga kali ini.
Bagi Janice, kemenangan ini terasa seperti obat luka. Di sektor tunggal sehari sebelumnya, ia harus mengakui keunggulan Caty McNally AS dalam duel tiga set lebih dari tiga jam. Kalah di tunggal, bangkit di ganda.
Lapangan rumput memang menuntut adaptasi cepat. Pantulan bola rendah, reli pendek, dan footwork harus presisi. Janice/Eudice terlihat sudah menemukan ritmenya di Eastbourne, berbeda dengan awal-awal musim rumput.
Hasil ini meloloskan Janice/Eudice ke perempat final. Lawan yang menanti adalah Isabelle Haverlag/Maia Lumsden. Pasangan Inggris-Belanda itu juga menang meyakinkan di babak pertama, jadi duel 8 besar dipastikan tidak mudah.
Jika melihat tren, Janice/Eudice punya modal kepercayaan diri tinggi. Menumbangkan unggulan 2 di babak awal memberi efek domino: lawan selanjutnya akan lebih mewaspadai mereka.
Eastbourne memang panggung pemanasan jelang Wimbledon. Tapi bagi Janice, setiap kemenangan punya arti. Dari keterpurukan di tunggal, ia membuktikan diri masih bisa bersinar. Sekarang, targetnya jelas: lanjutkan kejutan sampai partai puncak.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
