Oleh : Dzikri Nur/Pengamat Sosial Keagamaan
Wartain.com || Dunia hari ini tak kekurangan dalil, tapi kehilangan nurani. Gaza tak sedang bertanya di mana Tuhan, tapi di mana manusia. Ketika anak-anak dirampas dari pelukan ibunya, ketika masjid diratakan oleh bom, ketika langit dipenuhi teriakan takbir dan tangis bersamaan—kita tahu, ini bukan hanya konflik geopolitik. Ini adalah ujian besar peradaban: apakah masih ada ruh dalam tubuh umat manusia?
Dan pada saat ruh diam, maka tubuh-tubuh yang masih punya hati akan terpaksa berbicara dengan cara terakhir: perlawanan.
Yang Mengangkat Pedang karena Cinta
Ayatollah Sayyid Ali Khamenei bukan seorang jenderal biasa. Ia seorang ulama, marja’, dan imam ruhani yang sejak revolusi Iran berdiri teguh dalam satu prinsip:
“Selama ada satu anak yang dibunuh oleh Zionis, maka diam adalah pengkhianatan terhadap agama dan kemanusiaan.”
Banyak bertanya: kenapa pemimpin seperti beliau—sudah sepuh, lelah, dan tahu resiko—justru memilih berdiri di barisan depan menghadapi Israel? Jawabannya sederhana:
Karena jika seorang Imam tetap diam, maka siapa lagi yang akan membela Gaza yang dilupakan?
Ini bukan perang karena kebencian, tapi karena cinta yang terluka. Perlawanan bukan karena agresi, tapi karena kesabaran telah mencapai ujungnya.
Ketika Dunia Membisu, Ruhani Harus Bicara
Konflik ini bukan semata perang antar-negara. Ini adalah pertarungan antara jiwa yang masih hidup dan jiwa yang telah mati di dalam kemewahan, politik, dan standar ganda.
Netanyahu bukan hanya seorang politikus sayap kanan. Ia adalah simbol dari proyek kekuasaan kolonial yang didanai oleh sejarah penindasan dan dibungkus oleh retorika keamanan.
Sedangkan Khamenei adalah simbol dari ruh perlawanan, dari jiwa-jiwa yang masih menangis bersama anak-anak Gaza dalam tahajudnya. Menyamakan mereka dalam narasi “kakek lawan kakek”, seperti yang ditulis banyak analis barat, adalah penghinaan terhadap ruh zaman.
Perlawanan adalah Dzikir Terakhir Mereka yang Tersisa
“Barangsiapa tidak marah melihat kezaliman, maka matilah hatinya.” (Hadis Nabi)
Dalam dunia di mana marah menjadi tabu, dan netralitas menjadi kebajikan palsu, Imam seperti Khamenei memilih berdiri, bukan hanya berdoa. Ia tahu:
Bahwa setiap bom yang jatuh di Rafah, dibungkam oleh diplomasi palsu.
Bahwa setiap bayi yang dibunuh, disamarkan oleh data dan statistik.
Dan bahwa Israel tak akan pernah berhenti, selama ruh perlawanan dikutuk sebagai ekstremisme.
Penutup: Jalan Cinta yang Berdarah
Perlawanan Iran hari ini bukan tentang Syiah atau Sunni. Bukan tentang kekuasaan regional. Tapi tentang satu hal yang hilang dari dunia: keberanian untuk berkata tidak pada kezaliman.
Jika hari ini seorang Imam sepuh harus mengangkat pedang, itu bukan karena ia mencintai perang. Tapi karena dunia telah kehilangan cinta yang membuatnya melawan.
Dan bila tidak ada lagi yang berani bicara, maka biarlah satu ruhani, dengan seluruh kelemahan raganya, menjadi saksi bahwa manusia belum sepenuhnya mati.***
Foto : Ilustrasi
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
