Wartain.com – Frasa “kecelakaan dan kematian adalah takdir yang tidak bisa dihindari” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Kalimat ini terdengar pasrah, tapi juga membawa ketenangan bagi sebagian orang yang berusaha menerima kenyataan hidup.
Dalam banyak tradisi agama, kematian memang dipahami sebagai sesuatu yang sudah ditetapkan waktunya. Manusia bisa berencana, bisa berusaha, tetapi ujungnya tetap kembali pada ketentuan yang berada di luar kendali. Pandangan ini membantu seseorang menerima kehilangan tanpa merasa perlu menyalahkan diri sendiri tanpa henti.
Namun, menerima takdir bukan berarti manusia harus berhenti berusaha. Konsep takdir dalam banyak ajaran juga berjalan beriringan dengan ikhtiar. Artinya, manusia tetap diberi ruang untuk menjaga diri, mencegah bahaya, dan membuat pilihan yang lebih aman.
Dari sisi sains, kecelakaan jarang terjadi tanpa sebab. Ia biasanya merupakan hasil dari rantai peristiwa: kelalaian, kondisi jalan, cuaca, kelelahan, atau faktor teknis. Memahami sebab-akibat ini membuka ruang untuk pencegahan. Helm, sabuk pengaman, rambu lalu lintas, dan pemeriksaan kesehatan adalah contoh ikhtiar nyata.
Di sinilah muncul titik temu antara takdir dan tanggung jawab. Manusia tidak bisa mengontrol semua variabel di dunia, tapi ia bisa mengurangi risiko yang berada dalam jangkauannya. Mengabaikan ikhtiar dengan alasan “sudah takdir” justru bisa berubah menjadi kelalaian.
Secara psikologis, keyakinan bahwa kematian adalah bagian dari siklus hidup membantu mengurangi kecemasan berlebihan. Ketika seseorang menerima bahwa ada hal yang tidak bisa dikontrol, pikiran menjadi lebih tenang. Fokus pun bisa dialihkan pada hal-hal yang masih bisa diupayakan.
Sebaliknya, jika pandangan takdir dipahami secara kaku, ia bisa membuat seseorang menjadi pasif. Sikap “biar saja, toh sudah digariskan” berisiko mengabaikan langkah pencegahan yang sebenarnya bisa menyelamatkan nyawa. Maka penting untuk menjaga keseimbangan.
Filsafat Stoikisme menyebutnya dengan bijak: bedakan antara yang bisa kamu kendalikan dan yang tidak. Kamu tidak bisa mengontrol mobil yang melaju dari arah berlawanan, tapi kamu bisa memilih untuk tidak mengemudi saat mengantuk. Di situlah peran manusia bekerja.
Kecelakaan dan kematian memang tidak bisa dihindari selamanya. Tapi cara kita menjalani waktu sebelum itu tiba sepenuhnya berada dalam kendali kita. Menjaga kesehatan, berhati-hati di jalan, dan menjaga relasi dengan orang lain adalah bentuk penghormatan terhadap hidup itu sendiri.
Pada akhirnya, menerima takdir bukan tentang menyerah, melainkan tentang menemukan ketenangan di tengah ketidakpastian. Dan ikhtiar adalah cara manusia menunjukkan bahwa ia menghargai hidup yang telah diberikan, seberapa panjang atau singkat pun waktunya.***
Editor : Aab Abdul Malik
(Dul)
