Wartain.com – Kemarau panjang mulai memberikan dampak serius terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Sukabumi.
Hingga pertengahan Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat empat kecamatan yang mengalami krisis air bersih.
Keempat wilayah tersebut yakni Kecamatan Cibadak, Cicurug, Cikembar, dan Nyalindung.
Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengatakan kondisi kekeringan di sejumlah wilayah semakin mengkhawatirkan seiring belum turunnya hujan secara merata.
“Hingga pertengahan Juli, tercatat ada empat kecamatan yang melaporkan krisis air bersih cukup ekstrem,” ujar Daeng Sutisna dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026).
Dari empat kecamatan yang terdampak, Cibadak menjadi wilayah dengan kondisi paling parah. Kekeringan dilaporkan terjadi di tiga desa, yakni Desa Cibadak, Sekarwangi, dan Cibatu.
Kondisi terburuk terjadi di Desa Cibatu. Sumur-sumur milik warga dilaporkan telah mengering selama hampir tiga pekan.
“Kondisi paling kritis ada di Cibadak, di mana warga terpaksa memanfaatkan air keruh dari kubangan sungai,” ungkap Daeng.
Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, BPBD Kabupaten Sukabumi terus mengerahkan armada tangki air bersih ke sejumlah titik terdampak.
Distribusi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan dan jumlah warga yang terdampak kekeringan.
“Kami memprioritaskan pengiriman pasokan air ke wilayah-wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi,” jelas dia.
Hingga kini, puluhan ribu liter air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak. Di antaranya, sebanyak 15.000 liter air dikirim ke Kecamatan Cikembar dan 10.000 liter lainnya didistribusikan ke Kecamatan Cicurug.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar menghemat penggunaan air bantuan, mengingat kondisi kemarau masih berlangsung.
“Kami mengimbau masyarakat agar menggunakan bantuan air bersih ini secara bijak dan efisien,” tutur dia.
BPBD Kabupaten Sukabumi masih memantau perkembangan kondisi di sejumlah wilayah dan siap menyalurkan bantuan air bersih apabila laporan kekeringan kembali meluas.***(RAF)
Editor : Aab Abdul Malik
